• February 2026
    M T W T F S S
    « Jan    
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    232425262728  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

MENGGEMBIRAKAN JASMANI DAN ROHANI

MENGGEMBIRAKAN JASMANI DAN ROHANI

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sudah sewajarnya jika kita bersyukur ke hadirat Allah, karena banyaknya nikmat yang diberikan kepada kita. Tidak terhitung. Nikmat fisik maupun batin. Nikmat fisik terkait masih dapat kita semua merasakan kenikmatan makanan, minuman, jajanan dan buah-buahan. Sedangkan nikmat batin adalah masih diberinya kesempatan kita semua untuk merasakan indahnya beragama Islam sebagaimana yang kita rasakan hari-hari ini.

Ungkapan ini yang saya sampaikan dalam acara tasyakuran walimatul hamli, anak saya Shiefta Dyah Elyusi,  yang bermukim di Bekasi Jawa Barat bersama suaminya Nasrur Rohman dan anak-anaknya, Sahief, Kiva dan Fathan. Acara ini diselenggarakan di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya, Jumat, 30/01/2026 pagi yang diikuti oleh anggota Komunitas Ngaji Bahagia (KNB), dan beberapa peserta para hafidz Alqur’an.

Sebagaimana biasanya, setelah shalat shubuh berjamaah, maka dilakukan acara ngaji Surat Al Kahfi, lalu acara walimatul Hamli, dengan membaca Surat Ar Rahman sampai tuntas, dan beberapa ayat pilihan dari Surat Maryam dan Surat Yusuf. Acara dipimpin oleh Ustadz Alief dan Ustadz Syahwal. Dalam pengantar acara, saya sampaikan tiga hal secara singkat, yaitu:

Pertama, saya merasakan bahwa nikmat Allah kepada saya dan keluarga itu sangat luar biasa. Di antara nikmat itu adalah banyaknya cucu yang hadir di dalam kehidupan saya. Dari tiga anak saya, perempuan semua, Kiki, Eva dan Evi, saya mendapatkan cucu sembilan orang dan akan hadir yang ke sepuluh. Dari yang sembilan orang itu, tiga di antaranya lelaki dan enam perempuan. Jika saya tidak bersyukur, maka nikmat mana lagi yang saya dustakan. Fa biayyi alai rabbikuma tukadzdziban. 

Kita  itu pasti merasa tidak enak kalau tidak bersyukur kepada Allah.  Jika  tidak bersyukur ke hadirat Allah itu rasanya keterlaluan. Bayangkan betapa banyak nikmat Allah yang sudah kita terima lalu kita tidak tergerak untuk mensyukurinya. Orang yang tidak mensyukuri nikmat itu tarmasuk orang kafir. Bukan mengingkari keberadaan Tuhan, akan tetapi mengingkari kenikmatan Tuhan. Dan kita tentu tidak menginginkan kedua-duanya. Bersyukur adalah kelanjutan atas keimanan kita kepada Allah. Jika kita beriman kepada Allah, maka kita harus bersyukur. Mendapatkan iman saja sudah harus bersyukur, sebab banyak orang yang tidak mendapatkan hidayah iman tersebut.

Kita semua ini sudah menjadi orang yang on the track. Sekurang-kurangnya sudah beriman secara full kepada Allah dan mencintai Muhammad SAW secara full juga. Di antaranya adalah selalu melakukan shalat dan membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Dengan shalat dan shalawat, insyaallah kita akan mendapatkan balasan kebaikan kelak di hari akhir. Setiap hari sudah kita lakukan, hanya perlu konsistensi dengan  sedikit lebih berkualitas dan semakin banyak.

Kedua, kita harus membahagiakan fisik dan roh atau jasmani dan rohani. Menggembirakan jasmaniyah dan ruhaniyah. Banyak orang yang beranggapan bahwa manusia hanya terdiri dari jasmani dan ruhani atau badan dan roh. Padahal ada satu lagi yaitu nafs atau nafsu atau jiwa. Roh itu pancaran Tuhan sebab ditiupkan oleh Allah dalam kandungan  seorang Ibu pada usia 4 bulan 10 hari. Dan semenjak itu, gumpalan darah itu memiliki daya untuk bergerak dan bernafas di dalam kandungan ibu. Janin tersebut sudah hidup. Bahkan jika sudah berusia tujuh  bulan maka seorang ibu merasakan janin itu menendang-nendang. Artinya sudah mengalami kehidupan.

Nafsu atau jiwa itu adalah kehendak yang mendorong manusia untuk melakukan atau tidak melakukan atau menunda atau mempercepat. Ia bisa disebut sebagai hati atau qalbun. Segumpal campuran daging, darah dan saraf yang disebut qalbun. Jika qalbun itu baik,  maka akan baik keseluruhan fisik dan jika rusak maka rusaklah seluruh jasadnya. Yang dimaksud adalah perilaku manusia. “Faidza shaluhat shaluhal jasadu kulluhu, waidza  fasadat fasadal jasadu kulluhu”. Jadi perilaku manusia ditentukan oleh jiwa atau nafsu yang terkandung di dalam diri manusia. Tentu ada kaitan antara otak, hati dan jasad manusia. Hati memerintah otak dan otak memerintahkan seluruh badan kita. Jadi hati adalah kata kunci.

Roh bagi saya netral. Tergantung pada  hati atau jiwa. Jika hatinya dekat kepada roh akan menjadikan jiwa yang tenang atau jiwa yang muthmainnah, dan jika jiwa itu dekat dengan fisik maka akan menjadi jiwa yang bersifat kebinatangan atau nafsu hayawaniyah. Untuk itu kita harus belajar untuk mendekatkan jiwa kita kepada roh dan menjauhi yang bersifat kebinatangan. Jiwa harus dilatih agar dapat mendorong ke arah kebaikan dan bukan sebaliknya.

Ketiga, tugas kita sekarang adalah menggembirakan fisik dan roh atau jasmani dan rohani. melalui keterlibatan jiwa. Fisik harus dibahagiakan dan roh juga harus dibahagiakan. Cara untuk menggembirakan fisik atau jasad adalah dengan memberikan asupan fisik, misalnya makanan, minuman, buah-buahan, sayur-sayuran yang bergizi, baik dan halal. Bergizi artinya makanan itu memenuhi ketercukupan nutrisi, misalnya karbohidrat dan protein yang seimbang. Keseimbangan itu sangat penting agar makanan tidak menjadi beban bagi fisik.

Makanan yang lezat tentu baik, tetapi harus dipertimbangkan halal dan thayibnya atau halal dan manfaatnya. Agar kita sehat,  maka komposisi makanan menjadi penting. Ketercukupan gizi dan keseimbangannya menjadi syarat agar tubuh menjadi sehat. Hati yang sehat terletak pada jasad yang sehat. Begitulah maqalahnya. Ada kebutuhan biologis atau kebutuhan fisik.

Semua kebutuhan yang baik bagi fisik atau biologis itu harus dipenuhi untuk kepentingan kebahagiannya.

Lalu, roh juga memerlukan kebahagiaan atau kegembiraan. Yang perlu bahagia bukan hanya fisik atau jasmani. Tetapi juga roh kita. Untuk membahagiakannya adalah dengan shalat untuk menyatukan hakikat roh yang ada Ka’baitullah bersama Bapak Roh, Nabi Muhammad SAW. Sekurang-kurangnya lima kali sehari kita harus bersama hakikat roh yang berada di Masjidil Haram. Roh di dalam tubuh kita dipertemukan dengan hakikat roh di Makkah al Mukarramah atau tepatnya di rumah Allah, Baitullah.

Cara lainnya adalah dengan membaca shalawat kepada Bapak Roh, Nabi Muhammad SAW. Shalawat adalah instrument untuk bertemu pada Nabi Muhammad SAW. Allah sangat menganjurkan umatnya untuk membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Bahkan Allah dan seluruh Malaikat bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Maka manusia sebagai hamba Allah dan umat Muhammad SAW pastilah akan membaca shalawat dimaksud.

Instrument lain adalah membaca Alqur’an. Jangan bertanya sedikit atau banyak. Tetapi yang penting membaca Alqur’an. Sebaiknya setiap hari. Alqur’an adalah kitab suci yang menjadi pedoman bagi umat Islam untuk mengamalkannya. Dengan membaca Qur’an dipastikan akan memperoleh pahala sebagaimana dijanjikan oleh Allah SWT.

Kita bersyukur bahwa ketiganya sudah kita lakukan dalam kapasitas yang bisa dilakukan. Kita sudah melakukan shalat, sudah membaca shalawat dan juga membaca Alqur’an. Nyaris di setiap hari kita membaca Alqur’an melalui acara-acara di masjid ini. Mari kita optimis bahwa amalan ini diterima Allah SWT.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

Categories: Opini
Comment form currently closed..