• February 2026
    M T W T F S S
    « Jan    
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    232425262728  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

SULTHAN DALAM MAKNA MELINTASI JAGAD RAYA

SULTHAN DALAM MAKNA MELINTASI JAGAD RAYA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Alqur’an merupakan kitab suci yang harus diyakini kebenarannya. Tidak boleh sedikitpun umat Islam meragukannya. Mempercayai kitab suci termasuk salah satu dari rukun iman yang berjumlah enam hal.mempercayai Allah, malaikat, kitab suci, rasul, takdir dan hari akhir. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Hadits Nabi tentang Iman, Islam dan ihsan. Rukun iman tersebut harus diyakini dengan seganap hati dan pikiran tanpa keraguan sedikitpun.

Acara tahsinan Jamaah Ngaji Bahagia atau Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) sampailah pada Surat Ar Rahman, pada ayat 33, yang artinya adalah: “Wahai golongan Jin dan manusia jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan (dari Allah)”. Ayat ini menegaskan bahwa manusia akan dapat menguasai atau menembus dan melintasi alam raya tetapi dengan kekuatan dari Allah SWT.

Coba kita perhatikan beberapa kosa kata di dalam ayat ini, yaitu “jika kamu mampu”, “menembus langit dan bumi”, diperintahkan oleh Allah “tembuslah atau lintasi” dan ada kekuatan Allah yang menyertai upaya dimaksud. “inistatha’tum”, “min aqatharis samawati wal ard”, “fanfudzu”, “illa bisulthan”. Yang arti harfiyahnya adalah “jika berkemampuan” atau pengandaian berkemampuan, menembus atau melintasi langit dan bumi, perintah untuk menembusnya atau melintasinya dan semua bisa terjadi karena kekuatan Allah SWT.

Kata sulthan dinyatakan sebagai kekuatan atau bisa juga bermakna kekuasaan. Itulah sebabnya di Nusantara dikenal istilah Sultan atau penguasa atau pemimpin. Sultan Trenggana, Sultah Hadiwijaya, Sultan Agung Hanyakrakusuma, dan sebagainya. Tidak hanya di Jawa tetapi juga dikenal di Sulawesi, seperti Sultan Hasanuddin, di Aceh seperti Sultan Malikus Saleh, dan sebagainya.

Saya mencoba untuk memahami kata “sulthan” dalam tiga kategori, yaitu: pertama,  sulthan dalam konteks ilmu pengetahuan. Kekuatan atau kekuasaan itu ada kaitannya dengan ilmu pengetahuan yang dapat dikuasai oleh manusia. Di dalam dunia ilmu pengetahuan dalam kaitannya dengan menembus atau melintasi alam raya adalah di kala manusia bisa menjejakkan kakinya di bulan.

Pesawat Antariksa Apollo 11 yang diproduksi oleh Amerika Serikat dapat mencapai bulan dalam rangka penyelidikan atas bulan sebagai salah satelit alam  di luar bumi yang bisa dikaji. Pesawat Antariksa Apollo diterbangkan ke bulan pada  16-24 Juli 1968. Setelah itu lalu berulang kali Amerika dan Uni Soviet menerbangkan Pesawat Antariksa ke planet yang dekat dengan bumi, misalnya Mars. Manusia dengan kemampuan ilmu pengetahuan yang dikuasainya dapat mencapai planet lain yang di masa sebelumnya dirasakan tidak mampu dilakukannya.

Sebenarnya banyak sarjana Muslim yang mengkaji mengenai astronomi, seperti bulan dan planet-planet lain berdasarkan pemikiran empiris rasional atau bisa juga menggunakan pemikiran intuitif. Misalnya Al Biruni yang mengkaji tentang keliling bumi, atau Al Battani yang mengkaji tentang katalog Bintang dan lain-lain. Peredaran matahari atau bulan mengelilingi bumi dan planet-planet lain sudah dikaji secara ilmiah oleh para ahli. Namun secara empiric baru dilakukan eksperimennya melalui temuan pesawat Antariksa yang dapat menembus di luar orbit bumi.

Kedua, sulthan dalam arti menembus atau melintasi alam raya dengan ilmu spiritual atau kekuatan ilmu yang dikaruniai oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Tentu saja ada manusia yang memiliki kekuatan atau kekuasaan untuk memahami alam raya dengan mata batinnya. Dengan kekuatan indra keenam, manusia dapat menembus waktu atau tempat dengan mata ilmu batiniyahnya. Di dalam Islam disebut sebagai ilmu laduni atau ilmu yang didapat dari Allah secara langsung tanpa melalui pembelajaran secara konvensional . Yaitu ilmu yang didapatkan dari karunia Allah kepada hambanya yang memenuhi persyaratan untuk memperolehnya. Ada riyadhah yang dilakukannya agar bisa sampai kepada tahapan ini. Dengan kekuatan batinnya, ada seseorang yang bisa menabak masa depan dengan ketepatan yang akurat. Orang bisa membaca masa lalu dengan akurasi yang memadai. Ada orang yang bisa berjalan di atas air, atau mampu menembus api yang panas atau mampu melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang awam. Bisa disebut sebagai ilmu kasyaf atau ilmu hikmah atau ilmu karamah. Jika Nabi disebut sebagai mu’jizat dan jika kekasih Allah, misalnya para waliyullah disebut sebagai karamah atau keutamaan atau kemulyaan.

Ketiga, orang yang mampu menembus alam lain. Ada alam kasunyatan atau alam dunia dan alam gaib. Alam kasunyatan dihuni oleh manusia dan benda-benda lain yang bersifat fisikal, dan ada alam gaib yang dihuni oleh makhluk Allah yang gaib misalnya jin atau makhluk gaib lainnya. Allah bisa memberikan ilmu kepada hambanya yang berusaha dengan segenap upayanya untuk bisa masuk ke dalam alam gaib. Bisa berkomunikasi dan bahkan bisa hidup dalam dua alam sekaligus. Orang awam seperti kita tentu saja tidak mampu untuk memasuki alam lain, karena kita tidak memiliki kemampuan untuk memahaminya.

Allah itu maha kasih dan sayang, maha Rahman dan Rahim, sehingga Allah akan dapat memberikan kemampuan yang luar biasa kepada hambanya yang memang bisa melakukannya. Bagi kita yang penting, percaya saja bahwa ada kekuatan yang bisa diberikan Allah kepada hambanya. Tetapi yang sangat penting adalah meyakini atas rukun iman.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

 

Categories: Opini
Comment form currently closed..