• February 2026
    M T W T F S S
    « Jan    
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    232425262728  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

PENDIDIKAN BERBASIS KEBUDAYAAN BANGSA

Ketika terjadi perubahan nomenklatur kementerian dari Kementerian Pendidikan Nasional menjadi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, maka orang yang pertama senang adalah Prof. Daoed Yoesoef, sebab beberapa bulan sebelumnya beliau mengkritik dengan tegas, bagaimana pemerintah memisahkan pendidikan dan kebudayaan dan memasukkan kebudayaan ke dalam kementerian Pariwisata. Beliau mengkritik bahwa memisahkan pendidikan dan kebudayaan adalah sesuatu yang tidak mungkin. Kebudayaan jangan direduksi menjadi produk budaya yang berupa seni, dan sebagainya.
Kebudayaan itu lebih dari sekedar produk budaya, sebab ia merupakan seperangkat pengetahuan yang dijadikan sebagai referensi di dalam melakukan tindakan. Kebudayaan merupakan keseluruhan dari pengetahuan manusia yang dijadikan sebagai pedoman di dalam menginterpretasikan tindakan-tindakannya. Sebagai seperangkat pengetahuan, maka kebudayaan berfungsi sebagai referensi dan interpretasi tindakan. Tidak hanya baik dan buruk, akan tetapi juga tentang keindahan, keadilan, kebahagiaan dan sebagainya yang dapat dirasakan oleh manusia di dalam kehidupannya.
Dengan memasukkan kebudayaan kembali berdampingan dengan pendidikan, maka ajakan untuk membangun pendidikan berkebudayaan akan kembali terajut. Artinya bahwa pendidikan dan kebudayaan memang sesuatu yang tidak bisa dipisahkan, sebab pendidikan adalah proses transformasi kebudayaan yang paling tepat. Kebudayaan tidak akan dapat diwariskan kepada generasi yang akan datang melalui pariwisata, akan tetapi hanya dapat diwariskan melalui pendidikan.
Pendidikan merupakan wahana yang paling tepat untuk mewariskan nilai nilai kebudayaan pada warga bangsa. Pendidikan yang berhasil adalah pendidikan yang tidak mencerabut akar kebudayaan yang selama ini menjadi pegangan dan pedoman untuk melakukan tindakan.
Sekarang ini banyak kita jumpai pendidikan yang tercerabut dari akar kebudayaan bangsa. Banyak pendidikan yang mengejar label internasional, sekolah unggulan dan perguruan tinggi unggulan yang kemudian mencerabutkan dirinya dari akar budaya bangsa dan nilai-nilai kebudayaan yang agung. Pendidikan apapun status dan labelnya harus menjadi wahana bagi pengembangan dan penumbuhan budaya bangsa yang adiluhung.
Di kota-kota besar menjamur lembaga pendidikan yang mengusung label internasional. Dan kemudian menjadi idola masyarakat yang juga sesungguhnya lagi demam dengan kosa kata internasional. Pokoknya kalau ada label internasionalnya, maka dianggapnya sebagai kebanggaan dan harga diri. Jadi, semua beranggapan bahwa kata internasional adalah jaminan bagi yang bersangkutan untuk beridentitas modern dan manusia global.
Kita sungguh merasakan bahwa kata global yang berarti menginternasional sudah menyihir semua masyarakat untuk terlibat di dalamnya. Globalisasi tentu tidak akan bisa dilawan. Kita hanya akan mengikuti dengan pasrah atau sedikit kritis. Sebagai bangsa dengan harga diri yang jelas, maka mestinya kita melakukan kekritisan terhadap semua yang berlabel internasional ini.
Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan menganalisis apakah pendidikan dengan label internasional ini bisa menjadi wahana bagi penumbuhan dan pengembangan nilai budaya bangsa. Jangan sampai sebuah lembaga pendidikan didirikan di Indonesia, akan tetapi kemudian menjadi agen bagi pengembangan budaya asing yang mencerabut masyarakat Indonesia dari budayanya sendiri.
Negara ini harus kuat untuk melakukan tindakan yang seharusnya diambil dalam kerangka menyelamatkan bangsa dan negara ini dari rongrongan dan penetrasi nilai budaya asing yang secara terstruktur dilakukan di negeri ini. Makanya harus ada ketegasan bahwa semua lembaga pendidikan di Indonesia harus menumbuhkan dan mengembangkan budaya Indonesia yang secara terstruktur dan kultur mengembangkan hal tersebut.
Kiranya memang diperlukan usaha secara terencana untuk menjadikan semua pendidikan di Indonesia untuk kembali menjadikan budaya Indonesia sebagai basis dan pigura di dalam pengembangan sumber daya manusia Indonesia yang memiliki jiwa keindonesiaan.
Wallahu a’lam bi al shawab.

Categories: Opini