• March 2026
    M T W T F S S
    « Feb    
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    3031  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

TAQWA (6)

TAQWA (6)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Kita semua sudah sangat mengenal tentang kata taqwa. Kata ini menjadi kata yang utama di dalam khutbah yang setiap Jum’at kita dengarkan. Sungguh kata taqwa merupakan kata kunci di dalam kehidupan beragama dan kehidupan pada umumnya. Takwa merupakan kunci untuk beribadah kepada Allah SWT. Tanpa takwa beribadah itu tidak ada artinya. Mengucapkan kata taqwa menjadi salah satu syarat sahnya khutbah Jum’at.

Kata taqwa itulah yang dibahas oleh Syekh Imam An Nawawi di dalam Kitabnya Riyadhus Shalihin. Kata taqwa tersebut dapat menjadi pembeda bagi manusia untuk memahami  mana yang haq dan mana yang bathil. Mana yang benar dan mana yang salah. Allah selalu memberikan kepada manusia untuk melakukan introspeksi atas kesalahan yang dilakukannya. Allah selalu memberikan peluang agar manusia selalu berada di jalannya, jalan Islam.

Ayat Alqur’an dalam Surat Ali Imron: 3, menyatakan: “Wahai orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benarnya taqwa”. Atau di dalam Surat At Taghabun: 6; dinyatakan: “Maka bertaqwalah kepada Allah menurut kesanggupanmu”. Atau ayat lain dalam Surat At Thalaq: 2-3, dinyatakan: “barang siapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rejeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya”.

Ayat Alqur’an, sebagaimana terjemahannya di atas memberikan gambaran bahwa manusia diharapkan bahkan diwajibkan untuk bertaqwa kepada Allah, di mana Allah akan memberikan sesuatu yang terbaik baginya. Yang terbaik tersebut bisa berupa petunjuk ke arah kebaikan, maupun rejeki yang sesuai dengan takarannya bahkan yang tidak disangkanya.

Di dalam hadits Nabi Muhammad SAW, dinyatakan sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud bahwa sesungguhnya Nabi  SAW berkata: “Ya Allah, sesungguhnya saya memohon kepada-Mu akan petunjuk, ketaqwaan, menahan diri dari apa-apa yang tidak diperkenankan, serta perasaan cukup”. Di dalam hadits lain dinyatakan sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Umamah Shadai bin Ajlan Al Bahili bahwa “saya mendengar Rasulullah berkhutbah pada Haji Wada’, Beliau bersabda: “Bertaqwalah kamu sekalian kepada Allah, kerjakanlah shalat lima kali sehari, puasalah pada Bulan Ramadlan, tunaikanlah zakat harta bendamu, dan taatilah pemimpin-pemimpin kalian, maka kamu semua akan masuk surga Tuhanmu”.

Dari ayat Alqur’an dan hadits Nabi ini, dapat dipahami bahwa bertaqwa merupakan bagian tidak terpisahkan dari ajaran Islam. Bertaqwa adalah instrument di dalam beragama. Makna taqwa adalah menjaga, melindungi, atau mengekang diri dari murka Allah. Itulah yang sering diterjemahkan oleh para khatib sebagai arti taqwa adalah takut kepada Allah. Cuma saja berbeda ketakutan manusia kepada hewan buas, yang kita harus melarikan diri, akan tetapi ketaqwaan kepada Allah justru untuk mendekatinya atau semakin taqarrub kepada Allah SWT.

Lalu bagaimana cara untuk bertaqwa kepada Allah, yaitu: pertama, menjalankan perintah Allah dengan segala kemampuan yang kita miliki. Hendaknya perintah Allah sebagaimana hadits di atas ialah bersaksi bahwa hanya Allah yang patut disembah, Tuhan seluruh alam. Kemudian menjalankan shalat, mengeluarkan zakat, puasa pada bulan Ramadlan dan taatilah para pemimpin. Tentu saja adalah pemimpin yang jujur, amanah, menjadi teladan  dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Pemimpin yang tidak menganggap masyarakat hanya sebagai obyek tetapi sesama subyek yang memiliki pikiran dan perasaan.

Kedua, menjaga amal perbuatannya di dalam kebaikan. Apa yang dilakukannya dapat menyenangkan hati dan perasaan orang lain. Berkata yang sopan dan bertutur sapa yang membuat orang merasa damai. Menjaga lesan, tindakan dan perilaku yang selalu berada di dalam koridor nilai-nilai Islam yang luhur.

Ketiga, menjaga husnudh dhan kepada Allah. Selalu berbaik sangka kepada Allah. Tidak pernah terlintas di dalam dirinya untuk berburuk sangka kepada Allah. Jika suatu ketika berdoa kepada Allah dan belum dikabulkan maka tidak menjustifikasi bahwa Allah tidak sayang kepadanya. Setiap segala sesuatu yang terjadi berbasis kepada kasih sayang Allah SWT.

Keempat, menjauhi atas tindakan yang bisa dimurkai oleh Allah SWT. Ada banyak perbuatan yang bisa dinyatakan sebagai maksiat, dan sebaiknya bahkan seharusnya sebagai umat Islam dapat menghindarinya. Jika perbuatan itu akan terjadi marilah dibaca “audzu billahi minasy syaithanir rajim”. Atau jika sudah terjadi, maka sesegerakan untuk membacakan istighfar atau shalawat kepada Nabi Muhammad SAW dengan harapan memperoleh syafaatnya. Saya kira manusia di dunia selain para Nabi yang ma’shum dipastikan melakukan perbuatan yang salah. Bahkan Nabi Adam harus turun ke bumi untuk menjadi khalifah karena melakukan kesalahan. Tetapi membaca “Rabbana dhalamna anfusana wa inlam taghfirlana watarhamna lanakunanna minal khasirin”.  Yang artinya: “Wahai Tuhan kami, alangkah dhalimnya jiwa kami, dan jika tidak engkau ampuni dan  Engkau Rahmati hidup kami, maka kami akan termasuk orang yang merugi”. Allah memberikan ampunan karena kesungguhan doa yang dilantunkannya.

Kelima, menjaga keluarga agar selalu di jalan Allah. Termasuk di antara yang dapat menjaga ketaqwaan adalah dengan menjaga keluarga kita agar selalu berada di dalam Islam. Islam mengajarkan agar keluarga kita terus beriman dan beribadah kepada Allah. Di dalam Islam diajarkan sebagaimana perintah Allah: “jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. Melalui penjagaan kepada keluarga, maka kita akan hidup dengan tenang dan penuh dengan kegembiraan.

Wallahu a’lam bial shawab.

Categories: Opini
Comment form currently closed..