• February 2026
    M T W T F S S
    « Jan    
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    232425262728  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

DERAJAD ORANG BERIMAN DAN BELAJAR

DERAJAD ORANG BERIMAN DAN BELAJAR

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Saya beruntung bisa bergaul dengan Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) yang selalu bertemu nyaris setiap hari dalam acara tahsinan Alqur’an maupun Ngaji Bahagia. Acara tahsinan diselenggarakan setiap hari kecuali Sabtu dan Ahad, sementara hari Selasa untuk Ngaji Bahagia. Di antara keistimewaan Komunitas Ngaji Bahagia adalah kegiatan yang selalu diselingi dengan tertawa renyah dan bersifat dialogis. Penceramah hanyalah pengantar materi saja, sedangkan pembahasan dapat dilakukan bersama-sama.

Selasa, 27/01/2026 dilakukan Ngaji Bahagia yang diikuti oleh jamaah Masjid Lotus dan Raudhoh, yang secara tetap mereka hadir dalam acara Ngaji Bahagia. Materinya tidak diurutkan secara sistematis, tetapi sangat kondisional dan tergantung pada apa yang menarik untuk dibicarakan. Ketepatan hari Selasa membahas tentang derajad bagi orang yang beriman kepada Allah dan selalu mencari ilmu. Di dalam pembahasan ini, saya bicarakan tiga hal, yaitu:

Pertama, derajad orang beriman. Allah di dalam Alqur’an menjelaskan bahwa Allah akan meninggikan derajad orang yang beriman. “Yarfa’il lahul ladzina amanu minkum wal ladzina utul ‘ilma darajad.” Yang arti secara harfiyahnya bahwa: “Allah mengangkat derajat orang yang beriman dari kamu semua dan orang yang mencari ilmu pengetahuan”. Jadi ada dua golongan orang yang akan ditinggikan atau diangkat derajadnya oleh Allah, yaitu orang yang beriman dan orang yang mencari ilmu. Artinya, bahwa bagi orang yang mencari ilmu dan beriman kepada Allah maka akan diganjar dengan ketinggian derajadnya di sisi Allah SWT.

Tetapi kata kuncinya adalah beriman kepada Allah. Ada orang yang terus menerus belajar akan tetapi tidak mendapatkan derajad yang tinggi di sisi Allah sebab orang tersebut tidak beriman kepada Allah. Yang bersangkutan tidak menyatakan “la Ilaha Illallah Muhammadur Rasulullah”. Di dalam keyakinannya tidak mengesakan Allah dan tidak bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Jika seseorang ingin mendapatkan pengakuan derajad di sisi Allah,  maka harus beriman terlebih dahulu.

Di dunia ini banyak sekali orang yang terus menerus mencari ilmu, akan tetapi tidak mendapatkan derajad tinggi di sisi Allah karena misalnya mereka adalah orang atheis, atau orang yang tidak percaya kepada Allah. Iman di dalam konteks ayat ini adalah iman kepada Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Yang selain ini, maka bisa disebut sebagai orang yang tidak mendapatkan pengakuan memiliki derajad tinggi di sisi Allah SWT.

Tentu tidak sekedar percaya. Misalnya dengan menyatakan: “saya beriman kepada Allah, dan saya juga bersaksi Muhammad Rasulullah”, akan tetapi tidak melanjutkan keyakinannya tersebut dengan menjalankan perintah Allah SWT. Di dalam Alqur’an dinyatakan: “amantu billahi tsumastaqim”. Makna dari tsumas taqim itu tidak hanya terus menerus atau secara continue meyakini keberadaan Allah,  tetapi juga menjalankan ajaran-ajaran agama Islam sebagaimana diwahyukan oleh Allah melalui Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW.

Kita bisa menyaksikan secara empiris, betapa banyaknya orang yang mengaku sebagai umat Islam,  akan tetapi tidak konsisten menjalankan ajaran agamanya. Mereka memang pernah bersyahadat tentang “keesaan Allah dan kenabian Muhammad SAW”, akan tetapi ternyata tidak konsisten di dalam menjalankan ajaran agamanya. Yang seperti ini sesuai dengan bunyi dan makna teks di atas tentu tidak termasuk yang  memperoleh derajad tinggi dimaksud.

kedua, Selain itu juga orang yang mencari ilmu pengetahuan. Jangan dipersepsikan bahwa mencari ilmu itu harus dalam bentuk persekolahan secara formal, misalnya menempuh pendidikan di perguruan tinggi atau sederajad. Akan tetapi mencari ilmu itu adalah belajar di mana saja dan dalam bentuk apa saja. Long life education. Pendidikan sepanjang masa, baik pendidikan formal, non formal atau informal. Orang yang sudah dewasa seperti kita tentu yang dimaksud belajar adalah belajar dalam konteks informal. Misalnya mengikuti pembelajaran melalui pengajian, majelis ta’lim, belajar melalui kelompok belajar Alqur’an, bahkan juga acara tahsinan. Semua itu disebut sebagai mencari ilmu.

Apalagi tahsinan yang kita lakukan adalah pembelajaran informal yang sangat penting. Tidak hanya memperbaiki bacaan tentang ayat-ayat Alqur’an, akan tetapi juga memahami arti kata perkata dan kemudian penjelasan umum tentang ayat dimaksud. Yang kita pelajari bukanlah pembelajaran Alqur’an yang sangat ketat, dari perspektif ilmu tafsir, akan tetapi membaca teks ayat dengan situasi social yang kita hadapi. Sungguh dapat menjadi pencerahan atas ajaran agama dalam relevansinya dengan realitas social yang utuh.

Islam menyatakan belajar ilmu itu dari ayunan hingga liang lahat. Dari kandungan sampai di kuburan. Di kandungan kita diperdengarkan lantunan ayat Alqur’an, ketika lahir diperdengarkan adzan dan iqamah, dan ketika dikuburkan di pemakaman juga dibacakan talqin tentang pertanyaan-pertanyaan oleh Malaikat. Meskipun diperdebatkan tentang kesahihannya, akan tetapi tetap ada makna positifnya, jika tidak untuk yang wafat tentu bagi yang masih hidup yang mengantarkan jenazah.

Ketiga, kita semua ini bersyukur karena insyaallah bisa merengkuh keduanya. Kita terus beriman kepada Allah dan menjalankan amalan-amalan kebaikan yang diperintahkannya dan kemudian juga terus mencari ilmu dengan belajar agama. Dengan dua kenyataan ini maka pastaslah jika kit akita semua optimis, bahwa kita adalah orang yang mendapatkan derajat tinggi di dalam pandangan Allah SWT.

Kita selalu berdoa kepada Allah semoga kita akan dapat menjalankan amanat kehidupan ini dengan beriman kepada Allah dan menyaksikan Muhammad sebagai rasulullah dan terus diberikan kekuatan untuk menjalankan amanat kehidupan dengan kekuatan penuh untuk beribadah. Ada banyak orang yang kemudian bisa berpindah keyakinan atau konversi, karena hidayah Allah dicabut dari dirinya. Insyaallah dengan doa yang konsisten kita akan tetap berada di dalam jalan yang benar. On the right place.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

Categories: Opini
Comment form currently closed..