• February 2026
    M T W T F S S
    « Jan    
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    232425262728  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

PERILAKU PERMISSIVE

PERILAKU PERMISSIVE

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Kehidupan di era sekarang adalah kehidupan yang serba boleh. Apapun bisa dilakukan yang penting tidak mengganggu orang lain. Ini merupakan contoh di mana seseorang menempatkan dunia privasi di atas dunia kehidupan social. Artinya, bahwa jika selama secara privat tidak mengganggu orang,  maka selama itu boleh dilakukan. Pandangan ini merupakan bentuk kehidupan yang memisahkan antara yang privat dengan yang public sedemikian mencolok, sehingga seakan-akan manusia itu hidup di alam sendirian.

Kehidupan yang mengedepankan kepentingan privat ketimbang kehidupan social adalah kehidupan binatang. Dalam  arti hubungannya dengan binatang lain. Sebab hewan sesungguhnya juga memiliki solidaritas yang kuat di antara sesama jenisnya. Misalnya hewan dubug atau heyna yang hidup berkelompok dengan sesamanya dan saling menolong terhadap sesamanya. Demikian pula yang lain.

Saya mencoba mengenalnya bahwa manusia yang hanya mementingkan dirinya sesungguhnya memiliki sifat kebinatangan atau sifat hayawaniyah yang jauh lebih besar ketimbang nafsu sosialiyahnya atau nafsu ijtimaiyahnya. Di era kapitalisme seperti ini, maka sifat manusia kembali kepada sifat hakikinya yang berupa sifat nafsi-nafsi atau sendiri-sendiri. Sesungguhnya sifat seperti ini sudah ada semenjak manusia diciptakan Tuhan untuk tahap awal. Kita masih ingat cerita tentang Qabil dan Habil yang menghiasi sejarah agama-agama Semitis di dunia. Yahudi, Nasrani dan Islam.

Saya ingin memberi contoh tentang perilaku seseorang yang saya lihat secara empiric sensual atau dengan pengamatan mata. Saya naik pesawat terbang dari Surabaya ke Jakarta, dan terus dari Jakarta ke Lampung, 30/01/2026. Terdapat seorang penumpang yang pakaiannya sangat minim. Perempuan dengan celana pendek. Pendek sekali. Baju yang atas juga kurang sekali. Perempuan ini berada di samping saya, sehingga saya tahu bagaimana dia naik pesawat dan duduk di kursi. Kedua kakinya naik ke kursi. Masih untung karena memakai syal untuk menutupi kedua kakinya. Orang Jawa menyebut: “ora ilok,  atau tidak pantas atau tidak etis.

Bagi kaum etikawan atau orang yang memandang etika sebagai basis keberadaan seseorang di ruang public tentu sangat terganggu. Maklum biasanya kaum etikawan atau agamawan itu selalu menjadikan norma-norma agama atau etika sebagai tolok ukurnya. Makanya, di kala kaum agamawan atau etikawan tersebut mengetahui hal ini, maka langsung di dalam hati akan menyatakan: “ini kemaksiatan tubuh”.

Kata maksiat tentu sebuah ungkapan yang memiliki konsekuensi hukum agama. Bahwa yang dilakukan adalah dosa, sebab seharusnya tubuh perempuan harus tertutup. Yang boleh diperlihatkan adalah wajah dan tangan atau jari-jarinya. Bahkan kaum Salafi Wahabi menyatakan semua tubuh perempuan adalah aurat, maka wajahpun harus dihias dengan niqab atau cadar. Semua tubuhnya tertutup secara menyeluruh. Orang Jawa menyatakan berukut. Inilah ajaran agama yang diyakini kebenarannya dan harus dilakukan di dalam kehidupan. Makanya jika kita berada di Arab Saudi, kita akan melihat betapa banyaknya perempuan yang memakai niqab dimaksud.

Bagi kaum agamawan, maka membuka aurat perempuan juga mengganggu orang lain. Akan menyebabkan terjadinya kemaksiatan mata atau ma’shiyatul ‘ain. Bagaimana tidak akhirnya juga ada orang yang secara terpaksa atau tidak terpaksa untuk menatapnya. Saya menjadi ingat tayangan di Youtube yang menyatakan: “dilihat maksiat tidak dilihat barang bagus”. Ini adalah gambaran yang terjadi jika di sekitar kita terdapat perilaku kemaksiatan.

Perilaku permissive banyak dilakukan pada masyarakat Barat. Saya pernah ke Kanada,  Belanda, Perancis dan Amerika. Tentu melihat lelaki dan perempuan muda yang  berciuman di jalan raya itu  bukan hal yang aneh. Biasa saja. Mereka berpikir bahwa mereka berdua tidak mengganggu orang lain. Ini urusan privat. Suka sama suka. Tidak ada yang dirugikan. Inilah wujud nyata dari yang saya sebut sebagai perilaku privat. Di dalam bahasa Orang Betawi dinyatakan: “ini urusan gue, bukan urusan elu”.

Di dalam pandangan kaum materialis, bahwa tubuh manusia itu adalah materi. Sebuah susunan materi yang terdiri dari daging, darah, saraf dan tidak ada di dalamnya urusan roh, jiwa dan sebagainya. Pokoknya materi. Karena materi,  maka kematian sesungguhnya adalah di kala bagian-bagian tubuh tersebut rusak, misalnya jantung, paru-paru, ginjal dan lain-lain. Jika kekuatan paru-paru tinggal 30 persen maka pertanda kehidupan akan berakhir. Mati.

Sebagai benda  juga akan mengikuti hukum materi. Tidak ada yang lebih dari itu. Secara alami benda  tidak perlu tertutup. Makanya di Barat terdapat kaum nudis. Back to nature. Menjadi bugil adalah kembali ke alam. Ada mall yang seluruh penjaga dan pengunjungnya harus menanggalkan pakaiannya. Sedangkan berpakaian adalah nurture atau budaya.

Berpakaian adalah hasil konstruksi manusia tentang tradisi berpakaian. Ada nilai-nilai di dalam berpakaian.  Orang Jawa Perempuan dulu berpakaian dengan kemben atau atasannya atau di atas dada terbuka dan tanpa jilbab. Di Jawa, jilbab disebut sebagai kerudung. Yaitu kain yang dililitkan di kepala dengan pakaian atasan dan jarit atau bawahan yang tertutup. Ini adalah tradisi berpakaian hasil dari pemikiran local dan tradisi dalam berpakaian.

Tubuh sebagai benda dapat diperlakukan sesuai dengan kehendak yang punya. Mau ini atau mau itu sangat tergantung kepada yang empunya tubuh. Beyonce Knowls, American Singer, song writer and actress,  pernah menyatakan dalam bahasa saya: “saya tidak perduli apa yang dikatakan orang terhadap penggunaan alat kelamin saya”. Jadi, kemaluan hanyalah alat kelamin yang bisa diperlakukan apa saja tergantung pada yang memilikinya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

Categories: Opini
Comment form currently closed..