TASYAKURAN DALAM TRADISI JAWA
TASYAKURAN DALAM TRADISI JAWA
Prof. Dr. Nur Syam, MSi
Salah satu yang masih mengikat di dalam relasi antar tetangga di perkotaan adalah silaturahmi. Dan salah satu fasilitasnya adalah masjid yang menjadi tempat bersama untuk mengekspresikan keyakinan keagamaan. Masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah tetapi juga untuk kegiatan social lainnya. Masjid menjadi tempat untuk memenuhi kebutuhan keagamaan dan social sekaligus. Di antara kebutuhan social adalah untuk saling menyapa dan bergembira bersama. Ekspresi relasi social terjadi di rung tempat ibadah.
Kali ini, saya akan mengungkapkan relasi social tetanggaan untuk melakukan tasyakuran bersama di rumah salah seorang anggota Komunitas Ngaji Bahagia (KNB), Pak Suhardi. Beliau adalah jamaah aktif KNB yang selalu hadir dalam acara pengajian Selasanan maupun tahsinan dan ikatan persaudaraan atau silaturahmi yang terbangun secara kultural. Pak Hardi sedang memiliki hajad untuk menikahkan putra dan acara malam itu, 27/01/2026, adalah ungkapan rasa syukur karena telah berhasil menemukan jodoh bagi anaknya. Angga Saputra dan B. Fitriani. Tidak ada kebahagiaan yang melebihi kebahagiaan untuk menjodohkan anak dalam rangka membangun rumah tangga baru. Ekspresi rasa syukur tersebut adalah dengan mengundang anggota KNB, keluarga dan tetangga untuk bersyukur bersama-sama.
Saya mendapatkan tugas untuk memberikan taushiyah atau sekedar ucapan terima kasih atas nama keluarga. Maka, saya sampaikan tiga hal, yaitu:
Pertama, ungkapan rasa Syukur di dalam Islam. Saya mencoba untuk mengedepankan rasa syukur dalam ajaran Islam itu dalam dua hal, yaitu: Syukur dengan sedekah atau tasyakkur bis shadaqah makanan atau saya sebut sebagai tasyakkur bit tha’am atau tasyakuran dengan makanan. Islam sangat mendorong umatnya untuk saling bertolong menolong dengan sedekah makanan. Ath’imuth tha’am. Jadi, manakah amalan yang afdhal atau utama, Nabi Muhammad SAW menyatakan: “afsyus salam, atau menyebarkan salam, shilul arham atau membangun silatur rahim dan kemudian ath’imut tha’am atau memberi makanan”. Jadi memberikan makanan kepada orang lain, apalagi kaum miskin, dan keluarga atau tetangga dekat adalah kebaikan dalam kehidupan bermasyarakat. Jadi bersyukur dengan memberikan makanan adalah sunnah Rasulullah SAW. Hanya caranya yang mungkin bisa berbeda. Ada yang diberikan ke rumah satu persatu, ada yang diberikan sambil silaturahmi pada yang empunya hajad dan ada juga yang menggunakan uang atau barang. Mana saja yang dipilih, tetapi intinya adalah sedekah. Bahkan seseorang bisa bersedekah dengan senyuman atau menyenangkan hati orang.
Bisa juga dalam bentuk memberikan peluang untuk beribadah, seperti membaca shalawat. Ada sejumlah orang yang didatangkan ke rumah untuk bersama-sama membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Jika dilakukan bersama-sama, maka yang menarik adalah di saat membaca shalawat sambil berdiri atau mahalul qiyam, kala berdoa “rabbi faghfirli dzunubi ya Allah, bibarkatil Hadi Muhammad Ya Allah”. “Wahai Tuhanku, ampunilah dosaku Ya Allah, dengan berkah petunjuk Nabi Muhammad Ya Allah”. Di antara ampunan itu diperoleh melalui berkahnya Kanjeng Nabi Muhammad SAW.
Tradisi di perkotaan seperti ini tentu merupakan kelanjutan dari tradisi pedesaan di masa lalu. Maklum bahwa orang-orang yang sekarang menghuni wilayah perkotaan pada dasarnya adalah orang desa yang kemudian menetap di kota dan beranak pinak di wilayah perkotaan. Mereka ini masih menjadikan budaya masa lalu untuk dijadikan sebagai pedoman di dalam kehidupannya. Mereka tidak tercerabut dari akar budaya yang sudah mandarah daging. Jika ada yang tidak melakukannya tentu terpengaruh oleh mereka yang belajar dari budaya dari tempat lain.
Kedua, tradisi di dalam budaya Jawa itu memang sangat variative termasuk tasyakuran yang dilakukan di malam hari ini. Menjelang pernikahan, maka orang Jawa menyelenggarakan upacara selamatan atau tasyakuran. Di masa lalu disebut sebagai selamatan supaya acara yang diselenggarakan berada keadaan selamat, lancar dan sukses. Selamat bagi calon mempelainya, selamat juga bagi keluarganya dan memperoleh berkah dari Allah SWT. Harapan orang Jawa yang tertinggi di dalam kehidupan adalah keselamatan. Lalu karena pengaruh Islam menjadi tasyakuran. Jika keselamatan adalah tujuan finalnya, maka tasyakuran itu instrumennya. Sesungguhnya ungkapan keselamatan itu lebih mendasar dibandingkan dengan kata tasyakuran. Selamat adalah tujuan akhirnya dan tasyakuran adalah tujuan antaranya.
Karena acara ini adalah mengawali acara yang sesungguhnya yaitu acara pernikahan dan kemudian dilanjutkan dengan walimatul arusy, maka saya sampaikan hal yang terkait dengan persiapan mental untuk menjalani pernikahan. Saya mengutip syair lagunya Nayla, yang berbunyi: “kasihi aku karena Allah, sayangi aku karena Allah, cintai aku karena Allah, miliki aku karena Allah”. Betapa indahnya lagu ini.
Orang menikah harus karena Allah. Bukan karena hartanya, kekayaannya, pekerjaannya, keluarganya, dan jabatannya dan sebagainya tetapi harus karena Allah SWT. Jika kita mencintai bukan karena Allah, maka semuanya bisa hilang. Karena factor usia, maka kecantikan, kegantengan dan kekuatan akan hilang. Harta, jabatan, kekuasaan dan kepemilikan akan hilang. Tetapi cinta karena Allah akan terus berlangsung sepanjang hidup.
Ketiga, kita hadir untuk memberikan ucapan selamat kepada keluarga Pak Hardi. Kita semua berdoa semoga keluarga yang akan dibangun akan menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah wa Rahmah. Jadi bukan mawaddah sendiri, rahmah sendiri dan sakinah sendiri, akan tetapi semuanya. Satu kesatuan. Yang diharapkan akan menjadi keluarga yang tenang, penuh cinta dan kasih sayang sampai tua. Sampai akhir hayat. Bismillah.
Petuah seperti ini tidak hanya bagi yang muda yang akan menikah, akan tetapi juga bagi yang sudah lama menikah. Kita semua berharap baik yang muda maupun yang tua mendapatkan berkah atas peristiwa yang kita lakukan malam ini.
Wallahu a’lam bi al shawab.
