TAUBAT (2)
TAUBAT (2)
Prof. Dr. Nur Syam, MSi
Bismillahir Rahmanir Rahim. Pada Bagian dua, Syekh Imam Nawawi di dalam Kitab Riyadhus Shalihin membahas tentang taubat sebagai salah satu ajaran Islam yang sangat penting. Manusia dikenal sebagai makhluk yang di dalam dirinya terdapat unsur salah dan lupa. Khatha’ wan nisyan. Ini merupakan desain Tuhan atas manusia, sehingga Allah memberikan peluang untuk melakukan pertaubatan atau permohonan ampunan kepada Allah SWT.
Sesungguhnya manusia memiliki kemampuan untuk memohon ampunan khususnya kepada Allah. Manusia diberi peluang untuk memohon ampunan atas kesalahan, kekhilafan dan dosa yang dilakukan manusia di dalam kehidupan.
Di dalam pembahasan tentang taubat, dinyatakan ada tiga hal yang menjadi syarat taubat, yaitu hendaklah meninggalkan kemaksiatan yang dilakukan, menyesal atas apa yang dilakukannya dan berniat tidak akan kembali melakukan perbuatan maksiat itu untuk selamanya. Agar ketiganya dapat dilakukan sehingga taubatnya diterima oleh Allah. Di dalam Alquran, Surat An Nur, 31., dinyatakan: “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”. Menurut ayat ini bahwa keberuntungan, terutama di akherat, sangat tergantung kepada permohonan ampun kepada Allah SWT. Taubat yang diterima Allah adalah taubatan nasuha atau pertaubatan yang sangat serius karena Allah.
Terdapat beberapa hadits yang diungkapkan oleh Imam Nawawi dalam kaitannya dengan taubat, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa Nabi menyatakan: “Demi Allah, sesungguhnya saya beristighfar (memohon ampunan) kepada Allah serta bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali”. Di dalam hadits lain dinyatakan, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim bahwa Nabi menyatakan: “Wahai sekalian manusia, bertaubatkan kalian kepada Allah dan mohonkanlah ampunan kepada-Nya karena sesungguhnya saya ini bertaubat dalam sehari seratus kali”. Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah dinyatakan” “sesungguhnya Allah Ta’ala membentangkan tangan-Nya waktu malam untuk menerima taubatnya orang-orang yang berbuat kesalahan di waktu siang dan juga membentangkan tangan-Nya di waktu siang untuk menerima taubatnya orang-orang yang berbuat kesalahan di waktu malam, sampai matahari terbit dari arah barat”. Juga hadits yang diriwayatkan oleh Abu Abdurahman Abdullah bin Umar bin Katthab bahwa Nabi menyatakan: “sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama ruhnya belum sampai di kerongkongannya (sekarat)”.
Dari berbagai ayat Alqur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW tersebut dapat dinyatakan sebagai gambaran, yaitu: pertama, manusia diberi peluang oleh Allah SWT untuk bertaubat atau memohon ampunan kepada Allah SWT. Diberikan peluang sebesar-besarnya. Tentu ada manusia yang dapat memanfaatkan peluang tersebut secara optimal dan ada yang tidak optimal. Allah itu sedemikian besar perhatiannya kepada umatnya. Di kala umatnya lalai, salah atau khilaf, dan melakukan perbuatan dosa, maka Allah membuka kekuasaannya untuk menerima taubat hambanya. Dosa apapun, kecuali menyekutukan Tuhan, akan diterima taubatnya kepada Allah dengan catatan dilakukan secara sungguh-sungguh atau taubatan nasuha.
Kedua, taubat dapat dilakukan kapan saja, bisa di waktu malam bisa juga di waktu siang dan di mana saja. Taubat bisa dilakukan sepanjang masa. Artinya selama belum sampai kepada saat sekarat, maka Allah akan menerima taubatnya. Sebagaimana taubat yang dilakukan oleh Fir’aun yang menjelang ajalnya saat akan tenggelam di laut, maka taubat Fir’aun tidak diterima Allah. Ada sebuah cerita yang menyatakan bahwa taubat Fir’aun digagalkan oleh Malaikat Jibril atas perintah Allah. Taubat yang terlambat di saat menjelang kematiannya. Sebagaimana dinyatakan oleh Kanjeng Nabi Muhammad SAW, bahwa Allah akan menerima taubat seorang hamba terkecuali sudah saat sekarat. Peluang yang diberikan Allah sangat besar, dan manusia diingatkan oleh Rasulullah agar bertaubat jangan kurang dari 70 atau 100 kali. Rasulullah sebagai manusia yang ma’shum melakukannya sebanyak itu. Dan seharusnya manusia yang penuh dengan kesalahan, kehilafan dan dosa dapat melakukannya lebih banyak. Taubat itu akan terus diberikan oleh Allah sepanjang masa sampai matahari terbit dari arah barat, atau menjelang kiamat.
Ketiga, ada beberapa hal terkait dengan bacaan taubat, yaitu istighfar atau membaca dengan hati dan lesannya ucapan: “astaghfirullahal adhim”, artinya: “ya Allah ampunilah dosa kami wahai Dzat yang Maha Agung”. Atau juga membaca shalawat yang diniatkan untuk memohon ampunan kepada Allah dengan berwashilah kepada Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana bisa dipahami bahwa shalawat merupakan bacaan yang sangat mulia. Bahkan Allah dan Malaikatnya juga bershalawat kepada Nabi Muhammad. Diniatkan bahwa membaca shalawat merupakan amal yang sangat mulia dan dapat menjadi perantara kita untuk memperolah syafaat Nabi untuk umat yang membacanya.
Ada juga doa yang dapat dibacakan, kapan saja, misalnya: “Allahumma inni as
Alukal ‘afwa wal ‘afiyah fid dini wad dunya wal akhirah”. Artinya: “ Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu maaf atau ampunan dan keselamatan di dalam agama, dunia dan di akhirat”. Inilah doa terbaik untuk memohon ampunan dan kemaafan dari Allah SWT. Ada yang disebut ampunan, bahwa dosa itu diampuni oleh Allah tetapi catatannya masih ada, tetapi dengan maaf atau afwun, maka doa diampuni dan catatan dihapus. Subhanallah.
Kecuali Kanjeng Nabi Muhammad SAW, yang dijamin tidak berdosa, maka manusia lainnya dipastikan memiliki dosa, maka manusia harus memanfaatkan ampunan Allah dengan optimal agar kelak mendapatkan kebaikan fi dini wad dunya wal akhirah.
Wallahu a’lam bi al shawab.
