PELAJARAN DARI SURAT AL QAMAR
PELAJARAN DARI SURAT AL QAMAR
Prof. Dr. Nur Syam, MSi
Senin, 19/01/2026, jamaah Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) mengakhiri tahsinan Surat Al Qamar, yang sudah beberapa lama dipelajari bersama Ustadz Alief Rifqi, yang selama ini membersamai jamaah Komunitas Ngaji Bahagia untuk melakukan pembenahan dalam mengaji Al Qur’an. Jamaah tahsinan ini memang tidak banyak pesertanya, orang-orang khusus, yang memiliki keinginan sedemikian kuat untuk membenahi bacaan Qur’an-nya.
Sebagaimana biasa, kita membaca empat ayat dan diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, ayat demi ayat. Dan setelah itu saya diminta untuk memberikan penjelasan tentang arti secara keseluruhan dari konteks ayat tersebut. Alhamdulillah selama saya tidak pergi keluar kota, maka saya sempatkan untuk hadir bersama jamaah Komunitas Ngaji Alqur’an tersebut.
Pagi tersebut saya menjelaskan tentang makna dan pesan penting di dalam Surat Alqamar. Ada empat hal yang saya jelaskan kepada jamaah Ngaji Bahagia, yaitu: pertama, ayat ini memberikan pelajaran kepada Masyarakat, pada umat manusia, agar belajar dari masa lalu, di mana Allah memberikan adzab atas umat yang tidak mempercayai apa yang disampaikan oleh para Nabi dan Rasul. Mereka adalah orang kafir dan musyrik sekaligus, sebab mereka tidak percaya dengan ajakan para Nabi dan Rasul untuk membenarkan dan melakukan apa yang diinginkan oleh Allah melalui para Nabi dan Rasul, dan mereka kaum musyrik sebab menyekutukan Tuhan dengan benda-benda yang berupa patung-patung yang dibuatnya sendiri dan kemudian disembahnya. Umat Nabi Nuh diadzab dengan banjir bandang yang menerjang seluruh permukaan bumi. Umat Nabi Hud dengan angin topan yang membuat mereka hancur berkeping-keping. Umat Nabi luth yang terkena adzab suara gemuruh yang membuat mereka mati, suara keras yang mengguntur. Suara itu merupakan suara yang sangat memekakkan telinga dan dapat merusak atas kulit dan membakar daging dan tulang-tulang manusia. Dan Fir’aun dan keluarga Fir’aun yang juga mati di telah Samudra di kala mengejar Nabi Musa.
Kedua, Pelajaran tentang pahala dan siksa. Di dalam ayat-ayat pada Surat Alqamar diceritakan tentang balasan bagi orang yang berbuat baik dan siksa bagi orang yang melanggarnya. Mereka yang mempercayai adanya Allah sebagai Dzat yang menciptakan alam semesta dan memeliharanya, dan kemudian melakukan amalan kebaikan sebagaimana pesan agama yang dibawa oleh Para Rasul, maka mereka akan dibalas dengan surganya Allah yang penuh dengan keindahan. Ada air mengalir di bawahnya, ada berbagai kelezatan yang tidak dijumpai di dunia dan segala kebaikan dan kenikmatan yang dirasakannya. Sementara itu, orang yang mengingkarinya maka akan dibalas dengan neraka yang sangat panas, sehingga hancur tulang belulangnya dan kemudian dihidupkan lagi dan terus disiksa seperti itu. Semua menggambarkan akan reward dan punishment bagi manusia berdasarkan atas prilakunya di dunia.
Ketiga, Alqur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW memberikan kemudahan bagi manusia untuk mempercayai kebenarannya dan menjadi pedoman dalam prilakunya. Alqur’an berisi tandzir atau peringatan dan tabsyir atau kegembiraan. Keduanya sudah dijelaskan secara mendalam dan sangat tegas. Maka seharusnya manusia mempercayainya. Hanya sayangnya semenjak semula memang ada orang yang percaya dan ada yang tidak percaya. Ada yang bertipe seperti Abu Jahal dan Abu Lahab yang selalu menentang akan kebenaran Nabi Muhammad SAW dan ada yang bertipe seperti Sayyidina Abu Bakar, Siti Khadijah, Sayyidina Ali yang selalu mempercayai akan kebenaran seruan Nabi Muhammad SAW. Semula ada sebanyak 40 orang yang kemudian disebut sebagai assabiqunal awwalun. Para pemula yang mempercayai kebenaran ajaran Nabi Muhammad SAW.
Keempat, Gambaran tentang orang yang percaya dan melakukan amal kebaikan dan orang yang tidak percaya dan tidak melakukan kebaikan hingga hari ini masih bisa dilihat. Ada orang yang menjalani tipe kehidupan sebagaimana Abu Jahal dan Abu Lahab dan ada orang yang bertipe seperti Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Ali. Gambaran di dalam Alqur’an memberikan penjelasan bahwa manusia selalu terbagi ke dalam dua golongan besar, yang di dalam Alqur’an disebut sebagai asyhabul yamin dan asyhabul syimal. Mereka yang tergolong asyhabul yamin adalah orang yang kelak akan bahagia, dan orang yang tergolong ke dalam asyhabul syimal kelak akan celaka.
Kita semua beruntung, meskipun tidak mampu untuk melakukan amalan Islam secara kaffah sebagaimana para sahabat, tabiin dan tabiit tabiin yang disebut salafus shaleh, akan tetapi kita sudah melakukan ajaran Islam dengan benar. Kita meyakini akan kebenaran keberadaan Allah dan menjalankan apa yang diperintahkan oleh Allah SWT melalui Kanjeng Nabi Muhammad SAW.
Kita sudah menjadi umat Islam yang “amantu billahi tsummas taqim”, atau menjadi orang Islam yang percaya kepada Allah dan menjalani kehidupan dengan kepercayaan tersebut dan mengamalkan ajaran Iman dan Islam dalam kapasitas yang bisa dilakukan.
Mari kita semua optimis atau husnudh dhan, bahwa kita adalah hamba Allah yang kelak akan mendapatkan rahman dan rahimnya Allah SWT. Insyaallah kita akan selamat fid dini, wad dunya wal akhirah.
Wallahu a’lam bi al shawab.
