Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

MENGUATKAN PERAN PIMPINAN PTKIN DALAM KEWIRAUSAHAAN

MENGUATKAN PERAN PIMPINAN PTKIN DALAM KEWIRAUSAHAAN
Saya ingin menulis sedikit lagi terkait dengan upaya PTKIN untuk meningkatkan sumber pendanaannya. Sekarang eranya memang mengembangkan pendidikan berbasis kewirausahaan. Jadi, tidak ada lagi alasan bagi para pimpinan PTKIN untuk mengelak dari kenyataan ini.
Sebagai orang yang banyak bergaul dengan pimpinan PTKIN, maka sesungguhnya saya tahu tentang kualitas para pimpinan PTKIN meskipun pengetahuan tersebut tentu parsial. Saya memiliki seperangkat pengetahuan tentang mereka ini. Bahkan saya juga tahu tentang apa yang dilakukan terkait dengan upaya untuk mengembangkan PTKIN tersebut di masa yang akan datang.
Saya mengenal beberapa rector yang memiliki talenta sangat bagus untuk mengembangkan lembaga pendidikannya. Ada upaya-upaya yang sangat riil tentang bagaimana wajah dan performa lembaga pendidikan yang dipimpinnya itu terus berkembang. Jika saya berkunjung ke sebuah PTKIN, maka saya segera tahu bahwa ada denyut nadi yang terus bergerak untuk berkembang. Misalnya keinginan berubah menjadi institusi yang lebih luas atau memiliki wider mandate di dalam kelembagaan dan program studinya, dan juga ada yang memiliki visi untuk mengembangkan lembaga pendidikannya secara fisikal berbasis pada donasi luar negeri.
Kala saya berkunjung ke UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, maka saya juga melihat bagaimana lembaga pendidikan ini terus bergerak maju untuk meraih prestasi yang lebih tinggi. Di saat saya berkunjung ke IAIN Lampung yang segera akan berubah menjadi UIN, maka saya juga mengetahui bahwa lembaga pendidikan ini juga terus berbenah untuk meraih kemajuan. Demikian pula di saat saya berkunjung ke UIN Sunan Gunung Jati Bandung, ke UIN Sultan Syarif Kasim, Riau, ke UIN Sunan Ampel Surabaya, ke IAIN Jember, dan sebagainya. Saya melihat tentang upaya-upaya untuk memajukan PTKIN dimaksud.
Jika saya analisis secara kasar, maka sebenarnya kata kunci untuk mengembangkan program terletak pada kegigihan pimpinan PTKIN di dalam kerangka membangun perguruan tingginya. Jika pimpinan PTKIN bisa bekerja sama secara solid di internal kelembagaannya dan juga kekuatan jaringan eksternalnya, maka saya berkeyakinan ke depan akan bisa kita lihat perkembangan lembaga pendidikan dimaksud.
Berdasarkan pengamatan saya, bahwa PTKIN yang memiliki soliditas kelompok sangat kuat, tentu akan lebih mudah untuk mengembangkan kelembagaan pendidikannya dibandingkan dengan PTKIN yang memiliki indikasi konfliktual yang lebih kuat. Saya kira ada pelajaran yang sangat penting bahwa soliditas internal sangat menentukan terhadap performance kemajuan yang diraih oleh PTKIN. Jika soliditas internalnya kuat, maka program akan bisa diarrange sesuai dengan visi yang akan dikembangkannya.
Perkembangan PTKIN sangat ditentukan oleh keberadaan visi dan misi pimpinannya. Jika PTKIN BLU ingin lebih menyejahterakan dunia pendidikan tinggi, maka tentunya diperlukan sensitivitas para pimpinan PTKIN di dalam program kewirausahaan. Keberhasilan di bidang kewirausahaan bagi PTKIN tentu akan mempengaruhi terhadap peningkatan kinerja dan pengembangan akademik.
Saya menggambarkan bahwa untuk membangun sensitivitas pimpinan PTKIN, maka ada dua sisi atau kategori, yaitu sensitivitas berbasis pada kekuatan internal seperti insting kewirausahaan, dan di sisi lain juga sensitivitas yang dibangun berbasis pada pembacaan atau pengalaman di dalam pengembangan kewirausahaan. Saya kira yang lebih banyak adalah pengembangan sensitivitas kewirausahaan berbasis pada pengamatan dan pengalaman. Hal ini tentu disebabkan oleh kemampuan para pimpinan untuk terus membaca tentang berbagai peluang kewirausahaan.
Oleh karena itu, di dalam kerangka untuk membangun sensitivitas kewirausahaan ini, para pimpinan PTKIN harus terus membaca buku atau literature yang terkait dengan kewirausahaan. Ada banyak buku atau majalah yang bisa menjadi instrument untuk mengembangkan sensitivitas itu. Dan para rector tentunya harus terus membaca berbagai bacaan yang terkait dengan pengembangan sensitivitas usaha ini.
Kita harus belajar ke UGM yang telah menjadi PTN-BH dengan kemampuan kewirausahaan yang andal. Diangkatnya direktur pengembangan bisnis di kampus ini dan digaji secara memadai dan diberikan target yang jelas berapa pendapatan yang harus dihasilkan oleh unit usaha ini. Dengan target yang jelas pendapatannya dan performance unit bisnis yang dikembangkannya, maka unit bisnis ini kemudian menjadi bagian penting bagi pengembangan PTKIN.
Kita memang perlu belajar banyak hal, termasuk belajar menjadi pimpinan PTKIN dan juga sekaligus pimpinan bisnis di PTKIN. Dengan demikian, menjadi pimpinan PTKIN tidak hanya membutuhkan kemampuan akademis yang unggul tetapi juga yang menguasai mengenai kewirausahaan di lembaga pendidikannya.
Dengan demikian ke depan harus sungguh dipikirkan bagaimana PTKIN dapat menjadi ajang bagi upaya untuk memperkuat basis anggaran untuk memperkuat potensi pengembangan kelembagaannya. Para pimpinan PTKIN harus terus berupaya agar lembaga pendidikan menjadi yang terbaik.
Wallahu a’lam bi al shawab.

Categories: Opini
Comment form currently closed..