• January 2026
    M T W T F S S
    « Dec    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

ANTARA DOSA SPIRITUAL DAN DOSA SOSIAL

ANTARA DOSA SPIRITUAL DAN DOSA SOSIAL

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Saya terasa lama tidak mengikuti acara Ngaji Bahagia, yang bisa diselenggarakan pada hari Selasa ba’da Shubuh berjamaah. Kalau tidak salah selama tiga kali. Dan selama itu pula yang menjadi penceramah adalah Ustadz Dr. Cholil Uman, MPdI. Untunglah Pak Cholil, begitu saya memanggilnya,  seorang da’i yang ringan tangan, sehingga jika saya tidak bisa hadir, maka Pak Cholil yang menggantikannya. Bukan badal atau pengganti akan tetapi penceramah aslinya. Begitulah Pak Cholil, seseorang yang Ikhlas di dalam melakukan sesuatu, apalagi ceramah agama.

Hari Senin, 15/12/2025, saya dapat mengikuti acara tahsinan yang diselenggarakan di dalam jamaah atau Komunitas Ngaji Bahagia (KNB), yang ketepatan melakukan tahsinan pada ayat-ayat terakhir Surat An Najm. Ayat yang menjelaskan tentang balasan atas tindakan seseorang di dunia.  Allah akan membalas tindakan yang baik dengan balasan surga dan orang melakukan tindakan kesalahan maka akan diganjar dengan neraka. Dan sebagaimana biasanya, maka saya menyampaikan sedikit uraian tentang perbuatan yang akan mendapatkan balasan di akherat, yaitu dosa yang dilakukan oleh manusia.

Pertama, dosa kepada Tuhan. Dosa adalah perbuatan yang yang dilakukan oleh manusia karena menyalahi hukum-hukum Tuhan. Di antara dosa tersebut adalah mengambil sesuatu yang bukan haknya. Misalnya mencuri, merampok, menodong, menjambret, dan yang lebih besar adalah melakukan korupsi. Termasuk juga menebang pohon, melakukan deforestasi, pembalakan liar dan perusakan hutan terstruktur melalui kebijakan.

Kita melihat tindakan koruptif sedemikian massif dan besar. Dilakukan dengan cara-cara yang sistematis dan berjamaah. Korupsi dalam jumlah besar yang melibatkan berbagai actor dari dalam pemerintahan, bisa dari legislatif, eksekutif, dan juga yudikatif. Banyak anggota DPR/DPRD yang terlibat korupsi, banyak bupati dan pejabat pemerintahan yang terlibat korupsi, banyak hakim dan jaksa yang melakukan korupsi. Banyak juga pengusaha yang terlibat korupsi. Mereka tidak melakukannya secara individual akan tetapi secara berjamaah. Dilakukannya bahkan berlindung di atas regulasi yang memang diberikan celah untuk melakukan tindakan koruptif.

Sungguh korupsi disebut sebagai kejahatan extra ordinary. Daya rusaknya sangat luar biasa. Bisa dibayangkan jika yang dikorupsi adalah pembangunan infrastruktur, seperti jalan, jembatan dan kebutuhan fisik lainnya, maka akan menyebabkan kualitas infrastruktur tersebut akan berkurang kualitasnya. Infrastruktur yang seharusnya tahan kekuatannya selama 100 tahun akan bisa hanya 50 tahun bahkan kurang. Kualitas bangunan yang sesungguhnya memiliki standar yang kuat, akan tetapi dikurangi standarnya sehingga tidak kuat.

Jika korupsi itu menyangkut hajad hidup orang banyak misalnya alokasi anggaran bantuan untuk rakyat miskin, maka sungguh kesalahannya bertubi-tubi. Bantuan pendidikan, bantuan kesehatan, bantuan social dan bantuan untuk rekonstruksi pemukiman, maka yang dirugikan juga sangatlah banyak. Masyarakat yang seharusnya menerima manfaat bantuan tersebut menjadi  tidak merasakannya. Sungguh korupsi sudah mewarnai kehidupan para penyelenggara negara, pihak  pengusaha dan juga para elit masyarakat. Korupsi sudah menjadi penyakit social yang menembus jantung kehidupan masyarakat Indonesia.

Korupsi pengelolaan Batubara, dengan tingkat kerusakan lingkungan yang sangat besar sungguh telah merusak ecosystem lingkungan luar biasa. Banjir di beberapa wilayah di Padang, Sumatera Utara dan Aceh yang membuat meninggalnya warga negara sebanyak 1003 orang dan melukai dan merusak infrastruktur perumahan dan fasilitas umum merupakan contoh betapa daya rusak penyimpangan perilaku manusia atas kehidupan social.

Kedua, Dari perilaku manusia seperti ini yang memproduk wacana dosa social. Yaitu dosa yang mengakibatkan masalah di hadapan masyarakat. Mereka yang melakukannya dianggap memiliki dosa yang tidak hanya bermakna ketuhanan atau dosa spiritual, akan tetapi juga dosa social. Dosa social itu dosa di dalam pandangan masyarakat karena melakukan perbuatan yang melanggar norma social. Dosa yang dihasilkan dari ketidakjujuran, penyalahgunaan wewenang, penyalahgunaan kebijakan dan sebagainya. Dosa ini berakibat atas pandangan minir atas seseorang yang melakukannya.

Tetapi Masyarakat Indonesia  memiliki daya toleransi yang luar biasa. Sebuah toleransi yang saya kira tidak pada tempatnya. Memaafkan atas kesalahan social bukan kesalahan individu tentu merupakan tindakan yang tidak relevan untuk menegakkan keadilan dan kejujuran. Memaafkan secara individu memang diajarkan oleh Islam. Agama Islam sangat menjunjung tinggi atas dosa individu, misalnya dosa yang dilakukan dalam kepentingan privat, akan tetapi memberikan kelonggaran atas dosa social tentu merupakan tindakan yang kurang bijak.

Saya terkadang berpikir, mengapa masyarakat di wilayah Scandinavia itu sangat jujur dan terpercaya padahal mereka orang yang tidak percaya kepada Tuhan atau atheis. Maka jawabannya bahwa mereka takut atas dosa social. Mereka tidak berurusan dengan apakah yan dilakukannya itu dosa individual kepada Tuhan, akan tetapi mereka sungguh takut akan dosa social dimaksud. Dengan takut atas kesalahan yang dilakukan kepada masyarakat, maka mereka menjadi jujur, amanah dan tidak melakukan penyimpangan yang berdampak negative atas masyarakat. Dengan kata lain, dosa di hadapan Tuhan itu tidak nyata tetapi dosa di hadapan masyarakat itu nyata.

Mungkin saja hal ini merupakan penafsiran yang salah, akan tetapi Masyarakat Indonesia yang dikenal sangat religious, akan tetapi melakukan banyak penyimpangan merupakan aib yang sangat besar. Seharusnya antara keimanan, kejujuran dan keterpercayaan merupakan suatu hal yang asimetris, bukan simetris. Masyarakat Indonesia melihat keyakinan kepada Tuhan dan melakukan tindakan menyimpang itu dua sisi yang berbeda tempatnya. Yakin kepada Tuhan benar, tetapi melakukan penyimpangan social adalah masalah lain. Keduanya bisa saja tidak bertemu.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

AMPUNAN ALLAH YANG MAHA LUAS

AMPUNAN ALLAH YANG MAHA LUAS

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Akhir-akhir ini, saya sering tidak hadir dalam acara tahsinan yang diselenggarakan oleh Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) pada Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya. Kesibukan saya agak meningkat di tengah upaya untuk merumuskan Direktorat Jenderal Pesantren dan juga acara lain tentang persiapan untuk merumuskan tentang Indonesia menjadi  pusat peradaban baru dunia. Selain kegiatan di beberapa Perguruan Tinggi Islam (PTKI) di Jawa Timur.

Tetapi pada Rabo, 03/12/2025, saya menyempatkan diri untuk hadir dalam acara tahsinan Alqur’an yang dilakukan di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya. Acara tahsinan tersebut sampai Surat An Najm. Sebagaimana biasa, maka acara tahsinan ini diikuti oleh jamaah Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency dan Majid Roudhoh Perumahan Sakura Ketintang Surabaya. Pesertanya adalah orang yang sudah berusia senior, 50 tahunan ke atas. Seperti biasanya, acara ini juga dikemas dengan kegiatan bercanda yang semarak

Ada satu potongan ayat yang menjadi perhatian saya, yaitu ayat di dalam Surat An Najm ayat 32, yang berbunyi: “Inna rabbaka wasi’ul maghfirah”  yang arti leterleknya adalah “sesungguhnya Allah itu maha luas ampuna-Nya”.  Ayat ini menarik minat saya untuk memberikan sedikit komentar setelah dibacakan artinya di dalam Bahasa Indonesia oleh Ustadz Syahwal, al hafidz. Maka kemudian saya jelaskan tiga hal yang penting, yaitu:

Pertama, manusia memang diciptakan oleh Allah sebagai tempatnya kesalahan dan kekhilafan. Allah telah menciptakan Malaikat yang tanpa kesalahan dan kekhilafan dan makhluk ciptaan Allah yang selalu beribadah sesuai dengan syariat. Tentu tidak ada kesalahan dan kekhilafan. Malaikat tidak dibekali dengan nafsu, misalnya nafsu makan dan minum serta nafsu syahwat. Allah juga menciptakan Syetan yang dinyatakan sebagai makhluk terkutuk. Tetapi Allah menciptakan manusia dan jin yang diberinya nafsu. Keduanya berada di tempat atau alam yang berbeda, tetapi syariatnya sama. Semua disyariatkan sebagai syariat yang diturunkan Allah kepada para nabi-nabi-Nya.

Oleh karena itu, Allah lalu menurunkan ampunan. Allah itu Maha Pengampun yang Agung, ghafurun ‘adhim atau ghafurur Rahim. Maha Pengampun yang Agung dan Maha Pengampun yang penuh kasih sayang. Bahkan Allah juga menurunkan afwun atau pemberian maaf yang yang sangat mulya. Afuwun karim. Allah memberikan peluang manusia untuk bertobat dengan sebenar-benarnya agar memperoleh ampunan dan kemaafan Allah SWT. Ampunan itu pemberian ampunan tetapi masih tercatat kesalahannya, sedangkan afwun itu pemberian ampunan dan catatannya ikut dihapus. Subhanallah.

Manusia bisa diberikan ampunan dalam tingkat kesalahan yang besar maupun kecil. Yang terbesar tentu adalah kesalahan karena menyekutukan Tuhan. Musyrik. Hal ini merupakan kesalahan terbesar di dalam kehidupan manusia. Menyekutukan Allah dengan makhluknya. Orang menyembah pohon, patung, dan sesuatu yang tidak memiliki kepantasan untuk disembah. Orang yang sesungguhnya sudah mendengar tentang ajaran agama tetapi masih melakukan kesalahan seperti ini tentu tetap memiliki peluang diampuni Allah jika bertaubat dengan kesungguhan. Taubatan nasuha. Gradasi lainnya adalah orang yang melakukan perbuatan dosa besar yaitu melanggar larangan Allah, maka orang seperti ini bisa diampuni oleh Allah dengan ampunan yang penuh kerahmatan, jika sudah bertobat. Atau orang yang tidak melakukan perintah Allah juga termasuk dalam gradasi ini. Yang bersangkutan akan diampuni Allah jika melakukan pertobatan.

Kedua, agama itu mengandung dua unsur penting, yaitu pemberian kabar kegembiraan dan kabar kesusahan. Yang termasuk kabar kegembiraan atau tabsyir adalah informasi melalui Kitab Suci yang menerangkan tentang balasan atau ganjaran Allah atas perilaku baik yang dilakukannya di dunia. Orang yang berbuat baik di dalam relasi dengan Allah dan manusia serta alam akan diganjar dengan surga yang sangat mengesankan cerita kenikmatannya. Sedangkan orang yang melawan kebaikan kepada Tuhan, manusia dan alam tentu akan diganjar dengan neraka dengan segenap kesedihan dan kesusahannya.

Mungkin ada yang bertanya, apakah benar bahwa agama memberikan sumbangan atas keteraturan dunia, maka jawabannya tentu iya benar. Agama berisi tentang pedoman di dalam melakukan kegiatan kehidupan. Agama berisi hukum-hukum dalam kaitannya dengan penyembahan kepada Allah dan juga di dalam kaitannya dengan relasi social dan relasi dengan alam. Agama menyajikan bagaimana seharusnya melakukan relasi social berbasis atas kerahmatan untuk semua.

Hanya sayangnya bahwa ajaran agama yang agung itu terkadang dijadikan sebagai instrument untuk melakukan tindakan kekerasan atas nama agama. Banyak penafsiran atas ajaran  yang bertolak belakang dengan makna essesial agama, yang sesungguhnya mengajarkan kasih sayang dan cinta kemanusiaan. Mereduksi kasih sayang dan cinta itu bisa dipengaruhi karena factor kekuasaan dalam banyak aspek seperti factor politik, budaya, social dan ekonomi. Manusia terkadang mengedepankan kepentingannya dan kelompoknya dengan cara mengeksploitasi atas lainnya.

Ketiga, kita tentu patut bersyukur di masa-masa senior ini, kala usia semakin merambat senior, dan kita dapat semakin kuat beribadah kepada Allah dengan shalat berjamaah, dzikir, dan mengaji Alqur’an. Mungkin belum maksimal akan tetapi sedikit modal sebagai sarana untuk memperoleh ampunannya. Modal ini  telah kita miliki. Oleh karena itu berbahagialah kita semua yang sudah berada di ranah ini. Yakinlah bahwa ampunan Allah itu maha luas dan  maha agung. Dan kita meyakini bahwa Allah akan mengampuni kita semua.

Wallahu a’lam bi al shawab.

MA’ALLAH, ‘INDALLAH DAN MURAQABAH

MA’ALLAH, ‘INDALLAH DAN MURAQABAH

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Acara tahsinan di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency, bukan hanya untuk melakukan pembenahan atas bacaan Qur’an saja tetapi yang juga penting adalah mengenai penerjemahan dan pembahasan tentang ayat-ayat yang terkait dengan banyak hal, sesuai dengan yang akan dibaca. Seperti biasanya, Alief al Hafidz atau Syahwal Al Hafidz membacakan terjemahannya dan saya yang kebagian untuk memberikan penjelasan tambahan terkait dengan apa yang dibacanya. 19-20/11/2025.

Kali ini, kita sudah sampai pada Surat An Najm,  biasanya empat ayat yang ditasinkan dan kemudian dibahas. Kali ini kita membahas tentang bagaimana posisi manusia di dalam relasinya dengan Allah SWT. Maka dikenal ada ungkapan ma’allah, ‘indallah dan muraqabah. Ketiganya saya bahas dalam dua hari, karena keterbatasan waktu. Ada tiga penjelasan saya, yaitu:

Pertama, kata ma’allah itu sesungguhnya apa yang dimaksudkannya. Apakah bersama menyatu atau berada di dalam kerahmatan Allah. Sebagai orang awam dalam memahami agama, maka saya kira dapat menyatakan bahwa ma’allah itu adalah orang yang berada di dalam kerahmatan Allah SWT. Hal ini didasari oleh kenyataan bahwa manusia tentu sangat berbeda dengan Allah, baik Sifat Allah, Af’al Allah dan Dzat Allah tentu sangat berbeda dengan manusia. Laisa kamislihi syaiun. Sungguh Allah itu berbeda dengan segala sesuatu yang diciptakannya. Setinggi apapun derajad manusia, kecuali Kanjeng Nabi Muhammad SAW, maka tidak akan mungkin berada di dalam kebersamaan dengan Allah. Hanya Nabi Muhammad SAW yang bisa memasuki alam ketuhanan. Nabi Muhammad SAW bisa berbicara langsung dengan Allah, sebab Nabi Muhammad SAW memiliki gelombang atau energi yang dimiliki oleh Allah. Nabi Muhammad SAW diberikan kekuatan untuk masuk dalam energi kekuasaan Allah SWT, bisa bertemu dan berbicara dengan Allah SWT. Bahkan Nabi-Nabi lainnya tidak memiliki kemampuan menyatukan energinya dengan Allah SWT. Nabi Musa AS yang minta Allah SWT untuk bertemu dan kala cahaya Allah hadir, maka Gunung Thursina tidak mampu untuk menanggungnya sehingga meletus, maka pingsanlah Nabi Musa. Nabi Musa tidak memperoleh kekuatan dari Allah SWT. Satu-satunya makhluk Tuhan di bumi yang bisa ma’allah adalah Nabi Muhammad SAW.

Kedua, Kemudian indallah atau dalam Bahasa Indonesia disebut sebagai di samping Allah SWT. Orang tidak bisa berada di samping Allah SWT tanpa ada yang menjadi washilah untuk bisa berdampingan dengan Allah. Satu-satunya manusia yang diberi kekuatan untuk berada di samping Allah SWT adalah Nabi Muhammad SAW. Untuk berada di samping Allah SWT, maka persyaratannya harus ada orang yang telah berada di samping Allah SWT. Tanpa kehadiran orang tersebut, maka dipastikan orang tidak akan bisa berada di samping Allah SWT. Jika ma’allah itu berada di dalam kerahmatan Allah SWT, maka indallah itu berada di samping kerahmatan Allah SWT. Dan sekali lagi yang bisa berada di samping Allah SWT hanyalah Nabi Muhammad SAW. Nabi-lain tentu saja bisa, dan manusia yang bisa berada di sisi Allah sesuai dengan Nabi yang diturunkan-Nya,  yaitu  orang yang bersama dengan Nabi yang bersangkutan. Jadi, umat Muhammad SAW bisa berada di samping Allah karena telah bersama dengan Nabi Muhammad SAW. Lalu, apa yang menjadi persyaratan utama umat Muhammad SAW untuk bisa bersama Nabi Muhammad SAW dan kemudian berada di samping Allah SWT adalah karena bacaan shalawat yang selalu menjadi bacaannya.  Bacaan shalawat dapat menjadi washilah kita untuk bersama Rasulullah. Jika menjadi ma’allah itu bagi seseorang tidaklah mungkin dan yang mungkin adalah ma’arasulullah. Bahkan untuk berada di samping Allah SAW juga tidak mungkin, maka yang mungkin adalah inda Rasulullah. Jadi untuk di samping Allah atau mungkin bersama Allah, maka syaratnya adalah ma’a Rasulullah dan inda Rasulullah dan untuk keduanya maka persyaratannya adalah membaca shalawat kepada Rasulullah. Maka, orang yang banyak membaca shalawat tentu besar peluangnya untuk ma’a Rasulullah dan berada di dalam inda Rasulullah.

Ketiga, muraqabah atau mendekati Allah SWT atau juga disebut taqarrub ilallah adalah upaya yang dilakukan oleh manusia untuk mendekati Allah SWT. Di dalam Bahasa Jawa disebut ndepe-ndepe atau ndempel-ndempel. Sebuah posisi yang sangat dekat dengan Allah SWT. Apakah manusia bisa bertaqarrub kepada Allah, maka jawabannya bisa dengan catatan harus berwashilah kepada orang yang sudah berada dalam kerahmatan Allah atau ma’allah dan sudah berada di sisi Allah atau disisi kerahmatan Allah SWT. Orang tersebut adalah Nabi Muhammad SAW. Sekali lagi harus menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai perantara manusia. Jadi yang menjadi washilahnya adalah membaca shalawat kepada Nabi dan mengikuti apa yang diajarkan oleh  Nabi Muhammad SAW. “Ya ayyuhal ladzina amanu wa ‘amilush shalihati falahum ajrun ghairu mamnun”  yang artinya “wahai orang yang beriman dan beramal shaleh, maka akan diganjar oleh Allah dengan kerahmatan dan kerahiman yang luar biasa atau yang tidak terkirakan”.

Konsep muraqabah digunakan oleh para ahli tasawuf, yang memiliki upaya lebih serius dalam mendekati Allah SWT. Mereka melakukan banyak ibadah baik yang wajib,  yang sunnah dan juga melakukan kebaikan bagi orang lain. Ahli tasawuf seperti Imam Ghazali adalah contoh bagaimana upaya yang dilakukannya untuk mendekat kepada Allah lewat dzikir dan amal perbuatannya. Imam Asy Syadzili adalah orang yang melakukan pendekatan kepada Allah dengan harta benda dan ibadah-ibadah yang dilakukannya.

Kita yang amal ibadahnya masih terbatas, tentu harus tetap optimis bahwa kerahmatan dan kerahiman Allah SWT juga akan diberikan kepada kita. Yang penting tetap ada istiqamah di dalam ibadah yang kita lakukan dan juga perbuatan baik untuk manusia dan alam semesta.

Wallahu a’lam bi al shawab.

MENCINTAI DIRI DAN KEMANUSIAAN

MENCINTAI DIRI DAN KEMANUSIAAN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Akhirnya saya bisa kembali untuk memberikan asupan pengetahuan agama setelah sepekan lebih harus berada di Tuban karena harus menyelenggarakan acara untuk tahlilan dan yasinan bagi Emak yang wafat, Senin, 10/11/2025. Saya harus ke Surabaya karena ada acara di UNISMA Malang. Hari Selasa pagi, 18/11/2025, saya memberikan pengajian pada Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya. Ada tiga hal yang saya sampaikan, yaitu:

Pertama, cinta diri dan kemanusiaan merupakan bagian dari Panca Cinta sebagaimana tercantum di dalam pemikiran Menag, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA. Tiga di antaranya sudah saya tuliskan di website ini. Dan kali ini saya menjelaskan tentang cinta diri dan kemanusiaan. Pertanyannya mengapa kita harus mencintai diri dan kemanusiaan. Ada dua alasan bahwa manusia diciptakan sebagai sebaik-baik ciptaan. Artinya manusia merupakan makhluk Tuhan yang paling lengkap dalam struktur kecerdasan.

Binatang hanya memiliki insting tetapi manusia memiliki sekurang-kurangnya empat kecerdasan ialah kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan sosial dan kecerdasan spiritual. Dengan empat kecerdasan ini, manusia dapat memilah dan memilih yang bermanfaat bagi dirinya dan juga masyarakat di sekitarnya. Di dalam diri manusia terdapat roh, jiwa dan raga. Maka ketiganya harus dirawat dengan kasih sayang.

Terhadap manusia kita juga harus berhubungan dengan kasih sayang. Jangan bedakan warna kulit, suku, etnis, agama atau apapun, sebab Allah memang menciptakan manusia dalam keanekaragaman.   Allah tentu bisa menciptakan manusia dalam satu ras atau satu suku dan agama, akan tetapi Allah justru menjadikan manusia dalam keanekaragamannya. Justru indahnya dunia ini karena adanya keanekaragaman tersebut. Allah menjelaskan bahwa dengan keanekaragaman tersebut maka di antara mereka akan terjadi saling mengenal, memahami dan menimbulkan kasih sayang di antaranya.

Kedua, Islam memiliki konsep yang sangat bagus terkait dengan cinta dan kasih sayang sesama manusia. Di dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa “barang siapa yang tidak menyayangi yang di bumi, maka tidak akan disayangi yang di langit”. “Irhamu man fil ard, yarhumukum ma fis sama”. Konsep ardl itu berarti bukan hanya manusia, akan tetapi seluruh penghuni bumi sebagai ciptaan Allah. Jadi di atas bumi dan di dalam laut terdapat ciptaan Allah yang harus dikasih sayangi. Binatang dan tetumbuhan harus dikasih sayangi. Jangan semena-mena prilaku kita terhadap binatang dan tumbuh-tumbuhan. Jangan menebang hutan sembarangan, nanti hutan akan marah. Akhirnya terjadi banjir, longsor dan sebagainya. Hutan yang gundul akan menyebabkan air tidak mampu meresap ke bawahnya, sehingga menjadi banjir. Karena pohoh-pohonan di atasnya ditebang sembarangan, maka tanah menjadi longsor. Ingat terjadinya banjir besar yang merendam perumahan di Bekasi karena hutan di Bogor ditebang untuk dijadikan vila-vila oleh orang kaya. Deforestasi di seluruh dunia itu luar biasa. Indonesia juga terjadi perusakan ekologi hutan yang disebabkan oleh para pengusaha. Pengambilan batubara di hutan yang dilakukan secara sengaja oleh oknum yang diberikan regulasi pemanfatan SDA, maka menyebabkan kerusakan lingkungan yang luar biasa. Atas nama pemanfaatan hutan untuk pembangunan ekonomi yang tidak didasari oleh pikiran yang terkait dengan kerusakan lingkungan, maka sungguh akan berakibat terhadap perubahan iklim. Moral hazard seperti ini yang kerap kali membuat kerusakan di bumi. Termasuk juga kerusakan di lautan karena ulah manusia untuk membuang sampah sembarangan.

Kasih sayang di langit. Kasih sayang di langit akan terjadi kalau manusia melakukan kasih sayang terhadap yang di bumi. Yang di langit adalah Allah, Malaikat dan Rasulullah. Jika kita menyayangi yang di bumi maka dipastikan Allah, Malaikat dan Rasulullah akan menyayangi kita. Selain itu juga ada hadits Nabi yang menyatakan: “man la yarham la yurham, artinya siapa yang tidak menyayangi tidak akan disayangi”. Jika ingin disayang istri, maka harus menyayangi istri dan sebaliknya. Jika kita ingin disayang oleh orang lain, maka berlakulah dengan kasih sayang. Jangan melakukan tindakan yang menyebabkan kemarahan dan kebencian. Siapa yang membenci akan dibenci. Ada lagi hadits Nabi “man lam yaskurin nas lam yaskurillah” artinya “siapa yang tidak berterima kasih kepada manusia maka tidak akan dikasih sayangi Allah”. Inilah bukti bahwa secara teologis, kasih sayang itu menjadi sangat sentral di dalam Islam.

Ketiga,  kita bersyukur bahwa sekurang-kurangnya kita semua ini sudah bisa memberikan kasih sayang kepada orang lain. Kita sudah saling bertegur sapa, saling bersalaman, dan bahkan saling berbagi kepada orang lain. Jangan tanya besarannya, tetapi yang penting kita sudah memiliki kesadaran dan kemudian melakukannya.

Kebersamaan kita selama ini, misalnya dalam pengajian dan dalam tahsinan di masjid ini akan dapat menjadi bukti adanya kasih sayang kepada kita semua. Kita bisa saling mengingatkan akan kebaikan, dan kita bisa saling berkasih sayang di dalamnya. Saya berkeyakinan bahwa Allah dan Malaikatnya serta Rasulnya akan mencatat hal ini sebagai kasih sayang di antara kita.

Wallahu a’lam bi al shawab.

MENGAWALI SIANG DAN MALAM DENGAN NAMA ALLAH

MENGAWALI SIANG DAN MALAM DENGAN NAMA ALLAH

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Jika saya di rumah Tuban, di Dusun Semampir, Desa Sembungrejo, Kecamatan Merakurak, Tuban, lalu tidak memberikan sedikit ceramah agama, rasanya ada yang kurang. Tetapi karena waktunya bersamaan dengan nuansa duka, wafatnya Emak Hj. Turmiatun, maka dalam sepekan hanya sempat dua kali saja ceramah agama, yaitu terhadap Ibu-Ibu Jamiyah Tahlilan dan Yasinan serta ceramah bad’a shubuh berjamaah di Mushalla Raudlatul Jannah di dusun tersebut. Jumat, 14/11/2025.

Seperti biasanya, maka jamaah shalat Shubuh berjamaah diikuti oleh kawan-kawan saya di kala kecil. Waktu sekolah dasar di SDN Semampir, Sembungrejo,  Merakurak,  Tuban. Selama saya di Tuban, maka kami shalat berjamaah di Mushalla di depan rumah. Saya yang selalu didapuk menjadi imam, terutama untuk shalat magrib, isya’ dan shubuh. Senang juga rasanya bisa bersama mereka sebagaimana di waktu kecil. Ternyata usianya sekarang sudah di atas 65-tahunan semua.

Ada tiga hal yang saya sampaikan di dalam ceramah saya, yaitu: pertama, betapa senangnya kita semua itu karena setiap hari memulai siang hari dengan shalat jamaah dan berdoa kepada Allah SWT melalui shalat jamaah shubuh,  kemudian bekerja di tempatnya masing-masing, dan di malam hari juga dimulai dengan shalat jamaah maghrib untuk memulai kegiatan malam hari, yaitu istirahat setelah seharian bekerja. Inilah yang saya sebut sebagai kebahagiaan hakiki. Sebuah kebahagiaan yang dihasilkan dari menjalani ibadah kepada Allah di waktu pagi dan malam hari. Tidak semua orang bisa seperti kita ini. Orang yang dapat menyeimbangkan antara beribadah dan bekerja. Saya kira hanya sedikit orang yang bisa melakukannya. Orang yang melaksanakan ibadah shalat bisa banyak, akan tetapi yang shalat jamaah di Mushalla atau masjid sangat terbatas.

Oleh karena itu, marilah kita bersyukur kepada Allah, karena kita menjadi orang yang terpilih. Orang yang terpilih untuk menjadi umat Islam yang sadar akan posisi kita sebagai hamba Allah. Bukankah kita diciptakan Allah untuk beribadah kepada-Nya. Dan kita sudah melakukannya. Kita diciptakan oleh Allah illa liya’budun. Beribadah adalah ekspressi kepatuhan kita kepada Allah SWT.

Kedua,  kita juga bersyukur menjadi orang yang selalu berdzikir kepada Allah. Jika selesai shalat, maka selalu kita baca ayat kursi, kita baca kalimat yang mengagungkan Asma Allah, memuja dan memuji Allah dan menyucikan Asma Allah dan diakhiri dengan membaca kalimat tauhid, kalimat untuk mengesakan Allah SWT. Jadi pantaslah kalau kita disebut sebagai orang Islam yang tuntas. Shalat magrib, isya’ dan shubuh menjadi tempat bagi kita untuk berperilaku baik atau terpuji kepada Allah.

Perilaku terpuji kepada Allah itu sudah dilakukan bertahun-tahun, artinya bukan tindakan temporer atau kadang-kadang. Ada konsistensi di dalam perilaku beribadah tersebut. Allah di dalam Alqur’an meminta kepada kita untuk beriman kepada-Nya dan beristiqamah. Beriman kepada Allah secara terus menerus dan beribadah kepada Allah secara terus menerus. Dan insyaallah kita juga sudah beramal tentang kebaikan, sesuai dengan kadar kekuatan kita untuk beramal kepada manusia lainnya.

Allah menyenangi atas amal ibadah yang konsisten atau terus menerus. Bukan ibadah yang sekali banyak tetapi tidak istiqamah. Konsistensi itu menandai atas ketetapan iman kita kepada Allah. Semakin konsisten ibadah kita semakin besar iman kita kepada Allah SWT. Dan di dalam penilaian saya, kita semua ini sudah memenuhi konsistensi di dalam beribadah, sebab nyaris setiap hari kita shalat berjamaah dan berdzikir kepada Allah SWT. Jangan bertanya sedikit atau banyaknya tetapi konsistensinya.

Ketiga, bagi orang beriman dan beramal shaleh, maka dijanjikan Allah akan diganjar dengan surga. Dan orang yang ingkar akan kebenaran Allah akan diganjar dengan neraka. Pastilah kita memilih yang akan diganjar dengan surga. Dinyatakan di dalam Alqur’an: “wahai orang yang beriman dan beramal shaleh, maka bagi mereka diberikan ganjaran kebaikan yang tidak terhingga”. Adakah orang yang tidak ingin diberikan oleh Allah dengan ganjaran yang sebesar itu. Bagi orang yang beriman dipastikan akan dengan senang hati untuk  melakukan amal ibadah yang akan diberikan ganjaran besar tersebut.

Mushalla ini akan menjadi saksi bagi kita semua tentang amalan kebaikan yang kita lakukan. Setiap langkah kita ke masjid atau mushalla akan menjadi saksi atas perilaku ibadah kita. Tubuh kita, jejak kaki kita, jejak tangan kita, jejak sujud kita semua akan menjadi saksi atas amal ibadah kita kepada Allah. Maka sudah sepantasnya jika kita bersyukur dijadikan sebagai umat Islam yang beriman dan bertaqwa kepada Allah.

Wallahu a’lam bi al shawab.