Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

KEJUJURAN (4)

KEJUJURAN (4)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim. Pada bagian empat, Syekh Imam An Nawawi menjelaskan tentang kejujuran berdasarkan atas kajian yang mendalam atas teks Alqur’an dan Hadits-Hadits Nabi Muhammad SAW. Sebuah kajian yang sangat mendasar dalam rangka untuk memahami bahwa kejujuran merupakan ajaran Islam yang sangat mendasar sebab terkait dengan relasi antar manusia, alam dan juga Tuhan yang Maha Esa.

Kejujuran merupakan ajaran inti di dalam Islam. Tanpa kejujuran, maka tatanan duniawi akan rusak. Tanpa kejujuran, maka tatanan masyarakat akan rusak, dan tanpa kejujuran maka tata kelola di dalam Masyarakat akan mengarah kepada kebinasaan, pemerintahan dan negara akan menjadi berantakan. Dari kejujuran akan mendapatkan pengakuan, dari kejujuran akan memperoleh kepercayaan dan dari kejujuran akan menghasilkan keberuntungan.

Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai al Amin atau orang yang terpercaya karena kejujuran yang dimilikinya. Di kala Nabi Muhammad SAW dipercaya oleh Sayyidah Khadijah untuk berdagang ke negeri-negeri yang jauh, Negeri Syam, maka modalnya adalah kejujuran. Dari kejujuran menghasilkan keterpercayaan. Dengan kejujuran itulah akhirnya akan menimbulkan keyakinan public bahwa Muhammad adalah seorang yang jujur dan bisa menjadi modal dasar sebagai utusan Allah atau Nabi. Modal social kejujuran itulah yang meyakinkan Khadijah yang kemudian isteri tercintanya di dalam mengarungi medan dakwah yang dibebankan oleh Allah kepadanya.

Salah seorang Sahabat Nabi Muhammad SAW yang memperoleh sebutan ash-shiddiq adalah Sayyidina Abu Bakar. Abu Bakar adalah orang yang sangat mempercayai Nabi Muhammad SAW. Apa yang dinyatakan oleh Nabi Muhammad SAW,  maka Abu Bakarlah orang pertama yang mempercayainya. Tidak ada keraguan sedikitpun atas apapun yang datang dari Nabi Muhammad SAW. Di kala banyak orang yang menertawakan perjalanan Isra’ dan Mi’raj, maka Abu Bakar yang mempercayainya. Itulah sebabnya, di kala Nabi akan berhijrah dari Mekkah ke Yatsrib, maka Abu Bakarlah yang menemaninya, sementara Sayyidina Ali menggantikan Nabi Muhammad di temoat tidurnya. Jika Abu Bakar mendapatkan julukan Ash-shiddiq, orang yang jujur, maka Sayyidina Ali mendapatkan julukan karramahullahu wajhah, orang yang wajahnya sangat mulia.

Ada banyak ayat Alqur’an dan hadits Nabi yang dijadikan sebagai basis di dalam membahas bab kejujuran. Akan tetapi hanya akan saya ambil dua  saja yang sangat mendasar untuk membahas mengenai kejujuran. Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim dari Riwayat Ibnu Mas’ud. Rasulullah menyatakan: “sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebaikan dan kebaikan itu membawa ke surga. Sesungguhnya seseorang itu akan selalu bertindak jujur sehingga ia ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya berdusta itu membawa kepada kejahatan dan sesungguhnya kejahatan itu membawa ke neraka. Sesungguhnya seseorang akan selalu berdusta sehingga ditulislah di sisi Allah sebagai seorang pendusta.”

Demikian pula sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Tirmidzi sebagaimana diriyatkan oleh Abu Muhammad al Hasan bin Ali bin Abi Thalib, bahwa Rasululah menyatakan: “tinggalkan apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya jujur itu menimbulkan ketenangan dan dusta itu menimbulkan kebimbangan”.

Mari kita coba pahami atas dua hadits yang ditulis oleh Imam An Nawawi ini. Kejujuran adalah persoalan hati. Artinya, bahwa kejujuran atau kebohongan itu terkait dengan hati. Qalbun merupakan unsur kehidupan yang sangat penting di dalam kehidupan manusia. Tidak perlu diperdebatkan apakah hati itu di jantung atau di hati. Tetapi yang jelas bahwa manusia memiliki hati. Di dalam dunia tasawuf dikenal ada hati nurani dan hati sanubari. Hati Nurani adalah tempat bersemayamnya berbagai dorongan kebaikan, ada dimensi ketuhanan dan kemanusiaan, sedangkan pada hati sanubari adalah dimensi atau peluang terjadinya dorongan kejelekan.

Ada yang membagi hati dalam tiga jenis, yaitu qalbun salim atau hati yang penuh dengan kebaikan. Di dalamnya terdapat dorongan untuk selalu melakukan perbuatan yang diridlai oleh Allah SWT. Di dalamnya terdapat keinginan kuat untuk menghasilkan perbuatan yang berbasis pada nafsul mutmainnah. Kemudian terdapat hati yang sakit atau qalbun maridh ialah hati yang dipenuhi dengan kecenderungan berbuat jelek yang tidak sesuai dengan ajaran agama Islam yang baik. bersemayam di dalamnya nafsu lawwamah. Dan lainnya adalah hati yang mati atau qalbun mayyitun yaitu hati yang sudah tidak lagi bisa mendengar, melihat dan merasakan kebaikan. Hati yang dipenuhi dengan kejelekan dan kejahatan. Tidak bisa lagi membedakan mana yang baik dan mana yang jelek. Basisnya adalah nafsu amarah.

Secara psikhologis, kebaikan akan membawa kepada ketenangan batin, sedangkan kejahatan akan membawa kepada kesusahan atau ketidaktenangan batin. Orang yang melakukan tindakan tidak jujur atau berbohong dipastikan akan menyebabkan yang bersangkutan akan selalu di dalam bayang-bayang ketakutan atau kesusahan, akan tetapi orang yang melakukan kejujuran dipastikan akan mendapatkan ketenangan batin atau kebahagiaan.

Kita hidup di era di mana kejujuran adalah barang langka. Ada banyak perilaku menyimpang misalnya tindakan korupsi. Orang yang melakukannya dipastikan akan merasakan betapa hidupnya berada di dalam bayang-bayang ketakutan. Hatinya akan merasakan betapa tersiksa dan terus menerus merasakan tekanan-tekanan yang tidak dapat dihindarinya. Baik di dalam kesendirian atau bersama-sama yang lainnya, maka akan merasakan bahwa jiwanya tidak tenang, penuh dengan teriakan-teriakan yang membuatnya berada di dalam kesusahan.

Itulah sebabnya Allah mengajarkan kepada kita doa yang sangat Istimewa, yaitu: “Allahumma arinal haqqa haqqa war zuqnat tiba’ah wa arinal bathila bathila war zuqnaj tinabah”. Yang artinya: “Ya Allah tunjukkan kepada kami yang benar itu benar dan berikan peluang kami untuk mengikutinya, dan tunjukkan kepada kami yang salah itu salah dan berikan peluang kepada kami untuk menjauhinya”.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

 

Categories: Opini
Comment form currently closed..