RELASI SOSIAL DEKAT TETAPI JAUH DI ERA MEDSOS
RELASI SOSIAL DEKAT TETAPI JAUH DI ERA MEDSOS
Prof. Dr. Nur Syam, MSi
Ada salah satu efek positif dari media social adalah menciptakan hubungan social yang menjadi dekat bahkan sangat dekat. Kita bisa melakukan komunikasi social kapan saja, dan di mana saja. Selama ada sinyal di handphone, maka kita dapat melakukan relasi social dengan enak dam nyaman. Media social dapat mendekatkan jarak antara sesama manusia karena tidak terhalang oleh jarak dan tempat. Dunia mampu dilipat dalam jarak dan tempat yang sedemikian factual
Pada waktu terdapat Pandemi Covid-19, maka salah satu yang menghubungkan relasi social adalah media social. Di kala terdapat kebijakan social distancing dan physical distancing, maka yang menjadi penghubung efektif adalah media social. Kita dapat bertanya kesehatan keluarga kita yang jauh, tidak hanya bermukim di Indonesia akan tetapi juga yang di luar negeri, karena media social dimaksud. Beruntunglah berkat kecanggihan teknologi imformasi, maka kita tetap bisa saling menyapa antara satu dengan lainnya.
Tidak hanya itu, para mahasiswa yang berbeda tempat juga mampu mengikuti perkuliahan dengan baik. Ada banyak mahasiswa yang menyelesaikan pendidikannya dan hanya beberapa kali datang ke kampusnya. Masih untung. Bahkan mungkin juga ada yang tidak sama sekali pernah tahu tempat kuliahnya. Perkuliahan dapat dilakukan dengan system dalam jaringan (daring) sehingga dapat mencapai kelulusan dengan sempurna. Tidak terhitung berapa jumlah mahasiswa yang dapat menyelesaikan pendidikannya dengan model pembelajaran jarak jauh karena keterbatasan program pendidikan tatap muka.
Yang saya ceritakan di atas ini adalah dampak positif dari media social. Dengan WhatsApp, Zoom, Google Meet, dan Google Class Room, dan sebagainya, maka perkuliahan atau seminar bisa dilakukan. Akan tetapi ada juga yang menurut saya bagian dari negativitas penggunaan media social, yaitu fenomena orang berada di dalam kedekatan di dalam jarak social, akan tetapi jauh fokusnya. Mereka di dalam relasi social yang berdekatan tetapi masing-masing memiliki focus berbeda dalam relasi sosialnya.
Hari Sabtu, 31/01/2026, saya pergi ke Lampung. Tentu dengan transit terlebih dahulu di Bandara Juanda. Dan seperti biasa, saya menyempatkan minum kopi, biasanya Capuchino tanpa gula, dalam waktu kira-kira satu jam. Lama juga. Sambil menunggu keberangkatan, maka saya sempatkan untuk menulis artikel. Yang saya tulis adalah artikel yang berjudul “Pendidikan Tinggi Islam Masa Depan: Pengaruh Humanoid Pada Pendidikan Islam” telah dimuat di nursyamcentre.com pada tanggal 02/02/2026.
Saya akan menceritakan tentang apa yang saya temui di lapangan terkait dengan penggunaan media social. Ada sepasang suami-isteri. Tampak dari luar seperti pejabat. Dari tampilan dan sosoknya menggambarkan bahwa mereka adalah orang berada atau kelompok happiness. Mereka minum berdua dan makan-makanan ringan. Mereka berhadapan dalam satu meja. Akan tetapi mereka sibuk dengan membaca dan membalas pesan WA. Bisa dari temannya atau relasinya. Keduanya sedemikian asyik sehingga nyaris tidak ada perkataan apapun dari keduanya.
Saya duduk di sebelahnya dengan menulis artikel di atas. Sesekali saya perhatikan. Tentu dengan mencuri-curi pandang. Nyaris satu jam dan mereka tetapi berada di dalam posisi memegang HP dan berjawab-jinawab dalam media social. Sampai suatu saat, suaminya akan ke toilet, dan kemudian pamit kepada isterinya “Ma saya ke toilet”. Dan tidak ada satu katapun dari isterinya, sebab masih asyik dengan HPnya. Jadi focus perhatian isterinya hanyalah ke HP dan bukan hal-hal di sekitarnya. Sungguh sebuah “ironi” dalam relasi social yang terjadi.
Saya lalu berpikir, sedemikan jauhnya relasi social suami-isteri padahal mereka berdua dalam suatu moment yang sama, di tempat yang sama, dan berada di dalam hubungan yang mestinya sangat dekat, suami dan isteri. Tetapi inilah fakta empirisnya, bahwa dewasa ini di tengah semakin powerfull-nya media social ternyata memiliki dampak yang nyata yaitu adanya kerenggangan atau adanya distansi social dalam relasi kehidupan rumah tangga.
Kehidupan memang mengalami perubahan seirama dengan perubahan social yang terjadi. Salah satunya adalah munculnya kerenggangan dan ketegangan social dalam relasi suami isteri. Hubungan suami isteri sebenarnya sangat dekat, akan tetapi masuknya media social di dalam relasi social suami-isteri dapat meningkatkan resiko ketegangan social dan kerenggangan social. Berdasarkan penelitian, banyak pengaruh media social atas perkawinan, misalnya yang menyebabkan gangguan dalam rumah tangga. Seseorang bisa cekcok dengan pasangannya karena media social, terutama WhatsApp. Mereka berada di dalam satu rumah bahkan satu tempat tidur akan tetapi masing-masing membuka HP-nya dengan focus yang berbeda. Isteri melihat tayangan makanan, sementara suami nonton bola. Masing-masing sibuk dengan tiktok atau youtube-nya masing-masing.
Di dalam teori uses and gratification, dinyatakan bahwa terdapat dampak teknologi informasi pada hubungan interpersonal. Berdasarkan teori “penggunaan dan kepuasan” tersebut relasi social interpersonal dapat dipengaruhi oleh bagaimana penggunaan media social dan bagaimana kepuasan yang didapatkannya.
Kita lalu bisa bertanya kepada diri kita masing-masing, apakah kita termasuk yang seperti ini. Kita berdekatan dengan orang yang paling dekat dengan kita, istri atau suami, akan tetapi ternyata kita berada di dalam ruang kehidupan yang jauh dan berbeda focus. Mari kita introspeksi.
Wallahu ‘alm bi al shawab.
