• January 2026
    M T W T F S S
    « Dec    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

KASIH SAYANG ALLAH KEPADA HAMBANYA

KASIH SAYANG ALLAH KEPADA HAMBANYA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Dalam dua hari, 19 dan 20/09/2025,  secara berturut-turut saya sempatkan untuk memberikan siraman rohani bagi jamaah shalat shubuh di Mushalla Raudlatul Jannah di desa tempat kelahiran saya. Di Dusun Semampir, Desa Sembungrejo, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban. Ada urusan di desa untuk mengambil sertifikat tanah yang sudah dibaliknamakan atas nama anak-anak. Saya berkesempatan untuk bertemu dengan kawan-kawan saya yang pada waktu kecil bermain bersama-sama. Saya bersyukur karena kawan-kawan saya  termasuk yang rajin shalat subuh berjamaah di Mushalla di depan rumah saya.

Memang saya sengaja memberikan asupan rohani sebagai pengetahuan spiritual yang tentu juga penting di dalam kehidupan. Jamaahnya tidak banyak tetapi yang shalat adalah orang-orang yang nyaris setiap shubuh berjamaah. Lelaki dan Perempuan. Saya mengenal secara pribadi dengan para jamaah, karena kebanyakan adalah kawan-kawan saya dan ada beberapa yang usianya relative lebih muda. Lelaki dan Perempuan saya mengenalnya dengan baik.

Ada tiga hal yang saya sampaikan di Mushalla Raudhatul Athfal, 20/09/2025, yaitu: pertama, kasih sayang Allah itu tergambar di dalam kata Rahman dan Rahim. Jika kita membaca Surat Alfatihah pastilah didahului dengan ucapan: “Bismillahir rahmanir Rahim”, yang artinya: “Dengan menyebut Nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang”. Kitab Suci Alqur’an dimulai dengan menyebut hakikat sifat Allah yang sangat agung, yaitu sifat Rahman dan Rahim, Maha Penyayang dan Pengasih”. Allah sebagaimana pandangan para ahli ilmu kalam atau teologi dinyatakan memiliki sifat-safat yang wajib bagi Allah, sifat yang dipastikan menyatu dengan Allah. Bagi kaum Mutakallimin yang sepaham dengan Imam Asy’ari, maka sifat Allah itu ada sebanyak 20, dimulai dari sifat wujud, qidam, baqa’ dan seterusnya sampai mutakalliman. Sementara itu bagi pengikut Imam Maturidi, maka sifat Allah itu sebanyak 13 saja, sama dimulai dari sifat wujud, qidam, baqa’ dan seterusnya. Yang membedakannya adalah kata aliman, hayyan, sami’an, bashiran, mutakalliman termasuk dalam sifat Allah menurut Imam Asy’ari, sedangkan kata tersebut tidak dimasukkan dalam sifat Allah oleh Imam Maturidi. Tetapi keduanya termasuk aliran Ahli Sunnah wal jamaah.

Kedua, Rahman adalah hakikat sifat Allah yang menyayangi pada semua makhluknya di alam ciptaannya. Alam dunia maupun alam gaib. Semuanya mendapat limpahan sayang Allah atau Rahman Allah SWT. Jika manusia tidak dibedakan. Siapapun akan mendapatkan sayang Allah tersebut. Etnis China, Amerika, Eropa, Negro, Indian dan sebagainya, semua mendapatkan Rahman Allah SWT. Tidak dibedakan satu dengan lainnya. Semuanya mendapatkan sayang Allah. Semua diberi peluang untuk makan, minum dan memenuhi kebutuhan fisikal lainnya. Tentang kualitas makan itu hal yang berbeda. Semua diberikan kekayaan sesuai dengan takarannya. Ada yang kaya, miskin atau fakir tentu semuanya mendapatkan jatahnya masing-masing. Hakikatnya semua mendapatkan sayang Allah, hanya kualitas dan kuantitasnya yang bisa saja berbeda. Jadi sifat sayang Allah itu bercorak umum, bagi siapa saja dan di mana saja. Tidak terkecuali.

Ketiga, Rahim adalah hakikat sifat Allah yang mengasihi pada umatnya yang beriman kepadanya. Jika Rahman Allah bercorak umum maka Rahim Allah bercorak khusus. Rahman diberikan kepada semua manusia dan makhluk hidup lainnya, sedangkan Rahim Allah hanya diberikan kepada orang yang meyakini keberadaan Allah. Orang yang memiliki iman kepada Allah SWT. Umat Islam yang telah memiliki iman kepada Allah dan meyakini kenabian Muhammad SAW adalah orang yang potensial mendapatkan kasih sayang Allah SWT. Rahim Allah itu ujung akhirnya adalah kehidupan di surga sebagaimana dijanjikan oleh Allah sebagaimana di dalam Surat An Naba’, ayat 31: “inna lil muttaqina mafaza” yang artinya “sungguh orang-orang yang beriman mendapatkan kemenangan”. Orang yang beriman atau bertaqwa merupakan orang yang akan memperoleh kemenangan yaitu kemenangan melawan kekafiran, kemusyrikan atau kemunafikan. Mereka adalah orang yang dijanjikan oleh Allah untuk menjadi penghuni surganya. Pada ayat lain, Surat Al Bayyinah, ayat 7, dinyatakan: “ulaika hum khairul bariyyah” atau artinya: “mereka itu adalah yang sebaik-baik makhluk”. Artinya bahwa orang yang beriman adalah orang yang memperoleh status sebagai sebaik-baik manusia.

Allah SWT sudah memberikan contoh tentang sebaik-baik manusia yang merupakan representasi atas sifat Rahman dan Rahim Allah SWT. Rahman dan Rahim Allah itu sangat abstrak atau sangat hakiki, makanya agar sifat Allah itu bisa dipahami oleh manusia, maka Allah memberikan sifat Rahman dan Rahim tersebut ke dalam diri Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad SAW adalah contoh realistis atas sifat Allah SWT tersebut. Nabi Muhammad SAW yang di dalam dirinya terdapat sifat kemanusiaan selain sifat kenabian dapat menjadi contoh atas kasih sayang Allah SWT kepada umat manusia.

Kita sungguh bersyukur sebab dapat menjadi umat Islam. Meskipun kita tidak sezaman dengan Nabi Muhammad SAW, akan tetapi kita dapat membaca, memahami dan menghayati tabiat Kanjeng Nabi Muhammad SAW yang berupa sifat Rahman dan Rahimnya Allah SWT. Nabi Muhammad SAW adalah contoh manusia dengan perilaku yang mengajarkan kasih sayang kepada manusia dan perilaku kasih sayang tersebut dilakukannya. Memang Nabi Muhammad SAW adalah teladan kebaikan.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

KASIH SAYANG RASULULLAH KEPADA UMATNYA

KASIH SAYANG RASULULLAH KEPADA UMATNYA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Selasa, 16/09/2025, Jamaah Ngaji Bahagia yang tergabung dalam Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) mendapat asupan ceramah yang sangat mendasar dari Pak Sahid Sumitro, trainer Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) yang sudah malang melintang dalam dunia training SDM di Indonesia. Pak Sahid merupakan salah satu anggota dalam Ngaji Bahagia di Masjid Lotus Regency Ketintang Surabaya. Jika tidak ada aral yang melintang Pak Sahid dipastikan hadir.

Kali ini Pak Sahid tidak bercerita tentang “cinta” dan seluk beluknya di dalam kehidupan manusia, akan tetapi menyampaikan konsep “kasih sayang” yang berasal dari Rasulullah SAW kepada umat manusia. Ceramahnya dimulai dengan memberikan gambaran tentang kodifikasi Alqur’an pada zaman Khalifah ke tiga, Sayyidina Ustman bin Affan. Penyusunan Kitab Suci Alqur’an sebagaimana yang dapat dilihat sekarang bukan karya individu, akan tetapi karya yang dihasilkan dari para sahabat Nabi Muhammad SAW. Ada tiga hal yang disampaikan, yaitu:

Pertama, Pada saat semua ayat dan Surat di dalam Alqur’an sudah tuntas, ternyata ada satu ayat yang belum ditemukan barang buktinya. Dipahami bahwa ayat-ayat Alqur’an itu ditulis oleh para sahabat Nabi Muhammad SAW dalam pelepah kurma, kulit kambing atau unta dan dihafal oleh para sahabat Nabi. Ada sahabat Nabi Muhammad SAW menanyakan bahwa masih ada satu ayat yang belum dimasukkan di dalam mushaf, padahal sahabat-sahabat masih mengingat dan menghafalnya. Potongan-potongan ayat dalam Surat Alqur’an tersebut kebanyakan disimpan di rumah Hafshah binti Abu Bakar,  seorang istri Nabi Muhammad SAW dan ternyata tidak didapatkan bukti empirisnya. Maka semua sahabat mencarinya, dan akhirnya ditemukan ada seorang sahabat yang menyimpannya. Setelah dibuktikan, maka kemudian dibahas ditempatkan di mana ayat tersebut, sehingga akhirnya ditempatkan pada akhir ayat Taubat, ayat 128-129, yang artinya: “sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan dan penyayang terhadap orang-orang mukmin. (128). Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: “cukuplah Allah bagiku, tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepadanya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki arasy yang agung. (129).

Kedua, di dalam ayat tersebut terdapat kata “azis” atau di dalam teks ini dapat diterjemahkan memiliki empati yang sangat tinggi atas kemanusiaan. Nabi Muhammad SAW memiliki rasa empati atas penderitaan orang lain atau umatnya. Nabi Muhammad sangat menginginkan agar umatnya meyakini akan keberadaan Allah dan mengamalkan ajaran agamanya. Nabi Muhammad tidak tega melihat umatnya mendapatkan siksaan di neraka. Rasulullah sangat menginginkan agar umatnya masuk surga. Rasulullah sangat menginginkan agar umatnya memiliki keimanan yang akan menyelamatkannya di Hari Akhir. Nabi Muhammad memiliki rasa belas kasihan yang tidak dapat ditandingi oleh makhluk Allah lainnya.

Konsep lainnya adalah haris atau dapat diterjemahkan menjaga kebaikan dengan semangat. Rasulullah itu dikenal sebagai orang yang gigih dalam menjaga keselamatan atas umatnya. Rasulullah adalah orang yang sangat bersemangat untuk mempertahankan kebenaran, keadilan, kejujuran dan persamaan antar manusia. Rasulullah tidak membedakan antara satu manusia dengan lainnya. Tidaklah perbedaan warna kulit, suku dan bangsa menjadi penyebab perbedaan satu atas lainnya. Yang membedakannya adalah taqwanya kepada Allah SWT. Ajaran Islam yang dibawanya merupakan ajaran yang penuh dengan kebaikan, khususnya dalam relasi dengan sesama manusia.

Kemudian konsep Roufur Rahim yang artinya adalah penyayang dan pengasih. Nabi itu memiliki kekuatan sebagai manusia yang memiliki kasih dan sayang. Jika Allah Maha pengasih dan penyayang, maka wujud kasih sayang itu diberikan dalam bentuk sifat manusia yang selalu menyanyangi dan mengasihi umatnya, yaitu Nabi Muhammad SAW. Manifestasi dari sifat Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang tersebut diwujudkan dalam sifat Nabi Muhammad SAW. Jadi kalau orang bertanya tentang bagaimana wujud kasih sayang Allah kepada makhluknya, maka wujud kasih sayang Allah terdapat dalam perilaku Nabi Muhammad SAW.

Nabi Muhammad itu adalah contoh perilaku yang baik. Di dalam Alqur’an juga dijelaskan: “sesungguhnya dalam diri Rasulullah adalah teladan kebaikan”. (Al Ahzab: 21). Jadi kalau manusia bertanya tentang bagaimana wujud kebaikan, maka wujudnya ada dalam diri Rasulullah. Rasulullah adalah Ahsanul khuluq atau sebaik-baik akhlak. Oleh karena itu, maka di dalam kehidupan ini ada yang dapat menjadi contoh di dalam kebaikan dan juga contoh di dalam keluhuran akhlaknya.

Akhlak itu memiliki tiga cakuapan mendasar yaitu berakhlak dalam relasi dengan Allah, relasi dengan sesama manusia dan relasi dengan alam dan lingkungannya. Ketiganya harus sama baiknya dan saling menentukan. Orang yang ibadahnya baik kepada Allah harus diimbangi dengan kebaikan akhlak kepada sesama manusia, dan jika keduanya baik juga harus melakukan kebaikan atas alam lingkungan hidupnya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

TRADISI AMALAN SHALIHAN BA’DA SHALAT

TRADISI AMALAN SHALIHAN BA’DA SHALAT

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Akhir pekan ini saya berada di Tuban, di rumah saya di Tuban. Tepatnya di Dusun Semampir, Desa Sembungrejo, Kecamatan Merakurak, Tuban. Sebagaimana biasanya, maka saya memberikan ceramah singkat, tidak lebih dari 15 menit kepada para jamaah shalat shubuh di Mushalla Raudlatul Jannah, yang bertepatan berada di depan rumah. Jamaah lelaki dan Perempuan, pada Jum’at, 19/09/2025.

Kali ini, saya membahas tiga hal tentang amalan thayyiban  yang sangat terbiasa kita lakukan setelah shalat berjamaah. Pertama, amal shalih itu terbagi menjadi tiga hal yaitu amalan shalih kepada Allah SWT dan Rasulnya, amal shalih kepada sesama umat manusia dan amal shalih terhadap alam di lingkungan kita. Saya menjelaskan tentang amalan shalihan yang terkait dengan Allah dan Rasulnya, dan amalan ini sangat lazim dilakukan di masjid atau mushalla yang dijadikan sebagai wiridan ba’da shalat. Amalan ini adalah membaca surat Al Fatihah. Kita ini banyak membaca Surat Al Fatihah yang dinyatakan sebagai Ummul Qur’an dan juga Ummul Kitab. Kalau Ummul Qur’an itu jelas, yaitu kitab suci Al Qur’an. Induknya Alqur’an itu adalah Surat Al Fatihah. Siapa yang membaca Surat Al Fatihah, maka telah membaca induknya AlQur’an.

Tetapi jika disebut sebagai induknya Kitab atau Ummul Kitab, maka bisa bermakna luas. Artinya tidak hanya membaca induknya Alqur’an sebagai kitab sucinya orang Islam, akan tetapi juga membaca induknya Kitab Suci Allah lainnya, seperti Kitab Injil, Kitab Taurat dan Kitab Zabur. Kita tidak tahu apa itu Kitab-Kitab Suci Allah SWT tetapi kita sudah membaca induknya kitab-kitab tersebut, dan induknya adalah Surat Al Fatihah. Kita tidak bisa membaca Kitab Injil yang asli karena menggunakan Bahasa Ibrani, kita tidak bisa membaca Kitab Taurat atau Kitab Zabur, tetapi kita meyakini kitab-kitab tersebut adalah kitab Suci yang diturunkan kepada Nabi-Nabinya. Kitab Zabur diturunkan kepada Nabi Dawud AS, Kitab Taurat diturunkan kepada Nabi Musa AS, kitab Injil diturunkan kepada Nabi Isa AS, dan Alqur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Semua kita Yakini kebenarannya merupakan wahyu Allah SWT. Di kala kita membaca Surat Al Fatihah sebagai Ummul Kitab, maka seakan-akan kita telah membaca semua kitab-kitab suci Allah SWT. Subhanallah.

Kita ini orang yang patuh pada apa yang sudah diajarkan oleh orang-orang tua kita, guru-guru kita dan ulama-ulama kita. Tradisi membaca Surat Al Fatihah bada shalat itu dilakukan oleh para leluhur kita dan kita tidak bertanya apa dasarnya, apa manfaatnya, apa efeknya bagi kehidupan kita. Tetapi kita lakukan dengan keyakinan bahwa wirid itu pasti amal shalih. Kita lakukan tanpa tanya, tanpa memperdebatkan apa dasarnya dan sebagainya tetapi kita lakukan dan akhirnya menjadi tradisi. Membaca Surat Al Fatihah baik sebelum dan sesudah shalat itu perbuatan yang tidak bertentangan dengan syariat Allah SWT. Membaca Surat Al Fatihah untuk memulai segala sesuatu diperbolehkan oleh syariat Islam. Jumhur ulama menyatakan sebagai amalan shalihan atau sesuai dengan sunnah. Jadi hukumnya adalah sunnah.

Kedua, membaca Ayat Kursi. Berkat kita membaca dengan jahr atau keras, maka semua jamaah menjadi hafal. Rasanya jika orang sering berjamaah dalam shalat dipastikan hafal ayat kursi ini. Tidak usah dihafalkan. Bisa hafal dengan sendirinya. Rasanya banyak masjid dan mushallah yang melantunkan ayat Kursi ini. Mereka membaca dipimpin oleh imam shalat jamaahnya. Mereka bersama-sama membacanya. Iramanya jelas dan bacaannya tegas. Di masa lalu kita membaca ayat Kursi ba’da shalat tanpa bertanya kepada para imam shalat yang membacanya. Kita tidak mendiskusikan dengan para ahli agama. Yang penting dilakukan dan menjadi tradisi. Dan sekarang membaca Ayat Kursi adalah tradisi tentang kebaikan yang tidak ada taranya. Saya menjadi teringat dengan sahabat  saya, D. Zawawi Imron, penyair Madura, yang pernah menyampaikan bahwa membaca wirid dengan suara keras itu untuk membersihkan udara dan lingkungan. Dengan wirid yang kita baca, maka alam akan mendengarkannya dan Allah SWT serta Nabi Muhammad SAW juga sangat senang mendengarnya. Di media social dengan mudah kita dapatkan penjelasan tentang bacaan Ayat Kursi, baik dilakukan sendiri maupun berjamaah dan di manapun dibacanya.

Ketiga, bacaan kalimat tauhid ba’da shalat juga sangat penting. Bukankah kalimat tauhid, la ilaha illallah adalah kuncinya surga. Miftahul Jannah la ilaha illallah. Siapa yang membaca la ilaha illallah sesungguhnya telah menggegam kuncinya surga. Kalimat yang menafikan atau tidak  ada Tuhan selain Allah adalah tanda iman. Tidak mungkin orang beriman tanpa membaca kalimat tauhid. Tidak mungkin orang menjadi muslim tanpa didahului dengan iman kepada Allah dan Muhammad sebagai rasulnya. Jadi, untuk menjadi muslim atau orang yang berserah diri kepada Allah syaratnya adalah mengucapkan kalimat tauhid di lisannya dan di hatinya. Jika orang mengucpkan dilisannya tidak diikuti dengan hatinya juga membenarkannya, maka dia akan menjadi orang yang munafiq. Kita ini sama sekali tidak ada kemunafikan dalam keyakinan kita tentang eksistensi Allah SWT.

Kita patut bersyukur bahwa hingga hari ini kita masih menggenggam kuncinya surga dan membaca kalimat-kalimat thayyibah lainnya, yang insyaallah hal tersebut akan mengantarkan kita semua untuk menjadi hambanya Allah yang akan dimasukkan ke dalam surganya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

KUNCI SURGA DI TANGAN KITA: KASIH SAYANG RASULULLAH

KUNCI SURGA DI TANGAN KITA: KASIH SAYANG RASULULLAH

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Saya ingin menuliskan ceramah Ustadz Dr. Cholil Uman, MPdI, dosen Prodi Bimbingan dan Konseling Islam, FDK UINSA, pada acara ceramah Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Al Ihsan di Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya, Sabtu, 13/09/2025. Acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diikuti oleh warga Lotus Regency, Jamaah Ngaji Bahagia dan para undangan lainnya.

Acara ini diramaikan dengan tetabuhan Rebana untuk melantunkan lagu-lagu sanjungan kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Dipastikan juga ada acara mahalul qiyam dengan bacaannya yang khas: “rabbi faghfirli dzunubi Ya Allah bibarkatil Hadi Muhammad Ya Allah. Lantunan doa yang menggambarkan kepasrahan diri untuk memperoleh ampunan Allah dan berkah Nabi Muhammad SAW.

Ada tiga hal yang disampaikan oleh Ustadz Cholil di dalam ceramahnya, yaitu: pertama, mengapa kita mencintai Rasulullah dengan menyelenggarakan acara maulid Nabi Muhammad SAW? Jawabannya tidak sulit tetapi juga tidak mudah. Ada yang menjawab karena Muhammad SAW adalah utusan Tuhan, ada yang menjawab: karena ada hadits yang menyatakan bahwa Rasulullah menyayangi orang yang melakukan acara untuk memperingati hari kelahirannya. Tetapi jawaban yang mudah karena Rasulullah Muhammad SAW sudah memberikan kunci kepada umatnya agar Bahagia di akherat atau di Surga. Kunci itu adalah kalimat tauhid “La ilaha illallah” yang artinya tidak ada Tuhan selain Allah. Miftahul Jannah la ilaha illallah. Jika kita mengamalkan bacaan kalimat tauhid, kapan dan di mana saja maka kita dipastikan akan masuk surganya Allah. Kita harus optimis. Kita harus husnuddhon kepada Allah, bahwa Allah itu maha Rahman dan Rahim. Dengan kasih sayang Allah itulah kita akan menjadi penghuni surga. Jangan pessimis. Harus optimis. Harus yakin dengan bekal kalimat tauhid kita akan mendapatkan Rahman dan rahimnya Allah SWT.

Di kalangan Masyarakat Islam di Indonesia terdapat kegiatan tahlilan, yang intinya adalah berkumpul untuk melantunkan kalimat tauhid. Di desa-desa, di kampung-kampung dan bahkan pada Masyarakat perkotaan terdapat aara tahlilan atau acara membaca kalimat thayibah, la ilaha illallah. Setiap hari Kamis malam Jum’at kita dengarkan di masjid-masjid, di mushallah-mushalla terdapat orang yang membaca tahlil. Jika kita membaca tahlil itu di masjid, maka ada banyak tetangga kita yang mendapatkan manfaatnya. Tetangga itu sebanyak 40 tetangga. Jadi tetangga kanan sebanyak 40 tetangga, tetangga kira sebanyak 40 tetangga muka dan belakang juga masing-masing 40 rumah. Inilah kehebatan ajaran Islam yang dapat memberkahi kepada umat Islam yang menjadi tetangga kita.

Kedua, pada suatu Ketika, Aisyah ditanya oleh sahabat Nabi, dan ditanyakan bagaimanakah akhlak Rasulullah itu. Aisyah bingung mau menjawab dari mana, sebab akhlaknya Rasulullah itu sangat luar biasa baiknya dan banyak sekali yang pantas menjadi teladan dari umat Islam. Aisyah diam dalam waktu sejenak, dan kemudian menyatakan bahwa akhlaknya Rasulullah itu adalah Alqur’an. Apa yang ada di dalam Alqur’an itu adalah apa yang menjadi akhlak Rasulullah Muhammad SAW.

Jika kita sarikan, maka da tiga akhlak Rasulullah Muhammad SAW, yaitu: 1) fi ahsani taqwim. Rasulullah itu selalu berpenampilan terbaik. jadi bukan hanya diciptakan sebagai makhluk terbaik, akan tetapi sosok Nabi yang selalu berpenampilan baik. Nabi itu pakaiannya necis. Bukan pakaian sembarangan. Tidak harus berbahan mahal, bahannya sederhana tetapi menunjukkan gaya berpakaian yang baik. di dalam tradisi Jawa ada pepatah menyatakan: ajining diri ono ing pribadi, lan ajining saliro ono ing busono. Harga diri itu ada di kepribadian, harga badan itu ada pada pakaian. Rasulullah itu paham betul tentang penampilan yang baik. beliau lemah lembut jika berbicara, tidak pernah marah, tidak pernah berbuat yang membuat orang lain tidak nyaman. Pernah suatu Ketika, Nabi Muhammad itu diberi makanan. Meskipun rasanya tidak enak, maka semuanya di makan. Hal ini untuk menyenangkan pada orang yang memberinya. Bahkan pada sahabat pada heran, sebab biasanya kalau Nabi Muhammad diberi makanan, maka dibaginya dengan para sahabat. Tetapi kali ini lain. Makanan itu dihabiskannya sendiri. ada sahabat yang tanya, mengapa makanan itu tidak dibagi kepada para Sahabat, karena Nabi Muhammad khawatir jika ada sahabatnya yang kecewa dan mencaci makanan. Begitulah akhlak Rasulullah tidak pernah mencaci makanan yang dihidangkan.

2) Nabi Muhammad itu ahsanil qaul atau teladan dalam ucapan. Nabi itu orang yang berkata dengan lemah lembut atau berkata dengan qaulan layyinan. Nabi itu berkata dengan qaulan balighan perkataan yang jelas dan apa adanya. Nabi itu berkata dengan qaulan kariman atau perkataan yang memuliakan. Semua perkataan Nabi adalah sebagaimana yang dinyatakan di dalam Alqur’an. Ini yang disebut akhlaknya Nabi adalah Alqur’an. Terhadap makanan saja Nabi tidak pernah mencela apalagi terhadap sesama manusia.

3) Nabi Muhammad SAW itu Ahsanul khaliqin sebaik-baik akhlak. Nabi Muhammad adalah teladan manusia. Sebagaimana dinyatakan di dalam Alqur’an bahwa “sesungguhnya bagimu pada diri Nabi Muhammad adalah teladan yang baik” atau uswah hasanah. Dengan meneladani Nabi Muhammad SAW di dalam kehidupan, maka kita akan menjadi selamat. Melalui peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW, maka marilah kita baca shalawat sebanyak-banyaknya, mari kita lakukan sunnah-sunnahnya, dan mari kita teladani akhlaknya yang agung.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

JADIKAN NABI MUHAMMAD SAW BERADA DI TENGAH KEHIDUPAN

JADIKAN NABI MUHAMMAD SAW BERADA DI TENGAH KEHIDUPAN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Di dalam Komunitas Ngaji Bahagia (KNB), selalu ada hal-hal yang membuat semua peserta pengajian tertawa. Bagi jamaah Ngaji Bahagia bahwa ngaji merupakan medium untuk membuat hati gembira atau happy dan bahagia. Tidak ada salahnya kalau komunitas ini menyebutnya sebagai Komunitas Ngaji Bahagia. Itu juga yang didapati pada saat melaksanakan pengajian pada Selasa, 09/09/2025.

Saya sebagaimana biasanya diminta untuk menjadi pengantar diskusi. Pengajian ini benar-benar pengajian interaktif, sebab semua peserta pengajian mendapatkan peluang untuk mengajukan pertanyaan atau memberikan bahasan atas ceramah yang dilakukan ba’da shubuh tersebut. Kali ini saya memberikan pengantar tentang betapa hebatnya Kanjeng Nabi Muhammad SAW sehingga di kala Beliau di suatu tempat, maka tidak akan pernah Allah SWT memberikan bencana kepada manusia di tempat tersebut. Ada tiga hal yang saya sampaikan, yaitu:

Pertama, ada di dalam Alqur’an, Surat Al Anfal, ayat 33 yang menyatakan: “wa ma kanallahu liyu’adzdzibahum wa anta fihim, wa ma kanallahu mu’adzdzibahum wa hum yastaghfirun”. Yang artinya: “tetapi Allah tidak akan menghukum mereka, selama engkau (Muhammad) berada di antara mereka, dan tidaklah (pula) Allah akan menghukum mereka, sedang mereka (masih) memohon ampunan”.

Ayat ini mengandung makna fisikal artinya di kala Nabi Muhammad SAW bersama orang-orang Quraisy di masa lalu, atau saat masa kenabian, maka di kala Nabi Muhammad secara fisikal hadir di tengah-tengah umatnya, maka Allah tidak akan memberikan adzab (hukuman) kepada masyarakat di tempat tersebut. Maknanya, kehadiran Nabi Muhammad SAW menjadi jaminan bahwa Allah tidak akan menghukum umat yang sedang bersama Nabi Muhammad SAW. Demikian pula di kala umat tersebut masih menggemakan permohonan ampunan, maka Allah juga tidak akan mengadzabnya atau menghukumnya. Yang demikian ini tentu saja menggambarkan betapa Allah itu memberikan kepada Nabi Muhammad SAW itu suatu kelebihan dibandingkan dengan manusia lainnya. Allah menjamin bahwa siapapun yang berada di sekitar Nabi Muhamad SAW maka akan memperoleh keselamatan.

Kedua, lalu bagaimana dengan manusia yang hidup di masa sekarang, 1447 setelah hijrahnya Nabi Muhammad SAW? Secara fisik Nabi Muhammad SAW sudah wafat, dan secara rohani bahwa Nabi Muhammad SAW sudah berada di alam lain atau alam barzakh, bukan alam dunia.  Nabi Muhammad SAW memang hidup pada tanggal 12 Rabiul Awal  tahun Gajah atau tanggal 29 Agustus 581 M dan ada yang menyatakan tahun 571 M, wafat pada tanggal 8 Juni 632 M atau 12 Rabiul Awal tahun 11 H. Artinya, bahwa orang Quraisy dan umat Islam bersama Beliau secara fisikal, kejiwaan da rohaniyah. Nabi Muhammad hadir secara utuh.

Namun demikian, pada saat sekarang yang ada adalah ajarannya sesuai dengan Kitab Suci Alqur’an dan sunnahnya.

Di dalam konteks ini, maka yang bisa menyambungkan umat Islam dengan Nabi Muhammad SAW adalah pengamalan ajaran Islam sebagaimana ajarannya. Dan di antara yang dapat menjadi washilah adalah bacaan shalawat yang ditujukan kepadanya. Sebagaimana diketahui bahwa Allah SWT mengajarkan kepada umat manusia agar membaca shalawat, sebab Allah dan para Malaikat juga membacanya. “Innallaha wa malaikatahu yushalluna ‘alan Nabi, ya ayyuhal ladzina amanu shallu ‘alaihi wa sallimu Taslima”. Begita kecintaan dan kasih sayangnya Allah kepada Nabi Muhammad SAW, maka Allah sendiri dan para Malaikat juga membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Tentu seharusnya umat Islam membaca shalawat ini. Ini ajaran fundamental di dalam Islam. Nabi Muhammad SAW diberikan oleh Allah SWT otoritas untuk memberikan syafaat dan berkah. Jadi, kalau kita memerlukan syafaat dan berkahnya Kanjeng Nabi Muhammad SAW, maka salah satu kata kuncinya adalah membaca shalawat. Syafaat dan berkah bisa diberikan oleh Nabi Muhammad, sedangkan Rahman dan Rahim adalah haknya Allah SWT.

Di dalam tradisi membaca shalawatan, maka ada satu moment yang disebut sebagai mahalul qiyam, yang isinya membaca shalawat sebuah doa. Bunyi doa tersebut adalah “Rabbi Faghfirli dzunubi Ya Allah, bibarkati Hadi Muhammad Ya Allah”. Yang artinya: “Ya Allah ampuni dosa kami, dengan berkah petunjuk Nabi Muhammad Ya Allah”. Jika seseorang yang dapat membacanya dengan sepenuh jiwa dan raga, maka orang tersebut akan bisa meneteskan air mata, bisa menangis.

Ketiga, kita, para jamaah Ngaji Bahagia ini insyaallah sudah melakukannya. Kita sudah bersama Rasulullah karena kita sudah mengamalkan ajaran Islam, dan juga sudah membaca suratul Fatihah, membaca ayat kursi dan membaca shalawat. Dan kita juga sudah membaca dan melafalkan kalimat tauhid, kunci surga, miftahul Jannah, la ilaha illallah. Jika kita merenungkan hal ini, maka kita bisa optimis bahwa kita akan bisa bersama Nabi Muhammad SAW.

Meskipun kita belum optimal di dalam mengamalkan ajaran Islam atau beragama kita masih minimalis, akan tetapi rasanya masih pantas untuk optimis bahwa surga insyallah ada di dalam kehidupan kita kelak.

Wallahu a’lam bi al shawab.