TAAWUN
TAAWUN
Prof. Dr. Nur Syam, MSi
Ngaji Bahagia itulah yang menjadi motto dari Komunitas Ngaji Bahagia (KNB), yang diselenggerakan oleh Jamaah Masjid A Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya. Pada Selasa, saya mendapatkan kesempatan untuk mengantarkan ceramah interaktif pada jamaah shalat Shubuh. Sebuah kebahagiaan bisa berbagi pengetahuan keislaman yang saya kira tetap menjadi kebutuhan bersama pada KNB Masjid Al Ihsan.
Ta’awun itu artinya saling menolong. Di dalam teks dijelaskan tentang ayat yang berbunyi: “ta’awanu ‘alal birri wat taqwa wala ta’wanu alal itsmi wal udhwan”. Yang artinya: “saling tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa dan jangan tolong menolong dalam kejelekan dan dosa”. Mari kita perhatikan bahwa yang diwahyukan oleh Allah SWT adalah kata birr dan bukan khoir. Kata birr merujuk pada ungkapan kebaikan yang tidak hanya kebaikan di dunia tetapi kebaikan di akhirat. Artinya bahwa yang dilakukan adalah kebaikan yang memiliki basis religiositas. Bukan hanya kepentingan duniawi semata. Tetapi keuntungan ukhrawi. Jadi khoir itu kebaikan tetapi lebih bernuansa duniawi. Tetap ukurannya adalah kebaikan.
Di dalam Islam kata birr, misalnya digunakan untuk birrul walidain atau berbuat baik kepada kedua orang tua berbasis pada kepentingan duniawi dan ukhrawi. Berbuat baik pada orang tua tidak hanya kepentingan dunia yang baik, tetapi juga berbuat baik untuk kepentingan akhirat. Misalnya kala kedua orang tua sudah meninggal atau dalam keadaan masih hidup, maka hendaknya dibacakan surat Alfatihah, atau doa atau bacaan subhanallahil adzim wa bihamdihi. Bacaan-bacaan wirid, doa atau bacaan Alqur’an harus diyakini akan diterima oleh Allah dan pahalanya akan diberikan kepada orang tua. Yakin seperti itu.
Ada tiga hal terkait dengan konsep ta’awun, yaitu: pertama, bertolong menolong dalam ilmu atau ta’awun fil ‘ilmi. Salah satu di antara ciri khas yang mendasari mengenai tolong menolong dalam kebaikan adalah saling menolong dalam ilmu pengetahuan. Kita diminta oleh Allah tidak pelit dalam ilmu. Ilmu yang kita miliki agar bisa disebarkan, bahkan ada sebuah hadits yang menyatakan yang artinya: “barang siapa yang memudahkan jalan menuju ilmu, maka Allah akan memudahkan jalan menuju ke surga”. Jadi ilmu tidak boleh disimpan dan dimiliki sendiri tetapi ilmu itu harus disampaikan agar menjadi pahala. Semua di antara kita memiliki ilmu. Tidak hanya ilmu yang qauliyah, akan tetapi juga yang kauniyah. Bagi seorang da’i, guru atau dosen tentu lebih mudah untuk menolong dalam ilmu, akan tetapi bahwa ada imu yang basisnya adalah ayat-ayat kauniyah, termasuk prilaku manusia yang baik yang bisa menjadi teladan di dalam kehidupan. Orang dapat membaca apa yang dilakukannya, dan orang bisa mencontoh atas apa yang dilakukannya tersebut. Makna dari sabda Nabi Muhammad SAW tentang ballighu ‘anni malau ayatan, bisa dimaknai bahwa menyampaikan ajaran Islam itu tidak selalu dengan menggunakan ayat qauliyah tetapi juga ayat kauniyah. Alam, manusia dan bahkan binatang bisa menjadi bukti keberadaan Allah dan Nabi Muhammad SAW sebagai teladan bagi manusia.
Kedua, manusia tidak bisa hidup sendiri. Di dalam kehidupan seseorang membutuhkan pertolongan orang lain. Coba perhatikan untuk minum saja, manusia memerlukan bantuan orang lain. Jika kita minum air mineral kemasan, coba perhatikan siapa saja yang berada di dalam proses pembuatan air mineral dalam kemasan. Ada pemilik modal, ada para pekerja, ada moda transportasinya, ada kendaraannya, ada pekerjanya dan sebagainya dan baru sampai ke rumah kita dan kita bisa meminumnya. Alangkah panjangnya mata rantai air kemasan itu bisa sampai di tenggorokan kita.
Di dalam konteks inilah manusia harus selalu berusaha untuk menolong. Ada keterbatasan yang nyata di dalam kehidupan. Itulah sebabnya manusia tidak boleh sombong. Di dalam bahasa Jawa disebutkan “sopo siro sopo ingsung”. Merasa dirinya tidak tertandingi. Padahal sesungguhnya tidak ada manusia yang sempurna. Selalu ada kekurangannya. Kurang apa Fir’aun dengan kekuasaannya yang luar biasa, akhirnya tenggelam di laut. Kurang apa Namrud yang kuat dan gagah perkasa, akhirnya tumbang oleh seekor nyamuk. Kurang apa Qarun manusia terkaya pada zamannya, akhirnya terjerembab di bumi karena tanah longsor. Orang yang hebat di dunia tidak mampu melawan takdir kematiannya. Hitler, Mussolini, Michael Jackson, Whitney Houston dan Bruce Lee akhirnya juga harus menerima takdirnya. Siapapun manusia akan mengalami masa remaja, dewasa, tua dan akhirnya wafat.
ketiga, Makanya, janganlah menyombongkan diri karena kita ini bukan siapa-siapa. Jadilah manusia yang membutuhkan manusia lainnya dan juga dapat menolong yang lain. Saling menolong adalah kebutuhan manusia yang hakiki. Jika kita tidak menyadari akan hal ini, maka kita akan berada di dalam kesombongan diri yang tidak tertahankan. Sesungguhnya, manusia merupakan makhluk yang lemah dalam kenyataan fisiknya, meskipun dari aspek intelektualnya memang memiliki kehebatan khusus.
Oleh karena itu kelebihan intelektual sudah selayaknya digunakan untuk kebaikan. Kelebihan tersebut digunakan untuk menyebarkan yang ma’ruf dan memberikan penyadaran agar berbuat dalam kebaikan. Beruntunglah kita semua yang sedikit atau banyak sudah saling menolong dalam kebaikan. Memberikan sedekah, zakat dan infaq meskipun tidak banyak tetapi isntiqamah kita lakukan. Selain itu juga memberikan nasehat untuk beribadah kepada Allah SWT.
Wallahu a’lam bi al shawab.
