Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

MENYEIMBANGKAN CINTA KETUHANAN  DAN CINTA KEMANUSIAAN (4)

MENYEIMBANGKAN CINTA KETUHANAN  DAN CINTA KEMANUSIAAN (4)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Ada sebagian umat Islam yang menganggap bahwa kecintaan kepada Tuhan sudah menyelesaikan semua. Ungkapan ini tentu tidak salah. Benar sekali. Cinta kepada Allah merupakan puncak cinta di dalam agama. Artinya, bahwa orang yang sudah sampai kepada puncak cinta kepada Tuhan adalah orang yang berislam secara utuh, secara kaffah.

Namun demikian, pendapat ini bisa saja dikritik sebab keberagamannya hanya berat sebelah. Hanya menekankan pada satu sisi yaitu beragama untuk Tuhan. Beragama yang hanya tertuju pada satu titik mencintai Allah, padahal sesungguhnya beragama itu tidak hanya untuk Tuhan tetapi juga untuk kemanusiaan.

Islam selalu menyeimbangkan antara cinta kepada Tuhan dan cinta kepada manusia. Cinta kepada Tuhan tidak ada artinya jika tidak dibarengi dengan cinta kepada manusia. Ada sebuah cerita tentang hamba Allah yang selalu beribadah kepada Allah siang dan malam. Jika malam selalu melakukan ibadah kepada Allah dengan shalat dan dzikir, dan jika siang juga selalu berdzikir kepada Allah. Dia lupa bahwa ada di tetangganya yang kelaparan karena kemiskinannya. Nyaris tidak ada makanan yang setiap hari bisa dimakannya. Suatu ketika orang itu melapor kepada Nabi Muhammad SAW dan bercerita tentang tetangganya yang tidak pernah memperdulikannya, dan hanya beribadah kepada Allah. Maka Nabi menyatakan bahwa orang tersebut tidak dicintai oleh Allah. Orang tersebut tidak dicintai oleh Allah karena tidak mencintai manusia.

Cerita ini mengingatkan satu hadits Nabi yang sangat saya sukai, yaitu: “irhamu man fil ardl, yarhamukum ma fis sama’. Yang artinya: “cintailah yang ada di bumi, maka akan mencintaimu apa yang ada di langit”. Sebuah hadits yang mengingatkan kita akan betapa besarnya kecintaan Allah, yang disimbulkan ada di langit, melalui instrument mencintai yang ada di bumi, manusia dan alam. Itulah sebabnya Allah begitu menyayangi manusia yang selalu mengembangkan kecintaannya kepada sesama manusia dan alam.

Cerita ini juga dapat dipadukan dengan cerita tentang umat Nabi Musa AS. Suatu ketika Nabi Musa bertemu dengan hamba Allah yang ahli ibadah. Hamba Allah itu lalu berkata kepada Nabi Musa. “Wahai Musa tanyakan kepada Tuhanmu, apakah saya akan masuk surga?”.  Nabi Musa lalu bertanya kepada Allah tentang hambanya yang ahli ibadah tersebut.  Dijawab oleh Allah, bahwa: “orang itu akan masuk neraka”. Hamba Allah itu tidak terima sebab dia merasa ahli ibadah kepada Allah. Dia meminta kepada Nabi Musa: “Tanyakan lagi kepada Tuhan kenapa masuk neraka”, lalu Allah memberikan jawaban bahwa: “dia masuk neraka karena tidak perduli kepada manusia lainnya”. Hamba Allah itu lalu menyayangi sesama manusia dengan cara sedekah, dan melakukan infaq di jalan Allah.  Lalu  dia  minta kepada Nabi Musa, supaya ditanyakan kepada Allah, apakah akan masuk surga, lalu Musa bertanya kepada Allah. Dan  ternyata jawaban Allah,  “Dia akan masuk ke surga”. Subhanallah.

Dua cerita ilustratif ini memberikan gambaran tentang bagaimana seharusnya manusia berperilaku seimbang antara kecintaan kepada Allah dan kecintaan kepada sesama manusia. Allah itu mencintai hambanya jika hambanya itu mencintai kepada sesama manusia. Jika hambanya tidak mencintai manusia, maka Allah ”menolak” kecintaan hambanya kepada-Nya. Bahkan Allah juga sangat mencintai hambanya yang mencintai alam lingkungannya. Allah tidak senang kepada hambanya yang merusak alam. Sebagai sesama ciptaan Allah,  manusia tidak boleh semena-mena terhadap alam.

Konsepsi Islam yang sangat indah adalah hablum minallah, hablum minan nas dan hablum minal ‘alam. Membangun kecintaan kepada Allah, membangun kecintaan kepada sesama manusia dan membangun kecintaan kepada alam. Ketiganya harus berada di dalam keseimbangan. Jika diprosentasikan maka 33 persen cinta kepada alam, 33 persen mencintai kemanusiaan dan 34 persen mencintai Allah SWT. Ini seandainya diprosentase dengan seluruh kecintaan itu 100 persen. Akan tetapi yang lebih afdhal adalah cinta kepada Allah 100 persen, cinta kepada manusia 100 persen dan cinta kepada alam 100 persen.

Mungkin di antara kita ada yang bertanya: “bukankah Allah itu cemburu jika manusia tidak full mencintainya”.  Sebagai jawaban atas pertanyaan ini, maka bisa dinyatakan bahwa kecintaan manusia kepada Allah itu harus 100 persen, tetapi untuk bisa mencapai angka 100 persen tersebut harus ada instrumennya, yaitu mencintai kemanusiaan dan mencintai alam seluruhnya. Allah sangat senang jika manusia mencintainya, akan tetapi  harus menjadikan manusia dan alam sebagai piranti penting di dalam kecintaannya tersebut. Bagi manusia yang mencintai Allah tanpa sedikitpun mencintai kemanusiaan dan alam, maka cintanya hanya akan menjadi cinta sebelah tangan. Dia mencintai Allah tetapi Allah tidak mencintainya.

Ada banyak cara untuk mencintai Allah dengan instrument kemanusiaan dan alam, misalnya mengajarkan kebenaran Islam walaupun satu ayat, misalnya melalui percontohan perilaku kebaikan, mencintai orang tua baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat, mengajarkan kebenaran Islam kepada sesama manusia, menulis tentang kebenaran Islam, memberikan sedekah atau infaq dan juga mengeluarkan zakat bagi yang memiliki harta, dan lainnya yang sangat banyak. Bahkan menyingkirkan paku dari jalan dan tersenyum kepada orang lain adalah sedekah. Menanam pohon untuk melestarikan alam, tidak menebang pohon sembarangan, tebang satu pohon tanam satu pohon lainnya adalah instrument untuk beribadah kepada Allah.

Masyaallah, Tuhan memberikan instrument yang sedemikian banyak agar manusia bisa disayang Allah dan disayang oleh manusia. Inilah makna menyayangi yang di bumi, akan  disayang yang di langit.

Wallahu a’lam bi al shawab.

Categories: Opini
Comment form currently closed..