• February 2026
    M T W T F S S
    « Jan    
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    232425262728  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

KE TURKI: MASJID PROSPEKTIF DI MARMARA UNIVERSITY (4)

KE TURKI: MASJID PROSPEKTIF DI MARMARA UNIVERSITY (4)
Setelah berbincang panjang tentang peluang melakukan evaluasi terhadap program kerja sama antara PTKIN dengan Marmara University, maka saya dan rombongan ditemani oleh Dr. Mehmet Toprak mengelilingi kampus Faculty of Theology pada Marmara University.
Saya diperkenalkan dengan berbagai ruangan di kampus ini. Saya diajak untuk mengagumi tatanan kampus yang prospektif. Misalnya ruangan yang berbentuk theater room. Di dalam ruangan ini didesain untuk perkuliahan dengan system theatrical, dalam arti dosen menjadi pusat perhatian berada di posisi paling bawah dan para mahasiswa bisa mengambil tempat duduk semakin ke belakang semakin tinggi. Seperti nonton opera atau nonton film di Bioskop. Ruangan yang sangat baik, dengan peralatan pembelajaran yang memadai. Ada dua ruangan yang sempat saya lihat dengan model seperti ini, yaitu di gedung perkuliahan dan satu lagi di Masjid Kampus.
Selain itu juga terdapat ruangan untuk perkuliahan biasa, sebagaimana kebanyakan di kampus-kampus kita. Ruangan yang seperti ini, saya kira tidak ada bedanya dengan ruang kuliah pada perguruan tinggi di Indonesia. Hanya saja mungkin sarana prasarananya yang kira-kira sedikit berbeda. Saya misalnya sempat melihat perkuliahan di bidang sosiologi agama di Fakultas Theology ini. Ketepatan yang diajarkan adalah mengenai “Mac Donald Society”, suatu teori ilmu sosial yang digunakan untuk menggambarkan mengenai realitas masyarakat sebagaimana fenomena Mac Donald. Sebuah resto cepat saji yang memberikan sesuatu secara simple, individual dan ingin serba cepat.
Ruang pimpinan tidaklah istimewa. Bahkan lebih sederhana dibandingkan dengan ruangan pimpinan di fakultas atau rektorat di Indonesia. Misalnya di ruangan wakil Dekan, hanya ada meja tamu dan meja pertemuan yang menyatu di dalam ruangan. Demikian pula di ruang Dekan, juga hanya terdapat hal yang sama, cuma saja lebih luas ruangannya. Tentu saja peralatan IT-nya sangat memadai. Jika dibandingkan dengan ruangan Kepala Kantor Wilayah Kemenag tentu jauh lebih sederhana. Rupanya mereka lebih mementingkan ruang pelayanan kepada mahasiswa dalam bentuk ruang-ruang yang bagus ketimbang ruangan pimpinan Fakultas. Dosen memang memiliki ruang dan satu ruang digunakan oleh dua orang dosen. Kelihatannya, seorang Profesor dan doctor.
Kita lalu menuju ke masjid kampus. Kita bisa berbangga dengan masjid kampus pada Fakultas Ilahiyyat ini. Desain masjid sangat prospektif. Jika di kampus Indonesia, masjid hanya digunakan untuk shalat dan kegiatan pengajian atau kegiatan keagamaan lainnya, maka di masjid kampus ini benar-benar multi fungsi. Saya jadi teringat dengan bukunya Sidi Gazalba, yang berjudul “Masjid Sebagai Pusat Ibadah dan Sosial Islam”. Saya agak lupa judulnya, akan tetapi Pak Sidi Gazalba ingin memberikan gambaran bahwa masjid bukan hanya sebagai tempat ibadah akan tetapi juga tempat untuk berbagai gerakan sosial Islam lainnya.
Masjid kampus ini fully didanai oleh masyarakat. Pemerintah hanya mensupport saja. Jadi, tidak ada anggaran pemerintah yang digunakan untuk pembiayaan masjid meskipun Marmara University termasuk kampus negeri. Masjid ini termasuk bangunan baru dan beberapa bangunan sedang dalam penyelesaian. Begitu masuk kita sudah disuguhi dengan ruangan theatrical yang sangat baik dengan peralatan IT dan lain-lain yang sangat memadai. Di lantai ini, maka terdapat beberapa ruangan untuk seminar dan diskusi dalam jumlah tertentu. Tempat shalat berada di tengah-tengah lantai satu dan lantai atas.
Di lantai dua dapat dilihat cafeteria yang cukup besar. Pada saat saya berkunjung ada banyak dosen dan mahasiswa yang sedang menikmati berbagai makanan di cafetarian masjid ini. Bahkan juga sedang ada pertemuan di ruang pertemuan dengan peserta kira-kira 50-60 orang. Masjid ini memang didesain dengan sangat baik, dengan berbagai fungsi yang memadai. Masjid ini sekaligus juga menjadi laboratorium untuk mendalami ajaran Islam. Ada banyak kegiatan yang melibatkan dosen dan mahasiswa untuk mendalami ilmu keislaman di tempat ini. Makanya, ruang-ruang yang banyak jumlahnya di masjid ini tentu digunakan untuk kepentingan pendalaman Islam dimaksud.
Sepengetahuan saya di Indonesia, hanya ada dua masjid di PTKIN yang pembangunannya fully didanai masyarakat, yaitu Masjid Ulul Albab di Kampus UIN Sunan Ampel Surabaya, yang dibangun semasa rektornya, guru saya, Prof. Bisri Affandi. Masjid ini didanai oleh Ibu Toety Azis pemilik Koran Surabaya Post dan masyarakat. Selain itu juga masjid kampus IAIN Raden Intan Lampung. Sesuai dengan penuturan Rektor IAIN Raden Intan Lampung, Prof. Moh. Mukri maka seluruh anggaran untuk membiayai pembangunan masjid kampus ini adalah melalui donatur dari masyarakat. Masjid kampus lainnya, misalnya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Masjid Kampus UIN Sultan Syarif Kasim Riau didanai oleh APBN.
Ke depan, saya kira perlu bermimpi membangun masjid kampus sebagaimana yang terdapat di Fakultas Ilahiyyat pada Marmara University ini. Selain anggarannya didanai oleh masyarakat juga multi fungsi. Jadi memang diperlukan kreativitas untuk membangun bangunan yang monumental di kampus-kampus kita.
Wallahu a’lam bi al shawab.

Categories: Opini
Comment form currently closed..