MURAQABAH (5)
MURAQABAH (5)
Prof. Dr. Nur Syam, MSi
Muraqabah bisa diterjemahkan dengan pengawasan atau pengontrolan yang dilakukan Allah SWT atas hambanya. Muraqabah dalam pemahaman kaum tasawuf bahwa manusia yang merasa selalu di dalam pengawasan Allah SWT di mana dan kapan saja. Muraqabah dapat dikaitkan dengan konsep ihsan, yaitu suatu prinsip di dalam ajaran Islam bahwa manusia beribadah kepada Allah seakan-akan Allah di hadapan kita dan jika kita tidak dapat melihatnya, maka yakinlah bahwa Allah melihat kita.
Ihsan adalah ajaran Islam yang sejajar dengan iman, dan Islam. Di dalam satu episode turunnya wahyu melalui Malaikat Jibril, maka suatu waktu datanglah Jibril dengan berubah bentuk seperti orang Arab yang tampan, dan mengajarkan kepada Nabi Muhammad tentang ma huwal iman, ma huwal Islam dan ma huwal ihsan. Muraqabah ada kaitannya dengan Ihsan sebuah proses terus menerus bahwa manusia selalu berada di dalam pengawasan Tuhan. Dimana saja kita memalingkan wajah maka di situ terdapat kekuasaan Allah. Wajah Allah dapat dimaknai sebagai kekuasaan.
Di dalam Alqur’an Surat Al Hadid: 4, dinyatakan: “Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada”. Atau di dalam Surat Ali Imron: 5, juga dinyatakan: “sesungguhnya bagi Allah tidak ada satupun yang bersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit”. Di salam surat Asy Syu’ara: 218-219 dinyatakan: “Yang melihat kamu Ketika kamu berdiri (untuk sembahyang) dan (melihat pula) perubahan Gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud”.
Di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Umar bin Khatthab sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim, dinyatakan: “Wahai Muhammad, beritahukanlah padaku tentang Islam, Rasulullah SAW lalu menjawab: Islam adalah hendaknya engkau bersaksi bahwa tiada illah (yang berhak disembah) selain Allah dan bahwa Muhammad itu utusan Allah, hendaklah engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadlan dan melakukan haji ke Baitullah jika engkau mampu melakukannya”. Ia berkata: “engkau benar”. Kami semua keheranan, karena ia bertanya dan juga membenarkannya. Ia berkata lagi: “kemudian beritahukanlah kepada kami tentang iman”. Rasulullah SAW menjawab: “hendaklah kamu beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, dan hari akhir serta engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk”. Ia bekata: “engkau benar”. Kemudian ia berkata: “kemudian beritahukanlah kepadaku tentang ihsan”, Rasulullah menjawab: “hendaklah engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihatnya, tetapi jika engkau tidak dapat melihatnya, ketahuilah sesungguhnya dia pasti melihatmu.” Ia lalu berkata: “kemudian beritahukanlah kepadaku tentang hari kiamat”. Rasulullah menjawab: “tidaklah orang yang bertanya lebih mengetahui dari orang yang ditanya”. Lalu ia berkata: “kalau begitu beritahukanlah kepadaku tentang tanda-tandanya”. Rasulullah menjawab: “apabila hamba sahaya telah melahirkan anak tuannya, dan apabila engkau melihat orang-orang yang tidak beralas kaki, telanjang, miskin-miskin dan sebagai penggembala kambing saling berlomba meninggikan bangunan”.
Hadits ini yang dijadikan dasar oleh jumhur ulama tentang rukun Islam dan rukun iman, serta bagaimana seseorang harus beribadah kepada Allah SWT. Lima rukun Islam dan enam rukun iman adalah kesepakatan Sebagian besar ulama dan disepakati bersama sebagai pilar Islam yang harus dipahamai dan dilakukan. Kaum Syi’ah memiliki rukun iman yang berbeda penyebutannya, yaitu Tauhid, Nubuwwah (Kenabian), Imamah (Kepemimpinan Ilahi), Al ‘Adl (Keadilan Tuhan) dan Al Ma’ad (Harii Kiamat). Kita tentu tidak perlu berdebat mana yang benar. Biarkanlah masing-masing meyakini keimanan dan keislamannya. Bagi kita beriman dan berislam sebagaimana kesepakatan jumhur ulama.
Ihsan, yang kita diminta oleh Rasulullah untuk beribadah terfokus kepada Allah artinya kita dapat menghadirkan hati kita kepada tempatnya ibadah, yaitu maqam ibrahim atau berada di Ka’baitullah atau di masjidil Haram. Tubuh kita bergerak sesuai dengan rukun dan syarat shalat, dan hati kita berada di dalam rumah Allah, maqam Ibrahim atau masjidil haram. Ini persoalan yang berat, yaitu melakukan shalat dengan totalitas ibadah.
Muraqabah ada kaitannya dengan konsep ihsan. Di dalam literatur Islam dijelaskan bahwa ada beberapa cara untuk melakukan muraqabah atau merasa di dalam pengawasan Allah sehingga kita akan mendekat kepada-Nya, yaitu: pertama, dengan instrument mencintai Allah dan rasulnya melebihi cinta kepada lainnya. Cinta kepada Allah diajarkan oleh seorang sufi Perempuan, Rabiah al Adawiyah. Rabiah menyerahkan seluruh hidupnya untuk mencintai Allah dan mengabaikan cintanya kepada dunia.
Kedua, dengan cara memperoleh Ridha Allah SWT. Pasrah, tawakkal dan ridha atas apapun yang diberikan oleh Tuhan kepada kita semua. Jika Allah sudah ridha atas apa yang dilakukan manusia, maka Allah akan menurunkan rahman dan rahimnya kepada manusia tersebut. Di antara tokoh tasawuf yang mengajarkan tentang pentingnya ridha kepada Allah adalah Hasan al Bashri.
Ketiga, dengan jalan khauf, yaitu takut atas adzabnya Allah, sehingga semua amal perbuatannya hanya ditujukan untuk memperoleh balasan yang baik dari Allah SWT. Yang diharapkan adalah untuk mencapai maqam khauf atau kepada Allah SWT. Allah sudah memberikan peringatan agar manusia selalu menjalankan kebaikan dan menghindari kejelekan atau kejahatan. Tokoh yang mengajarkan tentang tasawuf khauf adalah Syekh Ibnu Athaillah Assakandari.
Keempat, dengan cara raja’ atau harapan akan rahmat Allah SWT. Di dalam kehidupan dipenuhi dengan upaya untuk memuja dan memuji Allah SWT dan bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW agar kelak mendapatkan syafaatnya. Rahman dan Rahim Allah dan syafaat Nabi Muhammad SAW. Konsep ini diperkenalkan oleh Syekh Ibnu Athaillah Assakandari.
Kelima, dengan cara mengembangkan ilmu pengetahuan, yaitu berupaya untuk memperoleh kebaikan Allah dengan cara berbakti kepada dunia ilmu pengetahuan, yang dapat menerangi hati manusia. Ilmu adalah cahaya yang dapat memberikan kebaikan kepada manusia. Ada banyak ilmuwan yang menggunakan pendekatan ilmu untuk mencintai dan meyakini keberadaan Allah SWT, seperti Ibnu Sina, Al Biruni, Al Jabiri, Al Khawarizmi dan sebagainya.
kita tentu bersyukur dapat menjadi bagian dari umat Islam yang sekurang-kurangnya sudah meyakini akan kebenaran Iman, kesahihan Islam dan juga telah berupaya untuk masuk ke ihsan. mari kiya yakini bahwa yang kita lakukan ini berada di dalam jalur yang benar sesuai dengan penduan ajaran Islam yang tidak diragukan kebenarannya.
wallahu a’lam bi al shawab.
