• January 2026
    M T W T F S S
    « Dec    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

HADIAH  TERBAIK UNTUK ORANG TUA DI ALAM BARZAKH

HADIAH  TERBAIK UNTUK ORANG TUA DI ALAM BARZAKH

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Di kalangan masyarakat awam bahwa sedekah terbaik bagi orang tua yang sudah wafat adalah dengan melakukan tahlilan dan selamatan. Bagi mereka bahwa di dalam kerangka merawat atas roh para leluhur adalah dengan mengirimkan bacaan kalimat thayyibah kepada leluhur yang sudah meninggal. Pandangan ini tentu bukan salah. Tetapi jangan hanya ini yang dilakukan akan tetapi sedekah terbaik bagi orang tua yang sudah wafat adalah dengan melakukannya sendiri. Bukan oleh orang lain.

Seiring dengan kedatangan saya di desa kelahiran saya, maka ba’da shubuh, saya dapat memberikan ceramah sekedarnya terkait dengan amalan-amalan terbaik yang bisa dilakukan. Pada hari Senin, 30/06/2025, saya memberikan ceramah kepada jamaah shalat shubuh di Mushalla Raudhatul Jannah Dusun Semampir, Desa Sembungrejo, Kecamatan Merakurak Tuban. Temanya melanjutkan tema sehari sebelumnya, yaitu tentang amalan-amalan ibadah yang terbaik yang penting dilakukan. Ada tiga hal yang saya sampaikan, yaitu:

Pertama, perintah mengeluarkan sedekah bukan perintah sebagai kewajiban akan tetapi sunnah saja. Sunnah muakkad. Berbeda dengan zakat yang merupakan kewajiban sebagai seorang muslim, sedekah tidak seperti itu. Perintah di dalam Alqur’an, khudz min amwalihim shadaqatan tuthahhiruhum wa tuzakkihin biha. Yang artinya: “ambillah sebagian hartamu sebagai sedekah, untuk mensucikan dan membersihkannya”. Jadi, dengan mengeluarkan sedekah maka harta  akan menjadi bersih dan suci.

Yang diwajibkan oleh Allah adalah sebagaimana yang tertera di dalam hadits Nabi Muhammad SAW, yaitu membaca syahadat, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, melakukan puasa dan berhaji bagi yang mampu. Meskipun tentang sedekah itu terdapat perintah yang tegas tetapi tidak termasuk perintah yang wajib akan tetapi sunnah saja. Jadi orang yang mengeluarkan sedekah berarti telah melakukan sunnah di dalam ajaran Islam.

Perintah sedekah terkait dengan dua kebaikan sekaligus, yaitu untuk mengamalkan ajaran Islam sebagaimana kepatuhan atas perintah Allah. Jadi ada dimensi vertikalnya, akan tetapi juga ada dimensi horizontalnya. Yaitu ibadah yang memiliki cakupan untuk membangun relasi kepada sesama umat manusia. Ada dimensi kebaikan bagi kehidupan social kemasyarakatan. Sesiapapun  yang memberikan sedekahnya, berarti telah melakukan kebaikan kepada Allah dan juga kebaikan untuk umat manusia.

Kedua, Di dalam sebuah hadits Nabi yang sudah sangat lama dipahami, bahwa ada amalan yang terus ikut meskipun orangnya sudah meninggal. Yaitu sedekah jariyah, anak shalih yang mendoakan kepada orang tuanya dan ilmu yang bermanfaat. Dengan demikian, meskipun ada seseorang yang sudah meninggal,  akan tetapi amalnya akan terus terjaga jika yang bersangkutan di dalam hidupnya melakukan sedekah.

Sedekah yang diterima Allah dan pahalanya akan terus berlangsung meskipun yang bersangkutan sudah wafat adalah sedekah yang dilakukannya sewaktu yang bersangkutan masih hidup. Jadi jika ada orang yang mengeluarkan sebagian kecil hartanya untuk fakir miskin dan kaum mustadh’afin lainnya, maka amal itulah yang akan dibawanya sampai ke liang lahat. Bahkan sampai di alam akhirat. Sedekah  tersebut,  banyak atau sedikit akan menjadi bagian dari kehidupan manusia di alam barzakh dan alam akherat. Tetapi syaratnya bahwa amal sedekah tersebut haruslah dilakukan dalam keadaan Ikhlas karena Allah semata, bukan karena factor lainnya.

Ketiga, jika kita mengeluarkan harta untuk orang yang sudah wafat maka hal tersebut bukanlah sedekah akan tetapi hadiah. Yaitu mengirimkan amal kebaikan untuk orang yang sudah wafat dengan harapan hadiah tersebut akan dapat sampai kepada yang bersangkutan. Jadi ada peluang, yaitu diterima pahalanya dan dikirimkan kepada orang yang telah wafat atau tidak diterima pahalanya dan tidak disampaikan kepada yang bersangkutan. Persyaratan yang paling mendasar adalah keikhlasan. Pelaku harus Ikhlas dan yang membantu juga harus Ikhlas. Untuk bisa Ikhlas, maka syaratnya berat, yaitu sama sekali tidak ada keberatan secara ekonomi tentang pemberian hadiah dimaksud. Yang punya hajad harus Ikhlas karena sama sekali tidak memberatkannya, dan yang membantu juga harus Ikhlas tanpa ada sedikitpun perasaan kurang puas. Jangan mengada-adakan karena tradisi atau kebiasaan yang sudah berlangsung turun temurun.

Pertimbangkan benar kekuatan kita untuk mengirimkan hadiah dimaksud. Banyak atau sedikit itu relative, tetapi semuanya harus tercukupi dengan kemampuan ekonomi. Jangan khawatir dianggap kurang menghormati roh orang yang sudah wafat, karena kita tidak memberi hadiah berlebihan. Yang diterima oleh Allah secara langsung hanya tiga, sebagaimana hadits di atas, yaitu sedekahnya sendiri, doa anaknya sendiri dan ilmunya sendiri yang bermanfaat.

Jika kita ingin memberikan hadiah kepada orang tua, kerabat dan leluhur kita yang sudah almarhum, maka berikan hadiah langsung kepadanya, misalnya dengan membaca surat Alfatihah, membaca tahlil sendiri atau membaca kalimat thayyibah atau membaca Alqur’an. Jika orang-orang ini yang membacanya, insyaallah dipastikan ada keikhlasan. Dipastikan  diterima oleh Allah. Oleh karena itu janganlah berbangga dengan banyaknya orang yang hadir saat ada peristiwa kematian dengan membaca yasin atau tahlil, sebab besar peluang mereka yang hadir hanya untuk memenuhi tugas social dan bukan tugas untuk memberikan hadiah kepada arwah yang sudah meninggal.

Berbahagialah jika kita sendiri yang berdoa kepada Allah sebab di dalamnya dipastikan ada keikhlasan dan kesenangan. Dan semoga keikhlasan dan kesenangan tersebut berimbas pada kebahagiaan orang yang diberikan hadiah.

Wallahu a’lam bi al shawab.

IMAN SEBAGAI NIKMAT TERBESAR

IMAN SEBAGAI NIKMAT TERBESAR

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Hari Sabtu, 28/06/2025, saya ke Tuban. Tentu untuk menjenguk Emak, Hj. Turmiatun,  yang masih hidup dan juga mengantarkan cucu saya, Yuvika, Arfa dan Echa, yang juga berlibur di Tuban. Sambang buyutnya. Begitu datang di Tuban langsung ke kolam renang di Hotel Tuban Resort dan kemudian makan siang di Mie Gacoan. Karena saya tidak pintar dalam memilih level mie, maka saya langsung minta level 1. Ternyata sudah pedas. Akhirnya Vika dan Echa tidak jadi makan mie Gacoan. Ternyata penting juga literasi kulineran.

Hari Ahad  pagi, 29/06/2025, saya shalat shubuh berjamaah di Mushalla Raudhatul Jannah, yang diikuti oleh teman-teman saya di masa lalu. Senang juga bernostalgia dengan  sahabat-sahabat saya yang tentu sudah berusia senja. Sudah di atas 60-an tahun. Memang ada beberapa di antaranya yang masih berusia muda, dibawah 50 tahunan. Sebagaimana biasanya, maka ba’da shubuh lalu saya memberikan sedikit taushiyah kepada para jamaah, lelaki dan perempuan. Ada tiga hal yang saya sampaikan:

Pertama, ucapan Syukur kepada Allah SWT. Kita harus bersyukur kepada Allah karena kenikmatan yang diberikan kepada kita, baik nikmat duniawi maupun kenikmatan iman dan Islam. Kita masih bisa melihat keindahan dunia. Kita masih bisa menikmati kehidupan yang ada di sekeliling kita. Kita tidak kaya harta, tetapi kaya hati, kaya perasaan dan kaya iman kepada Allah SWT.

Kita masih bernafas sebagai nikmat hidup terbesar. Paru-paru kita masih sehat, sehingga dengan paru-paru yang sehat tersebut, maka kita dapat  melakukan kegiatan-kegiatan yang mendukung kehidupan. Jika paru-paru kita sehat, maka jantung, limpa, otak dan seluruh anasir tubuh juga sehat. Tetapi jika paru-paru kita tidak sehat, maka  unsur tubuh lainnya juga menjadi tidak sehat. Maka kita harus bersyukur atas pemberian Tuhan yang berupa kesehatan tersebut.

Bayangkan jika paru-paru kita tidak sehat dan harus menggunakan bantuan oksigen, maka harganya mahal sekali. Satu tabung bisa berharga jutaan. Padahal setiap hari kita menghirup udara tanpa bayar. Gratis. Rasanya jika tidak bersyukur kepada Allah yang sudah memberikan udara bersih kepada kita setiap hari tentu kita sungguh keterlaluan. Terlalu, katanya Bang Haji Rhoma Irama.

Kedua, nikmat Iman adalah nikmat terbesar. Tidak ada yang melebihi nikmat iman ini. Nikmat yang abadi, nikmat yang tidak berhenti di dunia tetapi akan terus ada di dalam alam barzakh dan alam akherat. Iman akan dibawa sampai ke liang lahat dan terus ke akherat. Oleh karena itu, iman kita sebut sebagai nikmat Allah yang tiada taranya. Nikmat terbesar bagi manusia.

Nikmat harta adalah nikmat duniawi yang tidak abadi. Begitu meninggal, maka seluruh harta yang dimiliki akan ditinggalkan. Tidak ada yang mengikuti jasad manusia  yang sudah menjadi bangkai.  Semua ditinggalkan. Bayangkan ada orang kaya di Amerika, Namanya Bill Gate, hartanya itu ribuan trilyun. Tetapi kala yang bersangkutan meninggalkan dunia, pasti harta tersebut akan ditinggalkan. Masih untung jika tidak dijadikan rebutan. Banyak harta yang ditinggalkan oleh orang tua, dan kala orang tuanya wafat, maka harta warisannya menjadi rebutan.

Makanan yang paling enak untuk masyarakat pedesaan adalah gulai sapi atau kambing, yang disebut sebagai becek, atau rawon, atau pecel Madiun atau kare. Akan tetapi kekuatan makan kita hanya satu piring dan setelah itu selesai. Minuman yang paling enak adalah es kelapa  muda atau es degan,  atau es cendol atau wedang kopi. Tetapi juga hanya sebatas satu cangkir atau lebih. Kita memiliki mobil bagus, memiliki jam tangan mewah, kita memiliki rumah yang besar, magrong-magrong, akan tetapi berapa banyak kamar yang dibutuhkan. Mungkin rumah kita bertatahkan emas, akan tetapi yang dibutuhkan untuk tidur hanyalah satu kamar.

Presiden Donald Trump, dari Amerika Serikat, rumahnya bertatahkan emas, akan tetapi pusing juga memikirkan Israel yang “kalah” perang melawan Iran. Yang dibutuhkan hanyalah satu kamar. Jadi, seberapapun kita memiliki segalanya di dunia ini, akan tetapi hanya akan menjadi benda-benda yang tidak berguna di kala sudah wafat. Sungguh bahwa seluruh harta, jabatan dan usaha yang kita miliki tidak ada artinya karena seluruhnya bersifat tidak kekal atau fana. Hilang ditelan oleh waktu.

Ketiga, di sinilah makna agama. Islam mengajarkan agar manusia beriman dan bersyukur kepada Allah. Nikmat Allah terutama nikmat iman adalah nikmat terbesar. Kita bersyukur dilahirkan di desa yang kita cintai ini. Karena kita lahir di sini, maka kita menjadi beriman kepada Allah SWT. Kita menjadi umat Islam. Andaikan kita lahir di Papua, maka peluangnya tentu lebih kecil untuk menjadi umat Islam. Itulah sebabnya kita harus bersyukur karena kita diberikan hidayah tanpa berusaha secara optimal untuk memperolehnya.

Makanya, di dalam Alqur’an dinyatakan: “Amantu billahi tsummastaqim”. Yang artinya kurang lebih: “aku beriman kepada-Mu dan akan terus beriman dan menjalankan ajaran-Mu”.

Wallahu a’la bi al shawab.

 

 

KETAATAN KEPADA ALLAH DAN RASULNYA

KETAATAN KEPADA ALLAH DAN RASULNYA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Pada waktu acara tahsinan di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya, 23/06/2025, terdapat suatu ayat yang menarik untuk dikaji lebih mendalam terkait dengan ketaatan kepada Allah dan ketaatan kepada Rasulullah. Lalu bisa dipertanyakan, apakah kesamaaannya dan apakah perbedaannya, ataukah sama ketaatan tersebut. Surat Attghabun ayat 12 menyatakan: “taatlah kepada Allah dan rasul-Nya. Jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban rasul Kami hanyalah menyampaikan (Amanah Allah) dengan terang.” Lalu pada ayat berikutnya, ayat 13,  dinyatakan: “(Dialah) Allah tidak ada Tuhan selain Dia. Dan hendaklah orang-orang mukmin bertawakkal kepada Allah.”

Ayat ini menarik untuk dibahas bukan dengan menggunakan ilmu tafsir, akan tetapi mencoba memahami dari dimensi rasio saja. Artinya bahwa ayat tersebut dapat dipahami dengan pendekatan aqliyah. Yaitu pendekatan yang mengedepankan akal untuk dijadikan sebagai piranti memahami ayat dimaksud. Sekali lagi bukan tafsir ayat Alqur’an tetapi sekedar memahami pengertian umum dari ayat tersebut.

Taat di dalam bahasa Indonesia adalah patuh atau tunduk pada perintah atau aturan yang berlaku dalam kaitannya dengan Tuhan, hukum atau regulasi lainnya. Secara tegas bisa dinyatakan bahwa taat artinya adalah patuh dan tunduk. Jadi arti secara kebahasaan tentang taat kepada Allah artinya adalah patuh dan tunduk kepada Allah. Demikian pula arti taat kepada Rasulullah adalah patuh dan tunduk kepada Rasulullah. Sebagaimana penjelasan saya, bahwa tentu ada perbedaan antara patuh dan tunduk kepada Allah dan patuh dan tunduk kepada Rasulullah. Ini yang saya ungkapkan sama tetapi berbeda. Artinya, manusia harus sama kepatuhan dan ketundukannya kepada Allah dan Rasulnya, akan tertapi berbeda corak dan ekspresinya.

Di dalam ayat 13 dijelaskan bahwa manusia harus beriman kepada Allah, tidak ada Tuhan selain Allah dan bertawakkal kepadanya. Jadi ada dua hal yang terkait dengan kepatuhan dan ketundukan kepada Allah, yaitu tidak mensyarikatkan atau musyrik dan kemudian berpasrah diri kepada-Nya. Iman dan tawakkal merupakan indicator atas ketaatan kepada Allah SWT. Iman kepada Allah merupakan kunci atas keimanan seseorang. Tidak boleh percaya kepada yang lain tanpa didahului iman kepada Allah. “amantu billahi tsummas taqim”. Saya beriman kepada Allah dan terus mengimaninya. Tidak boleh bergeser sedikitpun di dalam keimanannya. Iman memang bisa naik turun, yazid wa yankush, tetapi tidak boleh menjadi bergeser untuk tidak mengimani kepada Allah. Jangan menjadi atheis. Tidak mengakui bahwa ada Yang Maha Pencipta dan Maha Kuasa.

Lalu bagaimana dengan taat kepada Rasulnya? Di sini ada perbedaannya. Taat kepada Rasul artinya secara etimologis adalah patuh dan tundak kepada Rasulullah. Tentu berbeda dengan kepatuhan dan ketundukan kepada Allah. Taat kepada Rasul itu artinya secara terminologis adalah mematuhi atas sunnah yang harus dilakukan manusia. Dengan melakukan sunnah rasul, maka kita telah taat kepada Rasulullah. Jangan jadi kelompok ingkarus sunnah. Akhir-akhir ini ada kelompok yang menyatakan tidak mengikuti sunnah rasul dan hanya mematuhi Alqur’an. Tidak bisa seperti itu. Alqur’an memerintahkan kepada manusia untuk taat  kepada Allah dan juga taat kepada Rasulullah.

Sebagai manusia biasa atau orang awam dalam mengamalkan ajaran agama tentu belum semua sunnah rasul dapat kita lakukan. Tetapi kita harus meyakini bahwa kita harus beriman tentang kerasulan Muhammad SAW dan menjalankan apa yang diperintahkan untuk dilakukan sesuai dengan  ajaran Islam. Hakikat apa yang dilakukan oleh Rasulullah adalah apa yang diperintahkan oleh Allah. Jadi antara apa yang dilakukan oleh Rasulullah adalah perintah Allah SWT. Di dalam Alqur’an dijelaskan: wa ma yantiqu ‘anil hawa in huwa illa wahyuy yuha”. “Dan tidaklah sekali-kali Rasul itu melakukan sesuatu atas hawa nafsunya, kecuali atas wahyu yang diwahyukan kepada-Nya”.

Ketaatan kepada Allah dan Rasul-nya itu, kedua-duanya mutlak. Tidak bisa dipisah mentaati yang satu dan menafikan lainnya. Keduanya berjalan simultan.  Tetapi berbeda di dalam wujud ketaatannya. Yang pertama kemutlakan tidak mensyarikatkan kepada apapun, dan yang ketaatan kepada Nabi adalah dengan melakukan amalan yang sudah diajarkan kepada manusia melalui wahyu Allah kepada Nabi Muhammad SAW. Orang yang taat kepada Allah harus diwujudkan dengan melakukan ajaran Islam sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Beruntunglah kita semua yang pada saat usia semakin senior, dan kita semakin mendekati ajaran agama Islam dengan sungguh-sungguh. Kita bisa membaca Alqur’an meskipun dalam surat-surat yang terbatas. Misalnya one day one surah plus. Acara Ngaji Bahagia, membaca Surat Al Waqiah, dan Surat Al Kahfi dan acara tahsinan setiap hari adalah wujud dari ketaatan kita kepada Allah dan Rasulnya.

Kita semua merasa telah menjadi bagian dari umat Islam yang menjalankan ajaran Islam sesuai dengan keyakinan atas ajaran Islam sebagaimana diajarkan oleh ulama-ulama salaf yang shalih. Semua ini diharapkan dapat menjadi jembatan yang mengantarai relasi antara kehidupan duniawi dan kehidupan ukhrawi yang pasti terjadi.

Allahumma bariklana fi umrina, wabariklana fi hayatina, wa bariklana fi kulli a’malina fil khair. Amin.

Wallahu a’lam bi al shawab.

MANFAAT SURAT ATTAGHOBUN

MANFAAT SURAT ATTAGHOBUN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Hari Sabtu saya memang sengaja untuk pulang ke rumah saya di Tuban, karena ada pelepasan atas kelulusan anak-anak Taman Kanak-Kanak Alhikmah. Sebagai ketua Yayasan Pendidikan ini,  saya tidak boleh melewatkan acara special yang diselenggarakan oleh Kepala Sekolah Taman Kanak-Kanak (TK) Al Hikmah. Acara tersebut diselenggarakan pada 21 Juni 2025. Hadir seluruh guru KB dan TK Al Hikmah, siswa dan orang tua siswa dan pejabat Desa Sembungrejo.

Saya tentu menginap di rumah saya, sebab masih ada Emak, Hj. Turmiatun. Oleh karena itu, pada Hari Ahad, 22 Juni 2025, saya menjadi imam shalat Shubuh dan sekaligus menjadi penceramah. Saya upayakan setiap saya pulang ke rumah Tuban, maka saya selalu memberikan taushiyah kepada para jamaah, khususnya jamaah shalat  Shubuh. Tema yang saya sampaikan pada ceramah shubuhan tersebut terkait dengan Surat Attghabun, Surat di dalam Alqur’an yang memiliki banyak hikmah. Ada tiga hal yang saya sampaikan di dalam ceramah tersebut, yaitu:

Pertama, mari bersyukur karena kita masih diberi kehidupan,  masih bisa bernafas dan masih sehat. Dengan diberi kehidupan berarti Tuhan masih menyayangi kita untuk bisa bertaubat kepada-Nya. Jika ada kesalahan, kekhilafan dan dosa berarti kita masih diberi peluang untuk membaca istighfar atau shalawat Nabi. Keduanya dapat dijadikan sebagai instrument untuk memperoleh ridhanya Allah SWT. Kita semua ini sudah orang yang berusia tua. Saya  sudah 67 tahun, Kang Matmui sudah 68 tahun, Kang Junaidi sudah 65 tahun. Dan lainnya sudah di atas 50 tahun. Bahkan di antara Kawan-kawan kita sudah banyak yang meninggal dunia.

Marilah kita bersyukur dengan cara semakin banyak membaca shalawat kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW semoga kita semua dapat memperoleh syafaat dari Kanjeng Rasulullah Muhammad SAW. Marilah kita perbanyak membaca shalawat tersebut karena di antara yang diberikan otoritas oleh Allah SWT kepada umat Islam adalah Nabi Muhammad SAW dan kitab suci Alqur’an.

Kedua, kali ini saya akan memberikan penjelasan sedikit saja tentang salah satu Surat di dalam Alqur’an, yaitu Surat Attaghabun, yang artinya adalah penampakan kebaikan dan keburukan. Waktu penampakan kebaikan dan keburukan tersebut disebut sebagai yaumut taghabun. Hari tersebut terjadi pada saat manusia berada di padang Mahsyar, salah satu padang tempat dibangkitkannya manusia dari kuburnya. Mereka keluar dari kuburnya dengan berbagai macam rupa. Tidak mengenal satu sama yang lain. Berdasarkan kajian ilmiah bahwa dari tubuh kita  ada yang tidak hancur. Disebut sebagai tulang ekor. Dibakarpun tidak hancur. Anggota tubuh lain dapat rusak, akan tetapi satu bagian tubuh, tulang ekor, tersebut tidak akan rusak. Dari situlah manusia dibangkitkan.

Di dalam Surat Attaghabun dinyatakan bahwa orang kafir itu tidak meyakini bahwa akan ada hari kebangkitan manusia dari kuburnya, tidak percaya bahwa akan ada siksa di dalam neraka dan  tidak ada pahala serta  kebaikan dari surga. Itulah sebabnya Allah memberikan penjelasan di dalam Alqur’an bahwa semua yang diberitakan di dalam Alqur’an,  baik yang berupa kabar kebahagiaan maupun kabar kepedihan adalah sesuatu yang hak, dan termasuk bagian dari keimanan atas hal-hal yang di masa sekarang dianggap sebagai kegaiban. Di dalam Surat Albaqarah dinyatakan “dan orang-orang yang meyakini hal-hal yang gaib, yang menjalankan shalat dan yang menginfakkan sebagian hartanya”.

Allah menggambarkan bahwa surga dan neraka itu sebuah kenyataan di masa yang akan datang. Bukan sesuatu yang gaib. Di masa sekarang merupakan kegaiban tetapi di masa yang akan datang adalah kenyataan. Bahkan juga digambarkan bahwa di dalam surga  terdapat air yang mengalir dan orang mukmin akan kekal di dalamnya. Sebaliknya orang kafir akan dimasukkan ke dalam neraka dengan api yang menyala-nyala dan juga akan kekal di dalamnya. Menurut Surat Attaghabun, tidak ada satupun manusia, kecuali para Nabi, yang terhindar dari yaumul ba’ats dan juga yaumut taghabun.

Ketiga, kita bersyukur kepada Allah karena kita mendapatkan iman yang benar dan kita sudah menjalankan ajaran Islam dengan benar. Coba kalau kita rasakan, hampir setiap pagi kita  shalat berjamaah shalat  shubuh. Jarang orang yang bisa melakukannya. Dan kita sudah melakukannya. Apalagi jika kita bisa shalat malam atau qiyamul lail. Kita bangun jam 02.00 atau jam 2.30 atau bangun jam 03.00 atau jam 3.30 WIB. lalu bisa shalat hajad 2 atau 4 rakaat, lalu shalat taubah 2 rakaat terus membaca dzikir tentang kalimat thayyibah. Ini tentu sebuah kebaikan yang luar biasa. Lalu kita ke masjid untuk shalat qabliyah shubuh dan dilanjutkan dengan shalat shubuh. Pahalanya sangat luar biasa. Dan insyaallah kita sudah melakukannya. Kebahagiaan ini yang sudah kita rasakan. Dan harapan kita semoga kita  menjadi orang yang merasa bahagia di kala akan wafat.

Surat Attaghabun ini memiliki beberapa hikmah, di antaranya adalah gambaran kebahagian dan kesengsaraan di alam mahsyar dan lanjut di alam akhirat. Kemudian kabar tentang perlindungan Allah kepada hambanya dengan kasih sayangnya. Tidak diperkenankan kita untuk memarahi keluarga kita yang melakukan kesalahan. Dan yang terpenting adalah kabar kegembiraan bagi orang muslim untuk meninggalkan dunia atau wafat di dalam keadaaan khusnul khatimah.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

PENAMPAKAN KESALAHAN, KEKHILAFAN DAN DOSA

PENAMPAKAN KESALAHAN, KEKHILAFAN DAN DOSA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Acara tahsinan yang diselenggarakan di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya telah sampai pada Surat Attaghabun, Senin, 16/06/2025. Secara harfiyah arti Attaghabun adalah “hari ditampakkan segala kesalahan”. Disebut Yauma Attghabun atau artinya hari ditampakkan semua kesalahan. Melihat makna ayat ini, sesungguhnya ayat ini terkait dengan kehidupan sesudah mati dan alam kubur atau hari perhitungan amal perbuatan manusia. Di alam mahsyar.

Dilihat dari asbabun nuzulnya,  surat ini diturunkan karena adanya sahabat Nabi Muhammad yang terlambat untuk ikut hijrah. Di kala sahabat lain sudah berhijrah ke Madinah sehingga pengetahuan beragama sudah semakin baik,  sahabat Nabi Muhammad  tersebut belum berangkat karena isteri dan anak-anaknya melarangnya. Oleh karena itu, sahabat Nabi Muhammad itu ingin menghukum isteri dan anak-anaknya, tetapi Allah menurunkan surat Attaghabun di mana Allah justru meminta mereka memaafkan istri dan anak-anaknya.

Surat ini oleh beberapa kalangan dianggap sebagai surat di dalam Alqur’an yang perlu dibaca di kala ada seseorang yang berada di dalam sakaratul maut atau menjelang wafat. Itulah sebabnya perlu dicari, bagaimana penalaran atas ayat demi ayat di dalam Surat Attaghabun agar bisa dipahami mengapa surat ini yang dibaca. Jika Surat Al Waqiah  sering dikaitkan dengan rejeki, maka bisa dipahami sebab yang namanya rejeki itu tidak selalu dalam bentuk materi atau benda akan tetapi bisa juga dalam bentuk rejeki akan keimanan dan keislaman. Rejeki iman dan Islam adalah rejeki terbesar di dalam kehidupan manusia.

Di dalam surat ini terdapat pernyataan Tuhan yang terkait dengan masa depan manusia yang sudah wafat. Bahwa manusia akan dibangkitkan oleh Allah pada waktu berada di alam mahsyar. Tetapi ada sebagian umat manusia yang tergolong orang kafir yang tidak mempercayai akan adanya Yaumul Ba’ats atau hari kebangkitan. Orang atheis, misalnya mempercayai bahwa kematian adalah kerusakan salah satu system tubuh, sehingga tidak lagi fungsional. Jika fungsi paru-paru hanya tinggal di bawah 30 persen, maka peluang meninggal sedemikian besar. Dengan kerusakan paru-paru,  maka akan berpengaruh pada subsistem tubuh lainnya, misalnya jantung, otak dan lainnya.

Di dalam ayat 7 dijelaskan bahwa orang kafir mengira bahwa mereka tidak akan dibangkitkan, tetapi Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad, bahwa “demi Tuhanku kamu pasti akan dibangkitkan, kemudian diberitakan semua yang telah dilakukan”. Jadi orang kafir atau atheis tidak mempercayai akan adanya hari kebangkitan sebagaimana diinformasikan oleh Nabi Muhammad berdasarkan atas wahyu Allah. Merekalah orang yang akan menjadi penghuni neraka dalam waktu yang lama. Sedangkan orang yang mempercayainya akan diganjar dengan surga juga dalam jangka waktu yang sangat lama. Mereka yang di surga akan kekal selamanya. Kekekalan yang tentu tidak sama dengan kekekalan Allah SWT. Surga dan neraka, manusia dan alam adalah ciptaan Tuhan sehingga tidak akan menyaingi  kekekalan Allah SWT.

Juga digambarkan bahwa orang yang mengerjakan kebaikan akan dapat menghapus kesalahan-kesalahannya. “waman yu’mim billahi wa ya’mal shalihan yukaffir ‘anhu sayyiatihi wa yudkhilhu Jannat”. “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan melaksanakan perbuatan yang baik niscaya Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya di dalam surga”.

Di dalam hadits Nabi Muhammad SAW dinyatakan: “ittaqillaha haitsuma kunta wa atbi’is sayyiatal hasanata tamhuha”, yang artinya kurang lebih “bertaqwalah kepada Allah di manapun kamu berada dan ikutilah perbuatan yang jelek dengan perbuatan yang baik yang akan menghapus kejelekannya”. Ayat dan hadits ini merupakan berita gembira atau tabsyir kepada umat Islam agar selalu berada di dalam ketaqwaan kepada Allah di manapun, dan andaikan ada kesalahan maka hendaklah segera melakukan perbuatan yang baik karena perbuatan yang baik tersebut akan menghapus  dosa perbuatan yang jelek.

Lalu dimana relevansi surat Attaghabun dengan peristiwa kehidupan menjelang kematian? Surat Attaghabun merupakan surat yang memberitahukan tentang suasana Yaumul Ba’ats yang menggambarkan tentang pengungkapan kesalahan, kekhilafan dan dosa. Pada saat tersebut manusia, siapapun dia, tidak akan bisa mengingkari tentang apa yang dilakukannya. Dengan membacakan ayat-ayat di dalam Surat Attghabun bagi orang yang menghadapi kematian, maka memberikan keyakinan bahwa semua kelakuannya sudah berada di dalam catatan amalnya.

Bisa saja relasi antara bacaan Surat Attaghabun dengan suasana menjelang kematian tidak bersifat langsung, akan tetapi memiliki pengaruh psikhologis bagi orang yang akan wafat. Dengan memberikan informasi tentang surga,   maka akan memberikan kabar yang baik bagi seseorang yang dalam keadaan menghadapi kematian. Sedangkan informasi tentang neraka tentu juga akan memberikan gambaran bahwa yang bersangkutan harus menghadapinya. Memang hanya ada dua pilihan mendengarkan kabar baik atau kabar buruk.

Surat Attaghabun merupakan salah satu surat di dalam Alqur’an yang memiliki hikmah mengenai kebahagiaan abadi di akherat dan juga kesengsaraan abadi di akherat. Bagi orang yang beriman kepada Allah dan beramal kebaikan,  maka akan mendapatkan kebahagiaan. Sedangkan  orang yang kafir dan berbuat kedhaliman,  maka juga akan menanggung akibatnya. Dan yang tidak kalah menarik bahwa Surat Attaghabun memastikan bahwa Allah akan memberikan perlindungan  bagi orang yang patuh kepada-Nya dan dapat meninggalkan kehidupan dengan damai.

Pada aspek seseorang akan meninggalkan kehidupan dengan kedamaian inilah yang kiranya menjadi salah satu alasan mengapa Surat Attaghabun dibacakan kepada orang yang berada dalam situasi sakaratul maut.

Wallahu a’lam bi al shawab.