• January 2026
    M T W T F S S
    « Dec    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

TAAWUN

TAAWUN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Ngaji Bahagia itulah yang menjadi motto dari Komunitas Ngaji Bahagia (KNB), yang diselenggerakan oleh Jamaah Masjid A Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya. Pada Selasa, saya mendapatkan kesempatan untuk mengantarkan ceramah interaktif pada jamaah shalat Shubuh. Sebuah kebahagiaan bisa berbagi pengetahuan keislaman yang saya kira tetap menjadi kebutuhan bersama pada KNB Masjid Al Ihsan.

Ta’awun  itu artinya saling menolong. Di dalam teks dijelaskan tentang ayat yang berbunyi: “ta’awanu ‘alal birri wat taqwa wala ta’wanu alal itsmi wal udhwan”. Yang artinya: “saling tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa dan jangan tolong menolong dalam kejelekan dan dosa”. Mari kita perhatikan bahwa yang diwahyukan oleh Allah SWT adalah kata birr dan bukan khoir. Kata birr merujuk pada ungkapan kebaikan yang tidak hanya kebaikan di dunia tetapi kebaikan di akhirat. Artinya bahwa yang dilakukan adalah kebaikan yang memiliki basis religiositas. Bukan hanya kepentingan duniawi semata. Tetapi keuntungan ukhrawi. Jadi khoir itu kebaikan tetapi lebih bernuansa duniawi. Tetap ukurannya adalah kebaikan.

Di dalam Islam kata birr, misalnya digunakan untuk birrul walidain atau berbuat baik kepada kedua orang tua berbasis pada kepentingan duniawi dan ukhrawi. Berbuat baik pada orang tua tidak hanya kepentingan dunia yang baik, tetapi juga berbuat baik untuk kepentingan akhirat. Misalnya kala kedua orang tua sudah meninggal atau dalam keadaan masih hidup, maka hendaknya dibacakan surat Alfatihah, atau doa atau bacaan subhanallahil adzim wa bihamdihi. Bacaan-bacaan wirid, doa atau bacaan Alqur’an harus diyakini akan diterima oleh Allah dan pahalanya akan diberikan kepada orang tua. Yakin seperti itu.

Ada tiga hal terkait dengan konsep ta’awun, yaitu: pertama,  bertolong menolong dalam ilmu atau ta’awun fil ‘ilmi. Salah satu di antara ciri  khas yang mendasari mengenai tolong menolong dalam kebaikan adalah saling menolong dalam ilmu pengetahuan. Kita diminta oleh Allah tidak pelit dalam ilmu. Ilmu yang kita miliki agar bisa disebarkan, bahkan ada sebuah hadits yang menyatakan yang artinya: “barang siapa yang memudahkan jalan menuju ilmu, maka Allah akan memudahkan jalan menuju ke surga”. Jadi ilmu tidak boleh disimpan dan dimiliki sendiri tetapi ilmu itu harus disampaikan agar menjadi pahala. Semua di antara kita memiliki ilmu. Tidak hanya ilmu yang qauliyah, akan tetapi juga yang kauniyah. Bagi seorang da’i, guru atau dosen tentu lebih mudah untuk menolong dalam ilmu, akan tetapi bahwa ada imu yang basisnya adalah ayat-ayat kauniyah, termasuk prilaku manusia yang baik yang bisa menjadi teladan di dalam kehidupan. Orang dapat membaca apa yang dilakukannya, dan orang bisa mencontoh atas apa yang dilakukannya tersebut. Makna dari sabda Nabi Muhammad SAW tentang ballighu ‘anni malau ayatan, bisa dimaknai bahwa menyampaikan ajaran Islam itu tidak selalu dengan menggunakan ayat qauliyah tetapi juga ayat kauniyah. Alam, manusia dan bahkan binatang bisa menjadi bukti keberadaan Allah dan Nabi Muhammad SAW sebagai teladan bagi manusia.

Kedua, manusia tidak bisa hidup sendiri. Di dalam kehidupan seseorang membutuhkan pertolongan orang lain. Coba perhatikan untuk minum saja, manusia memerlukan bantuan orang lain. Jika kita minum air mineral kemasan, coba perhatikan siapa saja yang berada di dalam proses pembuatan air mineral dalam kemasan. Ada pemilik modal, ada para pekerja, ada moda transportasinya, ada kendaraannya, ada pekerjanya dan sebagainya dan baru sampai ke rumah kita dan kita bisa meminumnya. Alangkah panjangnya mata rantai air kemasan itu bisa sampai di tenggorokan kita.

Di dalam konteks inilah manusia harus selalu berusaha untuk menolong. Ada keterbatasan yang nyata di dalam kehidupan. Itulah sebabnya manusia tidak boleh sombong. Di dalam bahasa Jawa disebutkan “sopo siro sopo ingsung”. Merasa dirinya tidak tertandingi. Padahal sesungguhnya tidak ada manusia yang sempurna. Selalu ada kekurangannya. Kurang apa Fir’aun dengan kekuasaannya yang luar biasa, akhirnya tenggelam di laut. Kurang apa Namrud yang kuat dan gagah perkasa, akhirnya tumbang oleh seekor nyamuk. Kurang apa Qarun manusia terkaya pada zamannya, akhirnya terjerembab di bumi karena tanah longsor. Orang yang hebat di dunia tidak mampu melawan takdir kematiannya. Hitler, Mussolini, Michael Jackson, Whitney Houston  dan Bruce Lee akhirnya juga harus menerima takdirnya. Siapapun manusia akan mengalami masa remaja, dewasa, tua dan akhirnya wafat.

ketiga, Makanya, janganlah menyombongkan diri karena kita ini bukan siapa-siapa. Jadilah manusia yang membutuhkan manusia lainnya dan juga dapat menolong yang lain. Saling menolong adalah kebutuhan manusia yang hakiki. Jika kita tidak menyadari akan hal ini, maka kita akan berada di dalam kesombongan diri yang tidak tertahankan. Sesungguhnya, manusia merupakan makhluk yang lemah dalam kenyataan fisiknya, meskipun dari aspek intelektualnya memang memiliki kehebatan khusus.

Oleh karena itu kelebihan intelektual sudah selayaknya digunakan untuk kebaikan. Kelebihan tersebut digunakan untuk menyebarkan yang ma’ruf dan memberikan penyadaran agar berbuat dalam kebaikan. Beruntunglah kita semua yang sedikit atau banyak sudah saling menolong dalam kebaikan. Memberikan sedekah, zakat dan infaq meskipun tidak banyak tetapi isntiqamah kita lakukan. Selain itu juga memberikan nasehat untuk beribadah kepada Allah SWT.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

ADZAB TUHAN UNTUK PARA PENGINGKAR

ADZAB TUHAN UNTUK PARA PENGINGKAR

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Alqur’an itu sesungguhnya penuh dengan penjelasan mengenai konsep reward and punishment. Ganjaran dan hukuman. Banyak ayat Alqur’an yang menjelaskan mengenai adzab dan siksa atau pahala dan siksa. Sebagaimana diketahui bahwa pahala atau ganjaran akan diberikan kepada orang yang beriman, taat dan patuh kepada Allah dan siksa yang diberikan kepada orang yang ingkar akan keberadaan Tuhan dan melawan atas perintahnya. Hakikat pesan Alqur’an itu ada di sini. Manusia setelah diturunkan petunjuknya akan memilih jalan yang mana, jalan kebaikan atau jalan keburukan.

Artikel ini menjelaskan atas orang-orang yang mendapatkan siksaan atau adzab atas keingkarannya kepada Allah dan melakukan tindakan melawan atas perintah Allah melalui Nabi-nabinya atau rasul-rasulnya. Sebagaimana yang dicontohkan di dalam Alqur’an Surat Al Qalam.

Pertama, adzab kepada umat Nabi Nuh. Digambarkan  tentang umat Nabi Nuh yang mendapat adzab dari Allah karena kesombongannya. Di antara kesombongan itu adalah menantang atas perintah Nabi Nuh untuk percaya dan hanya menyembah kepada Allah SWT. Di dalam cerita mengenai umat Nabi Nuh, Surat Al Qamar menggambarkan tentang dakwah yang dilakukan oleh Nabi Nuh yang tidak mendapatkan sambutan positif. Bahkan dakwahnya diejek sebagai penyampaian kebohongan. Mereka sungguh tidak mempercayai setiap kata yang disampaikan oleh Nabi Nuh. Akhirnya, Nabi Nuh terpaksa berdoa kepada Allah atas suasana dakwahnya. Allah memberikan jawaban atas doa Nabi Nuh dengan akan mengadzabnya dengan banjir besar yang akan menggelamkan kaumnya.

Dalam waktu lama, Nabi Nuh membuat perahu yang super besar  yang akan dijadikan sebagai sarana untuk mengangkut umat yang beriman kepada Allah. Pada waktu Nabi Nuh membuat perahu itulah ejekan kaumnya semakin menjadi-jadi. Dianggapnya Nabi Nuh itu sebagai orang gila. Mereka mengejek sebab mereka berpikir tidak mungkin akan terjadi hujan besar bahkan banjir. Tetapi janji Allah harus benar dan tetap. Jika Allah sudah berjanji pasti tidak akan diingkarinya. Innallaha la yukhliful mi’adz”. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengingkari janji”.

Anak dan Istri Nabi Nuh juga termasuk yang ingkar atas perintah Nabi Nuh untuk masuk ke dalam kapalnya. Mereka akan naik ke gunung yang paling tinggi agar tidak tenggelam, akan tetapi semua yang ingkar atas kebenaran wahyu Nabi Nuh, maka tenggelam. Nabi Nuh terkatung-katung di dalam kapal bersama sejumlah hewan dan orang muslim selama lebih dari tiga tahun. Dan berlabuhlah kapal tersebut di bukit Judd, yang sampai sekarang masih belum ditemukan secara meyakinkan.

Banjir besar itu juga terdapat di dalam Agama Hindu di dalam Kitab Manawa Dharmasastra, bahwa Manu pernah mengalami banjir besar pada zamannya. Artinya, bahwa baik Kitab taurat, Injil maupun Alqur’an memiliki “kesamaan” dalam peristiwa banjir besar di dunia di masa lalu. Dalam analisis crosstext, bahwa peristiwa banjir besar pada zaman Nabi Nuh adalah peristiwa sejarah dan bukan fiksi.

Kedua, adzab Allah yang lain terkait dengan Kaum Ad. Kaum Ad hidup pada zaman Nabi Hud AS. Kaum Nabi Hud ini memiliki perawakan yang besar, seperti raksasa. Kuat dan Tangguh. Mereka memiliki ladang-ladang yang luas sehingga kekayaannya melimpah. Tetapi penyakitnya adalah mengingkari kebenaran ajaran Nabi Hud yang merupakan ajaran agama yang suci dan mentauhidkan Allah SWT. Kenabian Hud dianggap sebagai ajaran yang sesat sebab tidak sesuai dengan keyakinannya untuk menyembah berhala yang diciptakannya sendiri. Mereka mula-mula diadzab dengan kemarau panjang. Pertaniannya gagal dan mereka menjadi miskin. Akan tetapi keingkarannya kepada Allah sama sekali tidak berkurang. Sampai Allah kemudian menciptakan awan hitam pekat yang dikiranya justru akan terjadi hujan. Nabi Hud memperingatkan mereka akan tetapi peringatan tersebut diabaikannya, sampai kemudian berhembus angin kencang atau disebut rihun sharsharun atau angin puting beliung yang membawa awan panas. Punahlah kaum Ad kecuali yang mempercayai kebenaran ajaran Nabi Hud AS.

Ketiga, umat Nabi Luth yang diadzab Tuhan karena kedurhakaannya kepada Allah. Tetapi yang lebih menyakitkan bahwa mereka mengejek dan menghina secara terang-terangan atas perintah nubuwah Nabi Luth. Di dalam Alqur’an disebut sebagai kaum Tsamud. Mereka melakukan perbuatan yang sangat bertentangan dengan ajaran kewahyuan Nabi Luth. Mereka melakukan seksualitas sesama jenis. Di kenal dua kota sebagai pusat homoseksual pada zamannya, yaitu Kota Gomorah dan Sodom. Istilah sodomi adalah sebuah istilah yang dikaitkan dengan peristiwa atau perilaku umat Luth yang menyukai sesama jenis.

Akibat perbuatannya yang melanggar batas tersebut,  maka Allah menurunkan adzabnya. Diceritakan bahwa pada suatu ketika rumah Nabi Luth didatangi oleh malaikat dengan rupa yang sangat tampan. Kepada istrinya, Nabi Luth melarang bercerita tentang dua tamunya tersebut. Akan tetapi oleh istrinya justru diceritakan kepada orang lain, sehingga rumah Nabi Luth didatangi oleh banyak pelaku sodomi. Akibat tindakan istrinya itu, maka pada saat adzab Allah menimpa kaum Tsamud, maka istrinya juga terkena akibatnya. Ada sebuah patung yang diyakini sebagai jasad  istri Nabi Luth yang membatu. Selain itu juga ditemukan beberap bukti tentang tindakan kaum Tsamud yang melakukan percintaan sesama jenis.

Kaum Nabi Luth dikenai adzab yang berupa shaihatan wahidah atau suara keras yang mengguntur. Suara itu merupakan suara yang sangat memekakkan telinga dan dapat merusak atas kulit dan membakar daging dan tulang-tulang manusia.

Semua ini dijelaskan kepada umat Muhammad SAW agar menjadi peringatan tentang peristiwa masa lalu yang menyedihkan. Meskipun peringatan itu sangat jelas, akan tetapi tetap ada Sebagian orang yang tidak percaya atau mengingkari kebenaran Alqur’an. Mereka yang kafir itulah yang akan mendapatkan siksa di akherat kelak. Sebaliknya orang yang mempercayainya dan melakukan amal perbuatan yang baik, maka Allah akan mengganjarnya dengan kenikmatan di surga.

Wallahu a’lam bi al shawab.

TUHAN YANG MENCIPTA DAN MEMELIHARA

TUHAN YANG MENCIPTA DAN MEMELIHARA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Di dalam pembahasan tentang Tuhan, maka ada beberapa pandangan, yaitu Politheisme atau Tuhan itu banyak, ada Pantheisme atau Tuhan ada pada semua benda di dunia, ada Deisme atau Tuhan mencipta tetapi lepas tangan, ada Atheisme atau tanpa Tuhan dan ada Theisme atau Tuhan yang mencipta dan memelihara.

Saya akan membahas tentang Tuhan yang mencipta dan memelihara atau disebut sebagai Theisme, yaitu suatu pandangan bahwa Tuhan tidak hanya menciptakan alam dan seisinya  akan tetapi juga memelihara alam dan seisinya. Tuhan itu pengetahuan tertinggi tanpa ada yang menyaingi dan penguasa tertinggi tanpa ada yang menyaingi. Tuhan itu omniscience dan omnipotence atau Maha Mengetahui dan Maha Kuasa.

Di dalam Islam terdapat doktrin teologi uluhiyah dan teologi rububiyyah. Teologi uluhiyyah terkait dengan yang Maha  Tunggal  dalam peribadahan dan teologi rububiyyah terkait dengan Tuhan sebagai pencipta dan pemelihara. Inilah yang dapat dinyatakan sebagai pemahaman theisme. Tuhan tidak hanya menciptakan akan tetapi juga memelihara alam. Artinya Tuhan tidak istirahat setelah menciptakan alam dan seisinya, akan tetapi masih aktif dalam proses pemeliharaan alam.

Islam tidak memisahkan keduanya. Tuhan Yang Uluhiyyah dan Yang Rububiyyah. Keduanya menjadi kata kunci di dalam kayakinan umat Islam, sebagaimana ajaran Islam yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Tauhid Uluhiyyah sebagaimana di dalam Alqur’an dinyatakan: “wa ma khalaqtul jinna wal insa illah liya’budun”,  yang artinya: “dan tidak diciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah”. Ini yang dapat dikaitkan dengan konsep uluhiyyah atau Tuhan sebagai sesembahan Tunggal yang tidak disyarikatkan dengan apapun. Sebagai orang Mu’min tentu harus meyakini dengan sepenuh hatinya tentang keesaan Tuhan ini. Di dalam Alqur’an dinyatakan: “La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadh dhalimin”.  Yang artinya: “tidak ada Tuhan kecuali Engkau, maha Suci Engkau sesungguhnya aku termasuk orang yang dhalim”. Ini merupakan doa yang dilantunkan oleh Nabi Yunus AS yang meninggalkan umatnya dan di dalam perut ikan Nabi Yunus berdoa kepada Allah dan kemudian diselamatkan. Tauhid uluhiyyah meminta kepada manusia untuk pasrah sepenuhnya hanya kepada Allah saja kita menyembah. Tidak ada yang lain.

Tauhid rububiyyah terkait dengan tauhid penciptaan dan pemeliharaan alam. Alqur’an menjelaskan tentang hal ini. Di dalam Surat Alfatihah dijelaskan tentang Tuhan Yang mencipta dan memelihara alam, Tuhan yang Maha Rahman dan Rahim, Tuhan Yang memiliki seluruh alam dan Tuhan yang menjadi tempat utuh untuk beribadah dan memohon segalanya.  “Alhamdulillahi rabbil alamin, ar Rahmanir Rahim, maliki yaumid din”. Yang artinya: “segala puji bagi Allah yang menciptakan dan memelihara alam, yang Maha Rahman dan Rahim, yang memiliki hari akhir”.

Nabi Ibrahim AS sebagai Bapak Agama Monoteisme telah mengajarkan akan keesaan Allah. Nabi Ibrahim yang mendekonstruksi atas keyakinan manusia akan Tuhan yang disimbolkan dengan patung-patung. Misalnya ada patung Al Lata, Al Uzza dan Al Manat. Tuhan dilambangkan dengan patung ayah, ibu dan anak. Penafsiran atas Tuhan ini bisa jadi masuk akal pada zamannya, di kala manusia ingin mengekspresikan Tuhan dalam bahasa yang dengan mudah diterima oleh manusia kala itu. Mereka memberi sesaji dan segalanya atas lambang Tuhan. Baginya dengan memberikan sesaji kepada benda-benda tersebut, maka Tuhan akan menyenanginya.

Jarak antara Nabi Ibrahim dengan penguasa penduduk Mekkah dan masyarakatnya menyebabkab terjadinya bias tafsir. Jika menggunakan kalkulasi sederhana bahwa Nabi Adam hidup 10.000 tahun sebelum Masehi, kemudian Nabi Sholeh kira-kira 5.000 tahun sebelum masehi, maka Nabi Ibrahim kira-kira 2.050 tahun sebelum Masehi. Jarak antara kehadiran Nabi Muhammad SAW dengan Nabi Ibrahim kira-kira 1.400 tahun, maka sangat memungkinkan terjadinya  bias atas tafsir agama yang hanif atau agama monoteisme sebagaimana yang diperintahkan oleh Nabi Ibrahim.

Agama Yahudi juga sudah mengalami bias tafsir, demikian pula Agama Nasrani juga mengalami bias tafsir. Memang masih didapatkan teks-teks asli di dalam agama-agama dimaksud, akan tetapi penafsiran yang melenceng dari teksnya tentu bisa saja terjadi. Tuhan yang semula Maha Esa, lalu digambarkan dengan patung-patung yang menggambarkan relasi Bapak, Ibu dan anak. Al Lata, Al Uzza dan Al Manat. Juga terdapat tafsir perihal  Tuhan Bapak, Tuhan Anak dan Ruh Kudus. Di dalam Yahudi juga ada keyakinan bahwa Orang Yahudi adalah anak-anak Tuhan. Sebagaimana keyakinan Uzair Ibn Allah. Tuhan di dalam Agama Yahudi disebut sebagai Yahweh.

Islam adalah agama yang menekankan pada monoteisme ketat. Orang yang menyekutukan Tuhan disebut sebagai Orang Musyrik yang menyekutukan Tuhan. Keyakinan rububiyyah dan uluhiyyah tidak berarti menduakan Tuhan, akan tetapi merupakan sifat yang terkait dengan sifat Tuhan,  Yang Maha Pencipta dan Memelihara dan Yang Maha Tunggal dalam peribadahan. Konsep ini berbeda dengan konsep Trimurti yang melambangkan Tuhan Brahma atau pencipta, Wishnu sebagai Tuhan pemelihara dan Syiwa Tuhan yang menghancurkan, meskipun hakikatnya Tuhan dengan ketiga symbol tersebut adalah Tuhan yang Esa. Demikian pula di dalam Trinitas, juga didapatkan Tuhan Bapa, Tuhan Anak dan Ruh Kudus, meskipun dengan tiga perlambangan akan tetapi hakikatnya Tuhan itu Esa.

Para ahli ilmu kalam, menafsirkan bahwa Tuhan memiliki sifat sebagaimana dijelaskan di dalam Alqur’an. Ada yang menyatakan bahwa sifat Tuhan itu ada 20, sebagaimana pandangan Imam Asy’ari,  dan sifat Tuhan itu ada 13, sebagaimana pandangan Imam Al Maturidi. Sekali lagi ini hanya tafsir dan bukan realitas Ketuhanan yang Maha Tak Terhingga. Manusia tidak akan mampu menafsirkan Yang Tak Terhingga tersebut menjadi Terhingga. Allah itu tidak terbilang dan tidak bisa dikuantifikasi.

Tuhan tidak mampu dijelaskan dengan rasio. Sejauh-jauhnya manusia hanya mampu membuat hipotesis bahwa dibalik alam yang teratur dipastikan Ada Akal Agung yang menciptakannya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

MENJAGA KEBAHAGIAAN ARWAH LELUHUR

MENJAGA KEBAHAGIAAN ARWAH LELUHUR

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Menjelang akhir tahun 2025, saya dan keluarga memang sengaja hadir di tempat kelahiran saya di Dusun Semampir, Desa Sembungrejo, Kecamatan Merakurak Tuban. Dan sebagaimana biasa pada Kamis Malam atau disebut sebagai Malam Jum’at diselenggarakan acara tahlilan dan yasinan yang dilakukan oleh para Ibu anggota Jam’iyah Tahlil dan Yasin di Masjid  Raudhatul Jannah, 25/12/25. Sebuah tempat ibadah di depan rumah yang tanahnya adalah tanah wakaf. Demikian pula bangunan masjidnya.

Kepulangan saya ke Tuban bersama keluarga itu disambut kemacetan yang luar biasa. Bisa dibayangkan bagaimana perjalanan dari Surabaya ke Tuban itu terjadi selama enam jam. Pukul 16.00 WIB dari Universitas Airlangga dan sampai di rumah pada pukul 22.00 WIB. Perjalanan terpanjang durasi waktunya dari Surabaya ke Tuban. Untunglah tiga anak Sekolah Dasar, Vika, Arfa dan Echa,  yang bersama saya tersebut dapat bergurau sepanjang perjalanan. Jadi mereka tidak merasa capek di dalam perjalanan panjang yang tidak biasanya itu. Kemacetan di Dupak menjelang masuk jalan Tol sampai keluar Tol Surabaya-Bunder sungguh luar biasa, dan ditambah dengan kemacetan di Lamongan. Komplit kemacetannya. Tetapi tetap saja ada kegembiraan di kala sampai rumah.

Sebagaimana biasanya, jika saya pulang ke rumah dan ada kegiatan keagamaan, maka saya didapuk menjadi penceramah. Karena di dalam nuansa acara tahlilan dan yasinan, maka saya sampaikan ceramah terkait dengan Upaya untuk membahagiakan leluhur kita, terutama keluarga yang sudah wafat. Ada tiga hal yang saya sampaikan di dalam moment berceramah kepada para Ibu anggota Jam’iyah Tahlil, yaitu:

Pertama, melahirkan rasa Syukur kepada Allah, karena hingga hari ini kita semua masih bisa merawat Jam’iyah Yasinan dan Tahlilan yang sudah berdiri semenjak tahun 1990-an. Jarang ada Jam’iyah atau organisasi informal seperti Jam’iyah Tahlil dan Yasin yang bertahan sedemikian lama. Tanpa jeda, tanpa berhenti dalam waktu yang sedemikian panjang. Hujan atau tidak,  sama sekali tidak menjadi penghalang untuk melakukannya.

Saya berkeyakinan bahwa Allah dipastikan meridlai atas penyelenggaraan tahlilan dan yasinan yang kita lakukan. Oleh karena itu pantaslah kita bersyukur kepada Allah karena memiliki medium untuk dapat bersilaturahmi, membaca Fatihah, Yasin dan tahlil untuk keluarga kita khususnya yang sudah wafat. Mari kita meyakini bahwa Allah akan menerima bacaan-bacaan kita dan akan menyampaikannya kepada keluarga kita yang sudah meninggal.

Kedua, yang mendasar lagi adalah kita mendapatkan hidayah dengan tidak usah mencari-cari. Kita bisa menjadi umat Islam tanpa harus bersusah payah sebagaimana  orang lain. Ada orang yang mencari hidayah Allah tetapi tidak mendapatkan dan bahkan menjadi lebih kafir. Menjadi atheis atau orang yang tidak percaya Tuhan.

Kita  tanpa mencari dan langsung bertemu dengan hidayah Allah. Sungguh hal ini merupakan kebahagiaan yang sangat besar. Allah memberikan iman kepada kita karena factor keluarga dan  lingkungan kita. Sedari kecil kita sudah meyakini akan adanya Allah dan semua rukun iman lainnya. Makanya, semenjak kecil kita sudah mengaji atau belajar Alqur’an. Kita sudah melakukan shalat, ikut puasa dan mengeluarkan zakat bagi yang memilki kekayaan.

Pengalaman kita di masa lalu, masa remaja, tentang keberagamaan merupakan contoh bagaimana kita telah mendapatkan hidayah di masa itu. Bisa dibayangkan ada orang yang sudah dewasa baru mendapatkan hidayah Allah, bahkan sampai mati tidak mendapatkan hidayah. Hal ini yang membuat kita harus bersyukur dengan lisan, dengan hati dan dengan amalan kita. Betapa Allah itu menyayangi kita semua.

Ketiga, kita dapat merawat kebahagiaan leluhur kita. Rasa  syukur terkait dengan kemampuan kita untuk mengirimkan doa kepada para leluhur yang sudah wafat. Setiap malam Jum’at kita kirimi bacaan Yasin dan Tahlil dan doa-doa untuk keselamatan leluhur  di alam kubur. Subhanallah. Betapa gembiranya, di kala semua bacaan kita tersebut  diterimanya. Yakinilah bahwa doa, bacaan tahlil, bacaan yasin dan apa saja kalimat kebaikan atau kalimat thayyibah yang kita baca tersebut akan mendapatkan balasan dari Allah SWT. Kita yang membaca mendapatkan pahala, dan semua orang yang dikiriminya akan mendapatkan kebaikan yang kita kirimkan.

Jika seseorang sudah mati, maka yang diharapkannya adalah kiriman doa dan bacaan Alqur’an yang ditujukan kepadanya. Terutama bacaan doa dan bacaan Alqur’an dari anak cucunya. Anak sholeh yang bisa membacakan doa dan bacaan Alqur’an dijamin oleh Allah akan disampaikan pahalanya. Demikian pula orang yang ikut mendoakannya. Yang penting jangan ada keraguan tentang sampai atau tidaknya doa yang dilantunkan oleh umat Islam.

Di dalam doa yang kita lantunkan kepada Allah berbunyi: “rabbana atina fiddunya hasanah wal akhirati hasanah”. Doa yang dinukil dari Alqur’an ini menyatakan dengan kata “kami” atau “kita” dan bukan hanya “aku”. Kebanyakan doa tersebut dibaca untuk kita bukan untuk aku. Makanya, Islam itu mengajarkan “kekitaan” dan bukan “keakuan”. Diri kita  harus dilebur dengan diri orang lain, atau menjadi kita.

Kata “kita” tidak hanya untuk yang mati akan tetapi juga untuk yang hidup. Jika kita membaca doa biasanya ada tambahan kata: “rabbigh firli wali jami’il muslimin wal muslimat wal mu’minin wal mu’minat al ahyai minhum wal amwat”.  Yang artinya: “Ya Allah ampunilah kesalahanku dan para jamaah kaum Muslimin dan muslimat, jamaah mu’minin dan mu’minat yang hidup maupun yang mati”.

Alangkah indahnya doa yang diajarkan oleh Islam, agama yang menyanyangi sesama umat Islam, baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat. Lantunan doa yang harus diyakini akan dikabulkan oleh Allah SWT.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

DOGMA DI DALAM AGAMA

DOGMA DI DALAM AGAMA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) mendapatkan asupan tentang keimanan dalam konteks pemahaman Islam yang ditafsirkan dengan penjelasan-penjelasan yang lebih rasional. Saya memberikan ceramah pada jam’iyah Ngaji Bahagia di Masjid Al Ihsan, Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya, 23/12/2025. Sebagaimana biasa maka ngaji ini diselenggarakan pada ba’da Shubuh yang diikuti oleh para jamaah shalat shubuh.

Islam mengajarkan bahwa ada doktrin agama yang harus dipercayai. Di dalam Alqur’an Surat Al Baqarah dinyatakan:  “Alif Lam Mim. Dzalikal kitabu la raiba fihi hudal lil muttaqin. Alladzina yu’minuna bil ghaibi wa yuqimunash shalata wa mimma razaqnahum yunfiqun”.

Yang artinya: “Alif Lam Mim. Kitab (Alqur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. (Yaitu) mereka yang beriman kepada Allah, melaksanakan shalat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka”.

Ayat ini memberikan gambaran tentang adanya “Kitab” yang di dalamnya tidak terdapat sedikitpun untuk meragukannya. Tidak boleh manusia meragukan isi Kitab tersebut. Di dalam kitab tersebut terdapat petunjuk bagi orang yang meyakini kebenarannya. Di dalamnya terdapat doktrin tentang Keesaan Tuhan  yang berisi kegaiban atau sesuatu yang misterius, sebab tidak mungkin akan dapat dilihat dengan mata dan didengarkan apa yang dinyatakannya, dan tidak bisa merasakan kehadiran fisiknya.

Allah adalah Dzat yang bersifat transenden atau berada di luar diri manusia. Tuhan itu yang menciptakan, menguasai dan memiliki seluruh alam atau tata surya. Bahkan juga pencipta dan pemilik alam dunia dan alam akherat. Orang yang meyakini akan eksistensi Tuhan, maka harus meyakini kegaiban-kegaiban di dalam kehidupan. Ada kosmos dalam wujud mikro kosmos dan makro kosmos. Jagad kecil dan jagad besar. Jagad kecil adalah manusia dan jagad besar adalah tata surya di dalam kehidupan.

Jangan digambarkan bahwa di dalam jagad kecil itu tidak terdapat kompleksitas penciptaannya. Manusia merupakan ciptaan Tuhan yang paling unik. Dinyatakan sebagai sebaik-baik ciptaan. Manusia dibekali dengan kemampuan akal yang luar biasa. Dengan kelebihan akal atau rasio tersebut manusia juga dapat menciptakan sesuatu yang baru yang belum terdapat pada zaman sebelumnya. Manusia memiliki jutaan saraf dengan fungsi sistemik di dalamnya. Saraf otak yang dianggap sebagai pusat berpikir terdapat jaringan saraf sistemik yang saling terhubung. Jika ada informasi yang masuk di dalam otak manusia, maka otak tersebut memiliki saraf yang terhubung dengan gudang inderawi, lalu dipilah mana yang penting dan mana yang tidak. Jika penting maka disimpan di dalam file memory untuk di taruh di gudang penyimpanan. Dan jika informasi tersebut tidak bermanfaat, maka ditaruh di file sampah dan kemudian akan dibuang. Gudang inderawi merupakan gudang yang sangat besar, sehingga bisa menyimpan jutaan informasi yang masuk ke dalamnya dan bisa dipanggil jika diperlukan.

Demikian pula kompleksitas jagad besar atau tatasurya ini. Begitu rumit tetapi teratur. Gususan Bintang di sekitar planet-planet, setiap planet memiliki bulan dengan garis edar yang teratur, sehingga di dalam tata surya tersebut terjadi keteraturan yang luar biasa. Penciptaan alam yang sedemikiran teratur, maka menghasilkan kesimpulan sains bahwa tata surya yang sedemikian rumit tetapi teratur dipastikan tidak terjadi dengan sendirinya. Apakah tata surya terbentuk dari dentuman besar atau big bang atau lainnya, tetapi yang jelas bahwa alam dipastikan ada yang menciptakannya. Dan pencipta atau creator tersebut adalah Tuhan Yang Maha Kuasa, Tuhan Yang Maha Esa.

Kehadiran Tuhan di dalam penciptaan tatasurya tetaplah menjadi misterius. Eksistensi Tuhan tidak dapat dihadirkan bersamaan dengan ciptaannya. Di inilah makna “Kitab” yang berisi dogma yang harus diyakini kebenarannya. Tidak ada penolakan. Tidak ada kata tidak percaya kepada-Nya. Semua manusia harus patuh dan tunduk kepada-Nya. Tuhan menghadirkan diri-Nya melalui atau berwashilah dengan  para nabi dan rasul-Nya. Nabi Muhammad SAW adalah washilah terbesar di dalam kehidupan manusia. Nabi Muhammad adalah representasi kehadiran Tuhan di dunia ini. Nabi Muhammad SAW yang mengabarkan hukum Tuhan kepada manusia. Hukum ketuhanan, hukum kemanusiaan dan hukum kealaman, semuanya dijelaskan oleh Nabi Muhammad SAW. Manusia bisa menalarnya sebab hukum-hukum tersebut dapat dipikirkan. Hanya saja yang sesuai dan  relevan dengan kemampuan manusia untuk menalarnya. Allah meminta kepada manusia untuk memikirkan ayat-ayat kauniyah atau tanda-tanda alam yang akhirnya dapat meyakini akan keberadaan Allah SWT. Manusia tidak memiliki kemampuan berpikir tentang eksistensi Tuhan, maka Tuhan melarang manusia untuk memikirkannya. Jika manusia memikirkan tentang keberadaan Tuhan, maka bisa jatuh kepada atheism atau pandangan yang menyatakan bahwa Tuhan tidak ada. Sebuah pengingkaran atau kekafiran yang dihasilkan dari memikirkan tentang keberadaan Tuhan. Kaum teolog akhirnya terbelah menjadi dua, ada yang tetap percaya kepada Allah dan ada yang mengingkarinya.

Keyakinan tentang adanya Tuhan di dalam berbagai kajian dinyatakan terjadi pada 10.000 tahun sebelum Masehi. Yaitu di kala Adam AS diangkat sebagai khalifah Allah di bumi. Nabi Adam AS adalah manusia pertama yang mendapatkan otoritas kenabian. Nabi Adam AS menjadi pemimpin spiritual bagi keluarganya. Nabi Adam diyakini sebagai kakek moyang manusia yang sempurna seperti sekarang. Hanya tinggi badan, kekuatan fisik dan usianya yang berbeda dengan manusia sekarang. Tinggi Nabi Adam diperhitungkan 60 hasta atau kira-kira 30 meter. Demikian pula umat Nabi Hud. Bisa dinyatakan sebagai makhluk raksasa. Setelah itu lalu tinggi badan manusia semakin mengecil dan seperti sekaranglah keadaannya.

Semua Nabi dan Rasul mengajarkan tentang dogma keagamaan, khususnya Tuhan dan alam gaib lainnya. Semenjak Nabi Adam diajarkan tentang ketauhidan yaitu keyakinan akan keesaan Allah SWT. Lama kelamaan terjadilah penyimpangan akidah. Sampailah kemudian datang Nabi Ibrahim AS untuk mengembalikan keyakinan akan keesaan Allah. Berhala yang bertebaran di Kerajaan Babilonia yang dikuasai oleh Namrudz (2275- 1943 SM) kemudian dihancurkan. Nabi Ibrahim dikenal sebagai Bapak Monotheisme. Melalui Nabi Ibrahim kemudian lahirlah agama-agama besar, yaitu Agama Yahudi, Nasrani dan Islam. Agama Nasrani kemudian terpecah menjadi dua yaitu Agama Katolik dan Kristen Protestan.

Hingga hari ini tidak ada yang mampu memecahkan kemesteriusan Tuhan. Sejauh yang bisa dihasilkan adalah mengamati ciptaannya, melalui kajian sains, dan hasilnya bahwa ada Kreator Agung yang menciptakan dan memelihara alam. Dalil keteraturan alam itulah yang menjadi bukti bahwa Tuhan itu eksis di dalam kehidupan alam secara keseluruhan.

Wallahu a’lam bi al shawab.