• January 2026
    M T W T F S S
    « Dec    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

TUHAN YANG MENCIPTA DAN MEMELIHARA

TUHAN YANG MENCIPTA DAN MEMELIHARA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Di dalam pembahasan tentang Tuhan, maka ada beberapa pandangan, yaitu Politheisme atau Tuhan itu banyak, ada Pantheisme atau Tuhan ada pada semua benda di dunia, ada Deisme atau Tuhan mencipta tetapi lepas tangan, ada Atheisme atau tanpa Tuhan dan ada Theisme atau Tuhan yang mencipta dan memelihara.

Saya akan membahas tentang Tuhan yang mencipta dan memelihara atau disebut sebagai Theisme, yaitu suatu pandangan bahwa Tuhan tidak hanya menciptakan alam dan seisinya  akan tetapi juga memelihara alam dan seisinya. Tuhan itu pengetahuan tertinggi tanpa ada yang menyaingi dan penguasa tertinggi tanpa ada yang menyaingi. Tuhan itu omniscience dan omnipotence atau Maha Mengetahui dan Maha Kuasa.

Di dalam Islam terdapat doktrin teologi uluhiyah dan teologi rububiyyah. Teologi uluhiyyah terkait dengan yang Maha  Tunggal  dalam peribadahan dan teologi rububiyyah terkait dengan Tuhan sebagai pencipta dan pemelihara. Inilah yang dapat dinyatakan sebagai pemahaman theisme. Tuhan tidak hanya menciptakan akan tetapi juga memelihara alam. Artinya Tuhan tidak istirahat setelah menciptakan alam dan seisinya, akan tetapi masih aktif dalam proses pemeliharaan alam.

Islam tidak memisahkan keduanya. Tuhan Yang Uluhiyyah dan Yang Rububiyyah. Keduanya menjadi kata kunci di dalam kayakinan umat Islam, sebagaimana ajaran Islam yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Tauhid Uluhiyyah sebagaimana di dalam Alqur’an dinyatakan: “wa ma khalaqtul jinna wal insa illah liya’budun”,  yang artinya: “dan tidak diciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah”. Ini yang dapat dikaitkan dengan konsep uluhiyyah atau Tuhan sebagai sesembahan Tunggal yang tidak disyarikatkan dengan apapun. Sebagai orang Mu’min tentu harus meyakini dengan sepenuh hatinya tentang keesaan Tuhan ini. Di dalam Alqur’an dinyatakan: “La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadh dhalimin”.  Yang artinya: “tidak ada Tuhan kecuali Engkau, maha Suci Engkau sesungguhnya aku termasuk orang yang dhalim”. Ini merupakan doa yang dilantunkan oleh Nabi Yunus AS yang meninggalkan umatnya dan di dalam perut ikan Nabi Yunus berdoa kepada Allah dan kemudian diselamatkan. Tauhid uluhiyyah meminta kepada manusia untuk pasrah sepenuhnya hanya kepada Allah saja kita menyembah. Tidak ada yang lain.

Tauhid rububiyyah terkait dengan tauhid penciptaan dan pemeliharaan alam. Alqur’an menjelaskan tentang hal ini. Di dalam Surat Alfatihah dijelaskan tentang Tuhan Yang mencipta dan memelihara alam, Tuhan yang Maha Rahman dan Rahim, Tuhan Yang memiliki seluruh alam dan Tuhan yang menjadi tempat utuh untuk beribadah dan memohon segalanya.  “Alhamdulillahi rabbil alamin, ar Rahmanir Rahim, maliki yaumid din”. Yang artinya: “segala puji bagi Allah yang menciptakan dan memelihara alam, yang Maha Rahman dan Rahim, yang memiliki hari akhir”.

Nabi Ibrahim AS sebagai Bapak Agama Monoteisme telah mengajarkan akan keesaan Allah. Nabi Ibrahim yang mendekonstruksi atas keyakinan manusia akan Tuhan yang disimbolkan dengan patung-patung. Misalnya ada patung Al Lata, Al Uzza dan Al Manat. Tuhan dilambangkan dengan patung ayah, ibu dan anak. Penafsiran atas Tuhan ini bisa jadi masuk akal pada zamannya, di kala manusia ingin mengekspresikan Tuhan dalam bahasa yang dengan mudah diterima oleh manusia kala itu. Mereka memberi sesaji dan segalanya atas lambang Tuhan. Baginya dengan memberikan sesaji kepada benda-benda tersebut, maka Tuhan akan menyenanginya.

Jarak antara Nabi Ibrahim dengan penguasa penduduk Mekkah dan masyarakatnya menyebabkab terjadinya bias tafsir. Jika menggunakan kalkulasi sederhana bahwa Nabi Adam hidup 10.000 tahun sebelum Masehi, kemudian Nabi Sholeh kira-kira 5.000 tahun sebelum masehi, maka Nabi Ibrahim kira-kira 2.050 tahun sebelum Masehi. Jarak antara kehadiran Nabi Muhammad SAW dengan Nabi Ibrahim kira-kira 1.400 tahun, maka sangat memungkinkan terjadinya  bias atas tafsir agama yang hanif atau agama monoteisme sebagaimana yang diperintahkan oleh Nabi Ibrahim.

Agama Yahudi juga sudah mengalami bias tafsir, demikian pula Agama Nasrani juga mengalami bias tafsir. Memang masih didapatkan teks-teks asli di dalam agama-agama dimaksud, akan tetapi penafsiran yang melenceng dari teksnya tentu bisa saja terjadi. Tuhan yang semula Maha Esa, lalu digambarkan dengan patung-patung yang menggambarkan relasi Bapak, Ibu dan anak. Al Lata, Al Uzza dan Al Manat. Juga terdapat tafsir perihal  Tuhan Bapak, Tuhan Anak dan Ruh Kudus. Di dalam Yahudi juga ada keyakinan bahwa Orang Yahudi adalah anak-anak Tuhan. Sebagaimana keyakinan Uzair Ibn Allah. Tuhan di dalam Agama Yahudi disebut sebagai Yahweh.

Islam adalah agama yang menekankan pada monoteisme ketat. Orang yang menyekutukan Tuhan disebut sebagai Orang Musyrik yang menyekutukan Tuhan. Keyakinan rububiyyah dan uluhiyyah tidak berarti menduakan Tuhan, akan tetapi merupakan sifat yang terkait dengan sifat Tuhan,  Yang Maha Pencipta dan Memelihara dan Yang Maha Tunggal dalam peribadahan. Konsep ini berbeda dengan konsep Trimurti yang melambangkan Tuhan Brahma atau pencipta, Wishnu sebagai Tuhan pemelihara dan Syiwa Tuhan yang menghancurkan, meskipun hakikatnya Tuhan dengan ketiga symbol tersebut adalah Tuhan yang Esa. Demikian pula di dalam Trinitas, juga didapatkan Tuhan Bapa, Tuhan Anak dan Ruh Kudus, meskipun dengan tiga perlambangan akan tetapi hakikatnya Tuhan itu Esa.

Para ahli ilmu kalam, menafsirkan bahwa Tuhan memiliki sifat sebagaimana dijelaskan di dalam Alqur’an. Ada yang menyatakan bahwa sifat Tuhan itu ada 20, sebagaimana pandangan Imam Asy’ari,  dan sifat Tuhan itu ada 13, sebagaimana pandangan Imam Al Maturidi. Sekali lagi ini hanya tafsir dan bukan realitas Ketuhanan yang Maha Tak Terhingga. Manusia tidak akan mampu menafsirkan Yang Tak Terhingga tersebut menjadi Terhingga. Allah itu tidak terbilang dan tidak bisa dikuantifikasi.

Tuhan tidak mampu dijelaskan dengan rasio. Sejauh-jauhnya manusia hanya mampu membuat hipotesis bahwa dibalik alam yang teratur dipastikan Ada Akal Agung yang menciptakannya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

Categories: Opini
Comment form currently closed..