NABI ADAM SEBAGAI MANUSIA PERTAMA
NABI ADAM SEBAGAI MANUSIA PERTAMA
Prof. Dr. Nur Syam, MSi
Pengajian pagi di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya sungguh menjadi pengajian yang menarik minat anggotanya. Meskipun jumlah anggotanya tidak banyak, akan tetapi termasuk jamaah yang rajin. Nyaris setiap pengajian hadir kecuali ada uzur yang memang tidak bisa dihindarinya. Meskipun yang menjadi anggota ada yang masih menjabat di pemerintahan atau yang mantan pejabat dalam birokrasi dan orang penting lainnya, status social yang berbeda, akan tetapi keakraban dan kebersamaan tidak perlu dipertanyakan lagi. Kompak.
Pada acara tahsinan, saya menyampaikan bahwa manusia sesungguhnya merupakan satu kesatuan bersaudara. Semua manusia berasal dari keturunan Nabi Adam AS dan Sayyidati Hawwa, sebagai pasangan suami istri pada penciptaan pertama. Konon untuk menikahkannya, maka maharnya adalah kalimat tauhid “la ilaha illallah, Muhammadur Rasulullah”. Mungkin kita bisa bertanya: “bagaimanakah kalimat tersebut menjadi mahar dalam perkawinan Nabi Adam dan Hawwa yang diciptakan Allah terlebih dahulu? Maka jawabannya, bahwa Nur Muhammad itu sudah diciptakan Allah terlebih dahulu sebelum Allah menciptakan alam seisinya.
Sebagai Tuhan yang Maha Mencipta dan Maha Memelihara, tentu saja Tuhan memiliki kekuasaan untuk melakukan sesuatu sesuai dengan design besar atas penciptaan alam semesta dan manusia. Penciptaan Muhammad dalam bentuk fisik dan roh memang datang belakangan, akan tetapi hakikat Muhammad sebagai Cahaya Tuhan sudah diciptakan terlebih dahulu. Di dalam kitab klasik, yang dikaji di dunia tarekat, misalnya Dakhoikul Akbar, dinyatakan bahwa Nur Muhammad diciptakan terlebih dahulu, sebelum Allah menciptakan alam dan seluruh tata surya.
Sebagai akibat konflik keluarga, maka yang tersisa hidup adalah keturunan Qabil. Habil wafat terbunuh sebelum memiliki keturunan, maka kemudian dilahirkan Syits yang kemudian menggantikan Nabi Adam AS. Dari Nabi Syits kemudian melahirkan nabi-nabi dalam jumlahnya yang banyak, yang berfungsi untuk merawat umat manusia agar berada di dalam kebaikan. Keturunan Qabil tentu masih ada sisa-sisanya dan kemudian menjadi kelompok yang selalu memusuhi ajaran Nabi-Nabi. Bisa jadi kaum Nabi Nuh juga ada sebagian yang merupakan keturunan Qabil, dan ada sebagian yang kerurunan Nabi Syits. Demikian umat Nabi Hud, umat Nabi Ilyas, umat Nabi Shaleh hingga Nabi Muhammad SAW.
Ada beberapa temuan science yang menginformasikan bahwa sudah terdapat makhluk di Bumi yang usianya bahkan ratusan tahun sebelum masehi. Artinya jauh sebelum Nabi Ibrahim. Sayangnya saya tidak bisa menyebutkan apakah makhluk tersebut sudah berupa manusia, meskipun tidak sama dengan umat manusia yang sekarang, akan tetapi temuan-temuan artefaks tersebut mengindikasikan bahwa mereka bukan manusia yang diciptakan sempurna seperti kita, akan tetapi berpeluang ada yang serupa dengan manusia.
Ada juga tulisan yang menyatakan bahwa Nabi Adam bukan manusia pertama, yaitu tulisan Agus Musthofa dari Malang. Dengan pendekatan dekonstruksi atau mencoba berpikir dan berpendapat lain, dinyatakannya, bahwa Adam bukan manusia manusia pertama, tetapi rasul dan pemimpin manusia pertama. Berpendapat tentu boleh saja, tetapi jika merujuk kepada semua teks suci agama-agama Semitis, Yahudi, Nasrani dan Islam, maka baik teks Taurat, teks Injil dan teks Alqur’an menyatakan bahwa Adam AS adalah manusia pertama yang diciptakan Allah melalui tanah dan dengan kekuasaan-Nya jadilah manusia yang kemudian dinamai Adam. Dari situ kemudian diciptakan Hawwa yang menjadi pasangannya.
Adam merupakan manusia pertama yang kemudian menghasilkan orang-orang yang tidak patuh atas kebenaran wahyu yang dibawa oleh Nabi-Nabi berikutnya dan juga menghasilkan keturunan yang selalu patuh kepada wahyu yang disampaikan oleh Rasul dan Nabiyullah.
Di antara keturunan yang menjadi pewaris kenabian adalah Nabi Syits, Nabi Nuh, Nabi Hud dan seterusnya sampai kepada Nabi Muhammad SAW.
Persebaran manusia ke seluruh dunia dimulai dari Nabi Nuh AS. Setelah banjir besar yang merupakan peristiwa sejarah, bukan fiksi, maka ada tiga putranya yang kemudian menjadi sumber sejarah kemanusiaan. Yaitu Syam yang kemudian melahirkan keturunan di Timur Tengah dan ke timur, Yafeth yang melahirkan keturunan di Eropa dan Ham yang melahirkan keturunan di Afrika. Di dalam kajian etnis, maka dikenal ada tiga ras manusia, yaitu Negroid, Kaukasoid dan Mongoloid.
Rasullah pernah menyatakan bahwa Sam menurunkan bangsa Arab, Ham menurunkan bangsa Habsyah, dan Yafeth menurunkan bangsa Rum. Secara akliyah, maka bisa dinyatakan bahwa Yafeth menurunkan etnis Kaukasoid yang membenrang dari daratan Eropa ke barat dan Timur, Ham menurunkan etnis Negroid yang membentang di seluruh Afrika dan Sam menurunkan Etnis Kaukasoid yang membentang dari Arab sampai china.
Tentu dalam waktu yang panjang kemudian terjadi perkawinan silang, antara etnis Kaukasoid dan Mongoloid dan antara keduanya dengan ras Negroid. Itulah yang menyebabkan terjadinya berbagai perubahan secara fisikal di antara manusia di dalam etnis-etnis tersebut. Perubahan secara fisikal juga misalnya terjadi pada manusia di Amerika Selatan yang kulitnya cenderung kemerah-merahan. Atau bangsa China, Jepang dan Korea yang cenderung matanya sipit. Bangsa Indonesia juga merupakan campuran dari berbagai macam etnis, sehingga berdasarkan haplogroup ternyata memiliki campuran antara etnis China, Arab, Asia Selatan lainnya.
Memang secara genealogi keturunan, berdasarkan teks suci agama-agama, bahwa kakek-nenek moyang manusia di dunia adalah Nabi Adam AS. Nabi Adam bukanlah tokoh fiktif yang sengaja diciptakan oleh para agamawan, akan tetapi merupakan kenyataan historis, sebab bukan hanya interteks yang membenarkannya akan tetapi juga crossteks. Semua agama Semitis membenarkannya.
Wallahu a’lam bi al shawab.
