MENJEMPUT TAKDIR
MENJEMPUT TAKDIR
Prof. Dr. Nur Syam, MSi
Di dalam acara tahsinan, 14/01/2026, sampailah para peserta tahsinan pada Surat Alqamar, ayat 49, yang berbunyi: “inna kulla syaiin khalaqnahu biqadarin”, yang artinya: “sungguh, kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran”. Dan sebagaimana biasanya, setelah dibacakan artinya oleh Ustadz Alief, maka saya diminta untuk memberikan tambahan penjelasan. Saya jelaskan beberapa hal, yaitu:
Saya tentu saja tertarik untuk membahas tentang takdir sebagaimana rukun iman yang sudah kita yakini kebenarannya. Tanpa meyakini tentang takdir atau ketentuan Tuhan, maka iman kita tidak ada artinya. Iman itu sistemik, sehingga tidak boleh hanya percaya satu saja dan mengabaikan lainnya. Sebagaimana Malaikat Jibril mengajarkan tentang Iman, Islam dan Ihsan, maka ketiganya harus diimani dan dilaksanakan sebagai umat Islam yang sempurna.
Takdir dapat diterjemahkan secara leterlek sebagai ketentuan atau kepastian Tuhan. Artinya ada segala sesuatu di alam tata surya kita yang memiliki kepastian atau ketentuan. Peredaran bumi mengitari matahari, atau bulan mengitari bumi dan segala perjalanan bintang gemintang di langit atau tata surya, maka semuanya ada takdirnya atau kepastiannya. Semua beredar sesuai dengan garis edarnya.
Di dalam ayat lain dinyatakan bahwa “segala sesuatu yang terjadi ada catatannya. “kullay yushibana illa ma kataballahu lana”. Yang artinya: “setiap kali ada kejadian musibah kepada kita tidak ada lain kecuali dipastikan ada catatannya”. Catatan tersebut yang dimaksud sebagai kepastian atau ketentuan yang disebut sebagai takdir Tuhan. Manusia sudah ditentukan bahagia atau sengsaranya, sudah ditakdirkan usianya atau kelahiran atau kematiannya, sudah ditakdirkan jodohnya dan sudah pula ditentukan rezekinya.
Lalu bagaimana pandangan para ahli tentang takdir itu? Marilah sejenak kita bahas dengan ringkas tentang pandangan kaum Jabariyah atau kaum determinisme atau serba takdir bahwa takdir sudah ditentukan dan manusia tinggal melakukannya. Manusia itu seperti wayang yang tidak mampu melakukan apapun kecuali dalang yang memainkannya. Begitulah manusia itu. Baik dan buruk atau kaya dan miskin itu sudah ada cadangannya. Jadi kalau ada orang kaya tentu karena memang ditakdirkan kaya dan kalau ada orang miskin tentu sudah ada cadangannya. Manusia tidak mampu menolak takdirnya. Jika takdirnya kaya maka ada saja jalan untuk kaya dan jika ditakdirkan miskin maka ada saja jalan untuk menjadi miskin. Semuanya sudah ada kepastiannya.
Lalu, ada yang berpendapat sebaliknya yang menyatakan bahwa takdir itu kepastian yang tidak mengikat. Yang ada kepastiannya itu usia manusia, atau menjadi lelaki atau Perempuan itu takdir atau kepastian. Akan tetapi terkait dengan hal lain, maka manusialah yang menentukan takdirnya sendiri. Inilah yang disebut sebagai kaum qadariyah atau serba usaha. Manusia memang diberi kekuatan akal. Takdir bukanlah kemutlakan. Takdir itu sesuatu yang tergantung pada peran manusia. Kala hidup di dunia, maka manusia harus mengikuti hukum dunia, misalnya untuk makan yang bersangkutan harus berusaha untuk mencari makan. Tidak boleh menyatakan manusia pasti mendapatkan makan dan manusia tidak tahu caranya untuk mendapatkan makan. Untuk mendapatkan surga maka manusia harus melakukan kebaikan dan yang tidak melakukan kebaikan dipastikan akan dapat masuk beraka. Meskipun tidak diajarkan oleh Nabi atau Rasul, manusia bisa memilih dan memilah mana perbuatan yang baik dan mana perbuatan yang jelek. Masyarakat memiliki hukumnya sendiri tentang kebaikan dan keburukan. Pandangan kaum qadariyah tersebut melebih-lebihkan takdir dibandingkan dengan kepastian atau takdirnya. Manusia dapat menentukan takdirnya sendiri. Tuhan tidak terlibat di dalam persoalan takdir.
Kemudian terdapat kaum ahli sunnah wal jamaah dalam aspek tauhid, yaitu kaum yang menyeimbangkan antara takdir dan ikhtiar. Keduanya merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Takdir memang sudah dibuat akan tetapi ada peran manusia di dalam menjalankan takdir tersebut. Tidak serta merta. Dikenal ada takdir yang bersifat mubram atau kepastian yang tidak akan berubah selamanya, dan ada takdir yang bersifat muallaq atau melalui usaha yang diberikan kepada manusia. Bahkan orang yang sebenarnya ditakdirkan untuk masuk neraka, akan tetapi karena yang bersangkutan berupaya untuk melakukan kebaikan di dalam kehidupan di dunia, maka Allah memberikan peluang untuk masuk surga. Orang yang ditakdirkan untuk bodoh, bisa berubah menjadi pintar karena Upaya yang dilakukannya. Ibnu Hajar Al Askolani, adalah seorang murid yang tidak cemerlang otaknya atau pembelajar lambat, akan tetapi karena upayanya untuk bekerja keras dalam belajar, maka akhirnya menjadi pembelajar yang unggul. Namanya Ibnu Hajar atau Anak Batu itu merupakan sebutan karena lambatnya di dalam menyerap pembelajaran. Akan tetapi seperti batu, meskipun keras akan tetapi dengan tetesan air terus menerus, akhirnya batu itu bisa lobang. Ada orang ingin membelah batu dan sudah memukulnya 100 kali ternyata batu itu tidak terbelah, lalu datang orang lain yang hanya memukul dengan 10 kali pukulan kemudian batu terbelah. Secara kepastian atau takdirnya bahwa batu itu memang akan terbelah dalam 110 kali pukulan.
Menyeimbangkan antara ikhtiar, doa dan tawakkal atau usaha, doa dan pasrah adalah bagian dari cara berpikir teologis tentang takdir. Ada orang yang sakit lalu dibiarkan saja, tentu lama-kelamaan akan mati, akan tetapi ada orang yang sakit kemudian diupayakan untuk berobat, lalu didoakan dan pasrah kepada Allah, maka yang bersangkutan atau orang yang sakit tersebut akan memiliki dua peluang mati atau sehat. Jika mati maka itulah takdirnya dan jika sehat itu adalah takdirnya. Jadi harus ada usaha dulu, dan baru menyatakan itulah takdirnya. Bukan menyatakan kalau takdirnya masih hidup tentu akan hidup atau obati saja pasti akan sehat.
Makanya, ungkapan “menjemput takdir” adalah ungkapan yang khas yang menyeimbangkan antara ketentuan Tuhan dan usaha manusia. Takdir sudah ditentukan, akan tetapi manusia diberikan kekuatan atau potensi untuk berusaha. Jika ingin pintar maka harus belajar, jika ingin kaya maka harus berusaha untuk menjadi kaya, dan jika ingin sehat maka harus berusaha untuk sehat.
Wallahu a’lam bi al shawab.
