Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

SABAR (3)

SABAR (3)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim. Pada Bagian 3, Imam An Nawawi menjelaskan tentang sabar sebagai bagian penting di dalam ajaran Islam. Sabar memiliki posisi strategis di dalam Islam, yang dapat menjadi pedoman dalam perilaku social atau hubungan antar umat manusia, baik sebagai sesama umat Islam ataupun sesama umat manusia. Di dalam ajaran kesabaran, Islam sering mengkaitkannya dengan nasehat tentang kebenaran dan nasehat tentang kesabaran.

Di dalam Surat Ali Imron: 3 dinyatakan: “Wahai orang-orang yang beriman bersabarlah dan kuatkanlah kesabaranmu”. Di dalam Surat Az Zumar: 10, dinyatakan: “sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”. Ada banyak ayat Alqur’an yang menjadi background betapa besarnya pahala bagi mereka yang bersabar. Akan tetapi dua ayat ini cukuplah memberikan informasi baik bagi umat Islam bahwa kesabaran itu merupakan kunci untuk mendapatkan pahala yang besar berupa kehidupan yang berkecukupan baik di dunia maupun di akherat.

Tetapi jangan lupa bahwa Allah juga akan menguji manusia dengan ujian di dalam batas kewajaran yang manusia bisa mengatasinya. Allah tidak akan memberikan beban yang melebihi kemampuan manusia untuk menanggungnya. Allah juga berjanji akan membersamai orang yang melakukan shalat dan berperilaku kesabaran. Sabar dan sholat adalah instrument untuk menggapai kebahagiaan di dunia dan akherat. Di dalam Alqur’an, Surat Al Baqarah: 153, dinyatakan: “Sesungguhnya Allah bersama-sama orang yang sabar”.

Tentang kesabaran, Hadits Nabi Muhammad SAW menyatakan sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim: “Dari Abi Malik al Harits bin ‘Ashim al Asy’ari, Rasulullah bersabda: bersuci adalah sebagian dari iman dan bacaan alhamdulillah itu memenuhi timbangan, bacaan subhanallah dan alhamdulillah itu keduanya memenuhi apa-apa yang ada di antara langit dan bumi. Shalat adalah cahaya, sedekah adalah sebagai bukti, sabar merupakan cahaya, Alqur’an merupakan hujjah (pembela) untukmu atau hujjah (pemberat) bagimu. Setiap yang berangkat menjual dirinya, ada yang memerdekakan dirinya dan ada yang menghancurkan dirinya”.

Sabar di dalam banyak hal dikaitkan dengan cobaan, mushibah dan ujian yang diberikan oleh Allah SWT. Padahal sesungguhnya sabar itu tidak harus dikaitkan dengan tiga hal tersebut. Sabar merupakan suatu tindakan yang terkait dengan diri sendiri dan dalam relasinya dengan manusia lain dan kehidupan manusia secara umum. Sabar adalah kondisi psikhologis di dalam menerima kehidupan. Suka-duka, senang-susah, galau-tenteram, enak-tidak enak dan semua hal yang terkait dengan situasi psikhologis pada suatu saat tertentu.

Manusia tidak mampu mendesain bagaimana situasi psikhologis tersebut, sebab kejadian itu terkadang terjadi dengan tanpa perencanaan. Datang tiba-tiba atau mendadak. Adakalanya yang didesaian justru tidak berhasil dan yang tanpa desain justru memperoleh keberhasilan. Semuanya itu adalah bagian dari kehidupan manusia yang nyata adanya.  Ada sebuah pepatah di dalam Bahasa Inggris, yang menggambarkan bahwa Tuhan yang menentukan tetapi manusia harus merencanakannya. “Man proposes God disposes”. Ujung akhir ada kepastian Tuhan yang tidak diberitahukan sebelumnya.

Jika ditipologikan, saya kira ada beberapa hal terkait dengan mushibah atau kejadian. Pertama, mushibah tidak harus dimaknai sebagai peristiwa negative akan tetapi juga positif. Atau peristiwa yang tidak menyenangkan atau menyesakkan. Mushibah merupakan ungkapan generic yang merupakan kejadian yang menimpa makhluk Tuhan. Bisa manusia, bisa Jin dan makhluk hidup lainnya. Jadi mushibah merupakan istilah generic bukan hanya istilah yang khusus. Tidak hanya mushibah atau kejadian yang menyedihkan tetapi juga yang menyenangkan.

Kedua, setiap segala sesuatu ada kepastian Tuhan. Tidak ada kejadian apapun yang tidak berada di dalam catatan Tuhan. Ada dimensi kataballahu lana. Setiap mushibah ada catatannya untuk kita. Kapan kita tertawa, kapan kita menangis, kapan kita bahagia kapan kita sengsara itu semua ada catatannya di dalam kehidupan kita. Namun demikian, tugas manusia adalah berupaya untuk menemukan takdir kebaikannya. Orang yang berusaha dan jatuh bangun, belum tentu selamanya begitu. Jatuh bangun lima kali mungkin yang keenam berhasil. Maka Islam mangajarkan jangan putus asa. Terus berusaha sampai ada kepastian takdir yang mencatat kebahagiaannya.

Ketiga,  hakikat kesabaran di dalam Islam adalah untuk menjadi instrument agar manusia menerima kepastian Tuhannya. Tetapi jangan lupa ada trilogy di dalam kehidupan kita, yaitu: ikhtiar, doa dan tawakkal. Bukan tawakkal dulu baru berusaha dan berdoa. Mulailah dari ikhtiar atau usaha, baru berdoa dan hasilnya pasrah kepada kepastian Allah SWT. Semua orang yang berhasil di dalam usahanya yang sukses adalah karena usahanya yang optimal. Bukan asal bekerja. Mereka gunakan akalnya untuk menemukan peluang berusaha, bekerja sama untuk menyukseskan usaha berbasis peluang yang didapatkannya, lalu ada keberhasilan. Menguasai tidak hanya manajemen perencanaan untuk menemukan peluang yang tepat tetapi juga memahami manajemen resiko yang dapat meminimalisisasi kerugian. Jika sudah dilakukan semua, lalu berdoa dan bertawakkal kepada Tuhan.

Kesabaran itu melazimi seluruh proses dimaksud. Berusaha dengan sabar, berdoa dengan sabar dan akhirnya bertawakkal dengan penuh kesabaran. Ada kalanya kita menemukan kesuksesan dan adakalanya menemui kegagalan. Keduanya harus diupayakan berlaku sabar. Makanya Rasulullah menyatakan bahwa shalat dan sabar adalah cahaya. Kesabaran dan shalat itu menyinari seluruh amal perbuatan manusia. Jika wudhu adalah sebagian iman, ucapan alhamdulillah atau bersyukur menjadi pemberat timbangan kebaikan, bacaan subhanallah dan alhamdulillah dapat menjadi pengisi kehidupan manusia, maka sinar terangnya  adalah shalat dan sabar.

Jika digambarkan maka inti dalamnya adalah shalat dan sabar, maka lingkaran luarnya yang dapat disinari oleh keduanya adalah bersuci, bersedakah, mengucapkan subhanallah dan alhamdulillah serta bacaan Alqur’an.  Semuanya adalah bangunan sistemik yang tidak bisa dipisahkan satu dengan lainnya.

Prototipe orang yang sabar adalah Nabi Muhammad SAW. Pada waktu berdakwah di Taif, maka Nabi Muhammad SAW diusir, dilempri kotoran dan bahkan dilempari batu, tetapi di kala ditawari oleh Malaikat Jibril untuk menghancurkannya, maka Nabi Muhammad SAW justru mendoakannya agar memperoleh petunjuk Allah SWT

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

 

Categories: Opini
Comment form currently closed..