YAKIN DAN TAWAKKAL (7)
YAKIN DAN TAWAKKAL (7)
Prof. Dr. Nur Syam, MSi
Bismillahir Rahmanir Rahim. Di dalam Islam keyakinan akan adanya Allah sebagai Pencipta dan Pemelihara alam secara keseluruhan, Tuhan sebagai Ilah dan Rabb, merupakan pangkal dari kepemelukan atas agama. Tanpa adanya keyakinan akan ketuhanan, maka dipastikan tidak ada yang disebut sebagai agama. Manusia harus menyaksikan dengan seluruh pikiran dan hatinya bahwa Allah itu eksis di dalam kehidupan alam seluruhnya. Selain itu agama juga berkaitan dengan keyakinan tentang kerasulan Muhammad SAW. Syahadat adalah pokok utama dalam Islam.
Menurut Syekh Imam An Nawawi di dalam Kitab Riyadhus Shalihin, maka iman ada kaitannya dengan tawakkal. Bahkan dinyatakan bahwa Iman adalah pangkal ketaqwaan. Takwa adalah buah dari iman. Yakin dan tawakkal adalah dua kata yang saling terkait. Iman hadir untuk menjadi basis bagi ketawakalan dan tawakkal hadir untuk semakin memperkuat iman. Tidak ada tawakal tanpa iman. Bahkan iman itulah yang menggerakkan seluruh amal ibadah manusia kepada Allah SWT.
Di dalam Alqur’an banyak dijelaskan tentang iman dan tawakal. Di dalam Surat Al Furqan: 58, dinyatakan: “Dan bertawakallah kepada Allah yang hidup (kekal) yang tidak mati”. Kemudian di surat lain, Ibrahim: 11, dinyatakan: “Dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang mukmin bertawakal”. Lalu di dalam Surat Ali Imran: 159, dinyatakan: “…kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya”. Serta ayat lain, Surat At Thalaq: 3, dijelaskan: “dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah akan mencukupkan (keperluannya)”.
Ayat-ayat Alqur’an tersebut memberikan gambaran nyata tentang betapa manusia harus tawakal atau berserah diri kepada Allah. Tidak ada yang patut untuk menjadi tempat berserah diri kecuali Allah SWT. Orang yang beriman adalah orang yang dipastikan akan mempercayai apa yang ditakdirkan Tuhan, apa yang sebaiknya dilakukan oleh Tuhan kepada dirinya. Ada barang sesuatu yang menurut kita baik, terkadang tidak baik menurut Allah SWT. Dan kita baru tahu jika sesuatu telah terjadi. Bisa saja kita menyesal karena terlambat naik pesawat, tetapi kita baru tahu kalau terjadi sesuatu dengan pesawat tersebut. Tuhan lebih tahu mana yang terbaik untuk kita. Begitulah adanya.
Di antara banyak hadits yang dituliskan oleh Syekh Imam An Nawawi, saya akan membahas dua hadits saja yang mendasar dalam kaitannya dengan keyakinan dan ketawakalan kepada Allah SWT. Di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam At Tirmidzi, sebagaimana diceritakan oleh Umar, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “andaikan kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya dia akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana dia memberikan rezeki kepada burung. Keluar pada pagi hari dengan perut kosong dan kembali sore hari dengan perut kenyang”.
Hadits lain juga menjelaskan sebagaimana sabda Rasulullah SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Ummul Mu’minin Ummu Salamah sebagaimana diriwayatkan oleh Imam At Tirmidzi dan Imam Abu Dawud, dinyatakan: “Nabi SAW apabila keluar dari rumahnya, Beliau berdoa dengan menyebut nama Allah, saya bertawakal kepada Allah. Ya Allah sesungguhnya saya memohon perlindungan kepada-Mu jangan sampai aku menyesatkan atau yang disesatkan, tergelincir atau digelincirkan, menganiaya atau dianiaya, berbuat bodoh atau diperlakukan bodoh”.
Dari ayat-ayat Alqur’an dan hadits- hadits ini, ada beberapa pelajaran yang dapat dipahami, yaitu:
Pertama, manusia harus selalu memohon pertolongan kepada Allah SWT. Allah adalah penolong terbaik untuk kehidupan manusia. Diceritakan di dalam hadits lain, bahwa Rasulullah sedang beristirahat di bawah pohon dengan pedang ditaruh di dahannya. Lalu datanglah seorang Badui yang menjadi musuhnya. Maka orang itu dengan pedang terhunus menyatakan siapa yang akan menolongmu, maka Rasulullah SWT menyatakan Allah SWT yang akan menolongnya sampai tiga kali Rasul menyatakannya. Maka orang itu ternyata tidak berbuat apa-apa.
Kedua, kepasrahan tiada taranya. Kepasrahan total. Full tawakkal. Jika manusia pasrah kepada Allah pasti akan ada pertolongan. Allah tidak akan membiarkan hambanya berada di dalam kesulitan yang tidak mampu diatasinya. Allah menyatakan: “hasbunallahu wa ni’mal wakil ni’mal maula wa ni’man nashir”. Di dalam ayat lain dinyatakan: “huwa maulana wa ‘alallahi fal yatawakkalil mu’minun”. Ini merupakan doa kepasrahan kepada Allah SWT. Doa yang layak untuk dibacakan oleh umat Islam.
Ketiga, tawakal tidak berarti diam. Tetapi tawakal itu dinamis. Penuh usaha. Sebagaimana burung pagi perutnya kosong lalu berkelana mencari rezekinya Allah SWT yang bertebaran di alam dan dengan usaha tersebut maka sore hari burung itu penuh perutnya. Perhatikan bagaimana burung merawat anaknya. Burung itu terbang jauh untuk menemukan makanan yang cocok untuk anaknya, dan jika sudah didapatkannya maka burung itu kembali ke sarangnya untuk memberi makan anaknya. Demikianlah seterusnya.
Keempat, tawakal itu berusaha dan berdoa. Allah dipastikan akan memberikan rezeki kepada makhluknya, tanpa ada kata tidak. Semuanya dipastikan ada rezekinya. Ada cadangan makanannya. Dikisahkan ada seorang yang tidak bisa bergerak ke mana-mana karena tangan dan kakinya tiada. Maka Allah itu memberi makanan melalui makhluk lain yang diberikan kepadanya. Ada instrument yang digunakan oleh Allah untuk hambanya. Bagi yang berkecukupan fisiknya, maka harus menggunakan tangan dan kakinya, otak dan hatinya, untuk menemukan makanan yang menjadi rezekinya. Allah SWT tidak menurunkan emas dan perak ke bumi tetapi perak dan emas itu harus diupayakan keberadaannya.
Kelima, Rasulullah yang utusan Allah dan ma’shum atau nirdosa saja selalu berdoa kepada Allah agar dirinya tidak menyesatkan, tidak mendurhakai dan tidak membodohi atau menggelincirkan manusia ke dalam kesesatan. Rasulullah memohon kepada Allah SWT agar bisa melakukan perbuatan yang terbaik untuk umatnya. Bagaimana dengan kita?
Wallahu a’lam bi al shawab.
